Showing posts with label Budidaya. Show all posts
Showing posts with label Budidaya. Show all posts

Saturday, 4 March 2017

Budidaya Tanaman Mentimun


Mentimun (Cucumis sativus L.) adalah sayuran paling mudah diolah. Tidak perlu dimasak atau ditumis, cukup dicuci atau dikupas, dimakan mentah pun jadi. Sayuran ini sangat mudah berdaptasi asal dirawat dengan baik.

Syarat Pertumbuhan
Iklim
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 – 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 – 1.200 mdpl.
Media Tanam
Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.

Pembibitan
Mentimun biasa ditanam dari biji.

(images)

Biji Mentimun

Rendam benih/biji dalam larutan Pupuk Organik Cair dan air hangat (2cc/l) selama 30 menit. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polybag sedalam 0,5-1 cm. Siramkan air dalam polybag, lalu masukkan biji mentimun 1 atau 2 butir ke dalam lubang kecil yang kita buat. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.

Penanaman
Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan. Berikan kalsit/dolomit jika pH tanah terlalu asam atau basa. Siapkan lahan dan campurkan dengan pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu. Keluarkan bibit bersama medianya dari polybag. Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.

Pemeliharaan
Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik. Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan). Mentimun termasuk tanaman merambat. Setelah batangnya mulai setinggi 15 cm, mulailah menancapkan tiang rambatan di dalam pot. Pakai saja bambu kecil atau ranting kayu yang diambil dari pohon di sekitar kalian. Pemasangan ajir bisa dilakukan pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.

(images)

Tunas Mentimun

Tahukah kalian, karena bunga mentimun itu menyerupai terompet yang pendek, lebah-lebah biasanya memasukkan tubuhnya hingga ke dalam bunga. Simbiosis mutualisme pun terjadi. Ketika lebah mengambil sari bunga mentimun, si bunga mendapatkan bantuan untuk menyerbuki putik. Itulah yang menyebabkannya berbuah.

(images)

Bunga Mentimun

Mentimun yang Mulai merambat dan berbunga

Pengairan
Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.

Pemupukan
Pemakaian pupuk Mikro (pupuk organik) + pupuk Makro (pupuk kimia) secara berimbang sangat penting, sebagai syarat tumbuh tanaman supaya tetap bisa bertahan berbuah di luar musim sepanjang tahun. Ibaratnya, tanaman juga perlu makan Nasi (pupuk Makro) + makan lauk pauk, sayuran, ikan (pupuk mikro) supaya sehat sempurna.

(images)

Mentimun suka dengan sinar matahari langsung. Di ruang terbuka mentimun bebas menyerap sinar matahari, batangnya tidak menjadi busuk dan tumbuhan bisa melakukan fotosintesis dengan baik.










Mentimun mulai berbuah


Tuesday, 28 February 2017

Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi


Seperti kita ketahui tanaman padi saat musim kemarau sangat rentan terhadap serangan hama penggerek batang. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang mendukung untuk berkembangnya populasi hama penggerek batang ini. Perkembangan hama penggerek batang ini akan semakin pesat ketika didukung oleh cuaca yang panas dan kondisi air yang tergenang.
Kalau kita perhatikan sebenarnya serangan hama penggerek batang ini sudah mulai saat tanaman padi berada di pesemaian. Tetapi saat di pesemaian belum menunjukkan gejala yang jelas sehingga petani kurang waspada terhadap hama tersebut.

Telur, larva dan pupa yang berada dipesemaian akan terbawa ke pertanaman padi dan akan menunjukkan gejala ambles/tanaman mati/tanaman hilang saat tanaman umur 15-30 hari. Hal ini dicirikan dengan tanaman padi yang busuk dan mati, anakan semakin sedikit, bahkan tanaman padi bisa hilang ketika umur muda. Saat tanaman padi umur 30- 45 gejala ditunjukkan dengan menguningnya daun muda tanaman padi (kadang layu/menggulung) dan mudah dicabut (sundep). Gejala ini akan berlanjut ketika tanaman memasuki vase generatif dengan gejala adanya malai tanaman padi yang tegak dan mudah dicabut karena bulirnya tidak berisi (beluk).

Ada beberapa cara Pengendalian Hama Penggerek Batang Secara Terpadu yang dilakukan Pada Daerah Serangan Endemik
1) Pengaturan Pola Tanam
* Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi
* Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama
* Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertamaü dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya.

2) Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik
* Mekanik yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur di persemaian dan di pertanaman
* Fisik yaitu dengan penyabutan tanaman serendah mungkin dan penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati

3) Pengendalian Hayati
Pemanfaatan musuh alami parasitoid : Trichogramma japonicum: dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman)

4) Pengendalian Secara Kimiawi
* Dilakukan pada saat 4 hari setelah ada penerbangan ngengat atau intensitas serangan rata-rata > 5% sundep.
* Insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam dengan dosis 2 gram insektisida granule/m2 [800 gram/400 m2 (luas persemaian)]
* Pada pertanaman stadium vegetatif dianjurkan menggunakan insektisida butiran berbahan aktif : Carbofurant (Sidafur 3GR) dosis 20 kg insektisida granule/ha
* Disemprot dengan insektisida berbahan aktif seperti Dimehipo (Sidatan), Amitraz (Mitac), Fipronil (Fipros).

Adapun cara pengendalian terhadap hama penggerek batang ini bisa dilakukan pada saat persemaian. Karena serangan hama penggerek batang ini dimulai sejak di persemaian maka kita pun dalam mengendalikan hama ini harus dimulai dari pesemaian. Memang cara ini instan dan sedikit bertentangan dengan konsep Pengendalian Hama secara Terpadu, tapi apa boleh buat. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah:
1. Gunakan benih padi yang tahan terhadap serangan hama ini (misal: cipunegara, cisokan, situbagendit dan IR 64)
2. Penerapan kultur tehnis (tanam serentak) jerami dipotong pendek atau dibakar, pemberian N yang tidak berlebihan, pergiliran tanaman, membenamkan tunggak.
3. Aplikasi insektisida seedtreatmen pada benih sebelum tanam (merendam benih dengan regent, cruiser dll)
4. Saat persemaian umur 5 hari aplikasikan insektisida granule (regent G atau furadan)
5. Ketika pesemaian berumur 18 hari dan siap tanam semprot dengan insektisida (spontan, regent, virtako, dll)
6. Saat aplikasi pemupukan dasar/pertama campur dengan insektisida granule sesuai dengan dosis rekomendasi. Disarankan pakai regent atau wingran saja karena lebih ramah lingkungan.
7. Ketika tanaman padi berumur 20 dan 40 hst semprot dengan insektisida pengendali hama penggerek batang (spontan, virtako, regent, panser, trisula dll)
Dengan menggabungkan cara pengendalian tersebut diharapkan akan mempersempit ruang hidup bagi hama penggerek batang pada tanaman padi kita. Yang perlu diperhatikan adalah dalam menggunakan insektisida hendaknya yang selektif, gunakan insektisida yang benar-benar direkomendasikan untuk mengendalikan hama penggerek batang pada tanaman padi. Selain itu dalam menggunakannya juga harus sesuai dengan dosis dan konsentrasi anjuran.


Writed by Baranur

Sumber:
http://baranur-agriscience.blogspot.com

Saturday, 25 February 2017

Pengendalian HPT Tanaman Pangan (Bagian 3 dari 5)


Pengendalian HPT Padi Sawah

Hama pada tanaman padi sangat beragam, disamping faktor lingkungan (curah hujan. suhu dan musim) yang sangat mempengaruhi terhadap produksi padi. Sebagai praktisi di hidang hama dan penyakit tanaman. kita dapat memainkan peran dengan memberikan gambaran dan penyuluhan tentang hama-hama pada tanaman padi.

Hama-hama tanaman padi menurut Kartasapoetra (1993) terdiri dari :

1. Hama Sundep/ Beluk (Scirpophaga innotata)
Hama endemis ini berkembang dari dari pantai hingga daerah pedalaman dengan ketinggian 200 meter diatas pemukaan laut dengan curah hujan (kurang dari 200 mm).

2. Ulat Penggerek (Scahunobius bipunctifer)
Gangguan dan kerusakan pada tanaman padi di daerah pegunungan, daya pengrusakannya tertuju pada bagian-bagian pucuk tanamaan sehingga mematikan tanaman padi.

3. Hama Putih (Nymphula depunctalis)
Menyerang dan bergelantungan pada daun padi sehingga berwarna keputih-putihan, bersifat semi aquatil (menggantungkan hidup pada air untuk bernafas).

4. Wereng Coklat (Nilapervata Lugens)
Hama ini selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir-bulir buah muda yang lunak, dapat meloncat tinggi dan tidak terarah, berwarna coklat, berukuran 3-5 mm, habitat ditempat lembab, gelap dan teduh.

Gejala serangan: menyerang mulai persemaian sampai panen, mengakibatkan layu pada daun dan mengering, menggunakan gulma sebagai tempat berlindung, dan sebagai vektor virus.


5. Wereng Hijau (Nephotettix apicalis)
Merusak kelopak-kelopak dan urat-urat daun padi dengan alat penghisap pada moncong yang kuat.

6. Walang Sangit (Leptocorixa acuta)
Binatang ini berbau, hidup bersembunyi direrumputan, tuton, paspalum, alang-alang sehingga berinvasi pada tanaman padi muda ketika bunting, berhunga atau berbuah.

7. Lembing Hijau (Nezara viridula)
Berkembang pada iklim tropis, hidupnya berkoloni, betina berukuran kecil (16 mm) dengan 1100 telur selama hidupnya, lama penetasan 6-8 minggu, jantan berumur 6 bulan. Serangannya tidak sampai menghampakan padi, tetapi menghasilkan padi berkualitas jelek (goresan-goresan membujur pada kulit gabah dan pecah apabila dilakukan penggilingan/penumbukkan). Pembasmian hama dilakukan menggunakan insektisida sesuai aturan (Tjoe Tjien Mo,1953).

8. Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
Berkembang di daerah persawahan di Negara RRC, India dan Asia Tenggara. Menyerang tanaman padi yang penanamannya terlambat. Menempatkan telur-telumya pada kelopak daun padi, larva-larva bergerak menuju dan memasuki batang-batang padi, daun-daun membantuk kelongsong sehingga padi mati. Pembasmiannya dilakukan mengurangi pengairan di sawah (padi jangan sampai terendam), menggunakan lampu petromaks, pembinasaan dan penyemprotan insektisida dengan dosis tepat secara teratur (Tjoe Tjien Mo,1953).

Selain hama yang telah disebutkan, Tikus dan Burung merupakan hama yang bisa menyebabkan kerugian dan menurunnya produksi hasil budidaya Tanaman Padi.

Writed by Baranur

Sumber:
Tjoe Tj len Mo. 1953. Memberantas Hama Padi. Jakarta.


Wednesday, 22 February 2017

Kebutuhan Benih Padi dan Ciri Benih Padi Bermutu


Dalam proses budidaya tanaman Padi, benih merupakan salah satu hal pokok yang harus dipersiapkan. Benih padi yang biasa digunakan oleh para pembudidaya ada 3 macam, yaitu Hibrida, Unggul, dan Lokal.

Kebutuhan Benih Padi Unggul dan Lokal
Untuk memudahkan perhitungan, pemerintah telah membuat anjuran atau rekomendasi dalam pelaksanaan budidaya dengan menggunakan jenis benih Unggul dan Lokal, bahwa untuk 1 ha lahan diperlukan sekitar 25 kg benih. Mengapa angka 25 kg jadi patokan? akan di uraikan atau di jelaskan dibawah ini

Dalam 1 ha itu artinya luasan 10.000 m2. Atau untuk mudahnya 1 ha itu 100 m x 100 m
100 m = 10,000 cm

Bila jarak tanam 25 x 25 cm, jumlah tancep/rumpun dalam 1 ha =
=> 10.000 cm/25cm x 10.000 cm/25cm =
=>        400               x        400               =
=>  160.000 tancep

Kalau dalam 1 tancep ada 3 bibit saja maka jumlah rumpun ada 3 x 160.000 = 480.000 bibit
Kemudian, kita menghitung jumlah 1000 butir padi dalam gram. Biasanya, dijadikan patokan 1000 butir adalah 27 gram.

Maka : 27/ 1000 x 480.000 = 12.960 g atau 12,96 kg atau kita bulatkan jadi 13 kg
Kok sedikit? bukannya rekomendasinya 25 kg?, itu baru perhitungan jumlah bibit (benih) yang ada di sawah.

Bila dalam 25 kg itu, daya tumbuhnhnya 90 % saja maka ada 10 % yang tak tumbuh. Itu artinya ada 2,5 kg yang tak tumbuh. Belum lagi, ada hama seperti Serangga, tikus, burung, keong dll serta penyakit tanaman yang harus kita perhitungkan maka bisa 3,5 kg habis dimakan mereka. Jadi total yang hilang 2,5 + 3,5 kg = 6 kg.

Artinya bila petani menanam dengan jarak tanam 25 x 25 cm dalam 1 ha (25 kg) itu ada sisa benih
= 25 kg – (13 + 6) kg = 6 kg

Bila jarak tanam 20 x 25 cm,
Jumlah tancep/rumpun dalam 1 ha =
=> 10.000 cm/20cm x 10.000 cm/25cm =
=>        500               x        400               =
=> 200.000 tancep

Kalau dalam 1 tancep ada 3 bibit saja maka jumlah rumpun ada 3 x 200.000 =600.000 bibit
Kemudian, kita menghitung jumlah 1000 butir padi dalam gram. Biasanya, dijadikan patokan 1000 butir adalah 27 gram.

Maka: 27/ 1000 x 600.000 = 16.200 g atau 16,2 kg

Jumlah benih lebih banyak. itu baru perhitungan jumlah bibit (benih) yang ada di sawah.
Bila dalam 25 kg itu, daya tumbuhnhya 90 % saja maka ada 10 % yanga tak tumbuh. Itu artinya ada 2,5 kg yang tak tumbuh. Belum lagi, ada hama seperti tikus, burung, keong dll kita perhitungkan maka bisa 3,5 kg habis dimakan mereka. Total yang hilang 6 kg.

Artinya bila petani menanam dengan jarak tanam 20 x 25 cm dalam 1 ha (25 kg) itu ada sisa benih
= 25 kg – (16,2 + 6) kg = 2,8 kg ( jarak tanam ini yang mendekati rekomendasi dari kementan )

Kebutuhan Benih Padi Hibrida
Metode pembenihan Benih Padi Hibrida sedikit berbeda dengan pembenihan menggunakan Benih Padi Unggul dan Lokal. Bahkan dalam budidaya Padi dengan menggunakan Padi Hibrida ada beberapa jenis Padi Hibrida hanya menggunakan  2-5 Kg Benih padi per Ha. (bersambung)

Ciri Benih Padi Bermutu
Padi disebut benih bila masih dalam bentuk gabah, sedangkan bibit adalah gabah yang telah tumbuh, bisa di areal persemaian atau di tempat lainnya seperti di tanam di besek, di ember dll.

Jadi untuk Benih bermutu di sini, kita melihat dari segi gabahnya. Jadi Ciri-ciri benih bermutu adalah:
1. Benih tersebut diketahui varietasnya dan bersertifikat atau berlabel.
2. Tingkat kemurniannya mencapai 98%.
3. Daya tumbuhnya di atas 80%.
4. Bernas dan seragam.
5. Potensi hasilnya tinggi.
6. Sehat artinya bebas dari infeksi jamur dan bersih dari hama . dll

Sehingga apabila benih bermutu tersebut ditanam akan menghasilkan bibit bermutu dengan ciri-ciri sebagai berikut:
• Pertumbuhan bebit seragam.
• Menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak.
• Ketika bibit dipindah, tumbuh lebih cepat, kokoh dan menghijau
• Tahan hama dan penyaakit
• Produktivitas tinggi, sehingga meningkatkan pendapatan petani.
• dll

Tuesday, 21 February 2017

Pertanian Organik sebagai Metode Bertani Masa Depan (bagian 3 dari 3)


Penutup
Teknik Budidaya Organik merupakan bagian dari kegiatan agribisnis harus berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu, teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.

Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen. Berbagai sayuran khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel. (Daucus carota). Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup tinggi, juga mengandung antioksidan yang dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yang ditanam pada saat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau dan pengalih hama.

Ada juga tanaman lain yang ditanam untuk tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas. Dalam upaya penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi secara perlahan. Untuk memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli selalu diberi pupuk kandang ayam dengan dosis 20 ton/ha.

Pada saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di USA, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan hal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi sektor ekonomi (Wood, Chaves dan Comis, 2002).

Dalam era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini Australia telah mengambil peluang ini dengan mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi dan sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).

Peluang Indonesia menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki 20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yang sangat beragam, ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya untuk pertanian organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yang saling sinergis untuk menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen organik terkemukaIndonesia yang beriklim tropis, merupakan modal SDA yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun.

Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi. Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit tumbuhan.
Seperti diketahui, terdapat sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar.

Cara-cara lain dalam pengendalian OPT selain pestisida sintetik, pestisida biologi dan botani antara lain yaitu cara pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.

Masih banyak bentuk kearifan lokal yang bisa digali kembali di Indonesia dalam rangka bertani selaras alam atau ramah lingkungan. Secara empiris bahkan tanpa pupuk anorganik pun produksi bisa tetap tinggi. Jika tingkat standar produksi nasional dengan pupuk anorganik sekitar 4,5 – 5 ton/ ha, dengan sistim pertanian organik walau lahan tsb dikelilingi lahan ber-anorganik bisa dicapai tingkat produksi 9-10 ton/ha. Kekurang unsur N dan P dapat diatasi dengan cara memberikan 2 tahap pemupukan (sebelum dan setelah tanam).  Bahkan dalam uji coba skala ubinan 2,5 x 2,5 meter dgn sistim “Tanam padi sabatang” di Sumbar dgn pola PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dan OST (Organic Soil Treatment) yg benar bisa dicapai tingkat produksi 15 ton/ha  Satu rumpun padi dengan pola konvensionalo 25-30 batang/rumpun, dengan sistim organik bisa berjumlah 150-170 batang padi produktif. Kita harus punya motto: “Jika kita bisa memulihkan kembali tanah yang subur seperti dahulu, kenapa tidak dilakukan dari sekarang. Sehingga, bumi pun akan bernafas lebih lega.”

Writed & Edited by Baranur

Pertanian Organik sebagai Metode Bertani Masa Depan (bagian 2 dari 3)


Pembahasan
Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.

Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).

Sistem Pertanian Organik sejak tahun 1990, mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya.

Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yang berkembang pesat sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.

Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993).
Pengembangan pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam Prihandarini, 1997).

Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, tebon, dan sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis) sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.


Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.

Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan mikroorganisme.

Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Industri pupuk organik saat ini mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan.

Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.

Beberapa hasil penelitian di daerah Pati-Jawa Tengah, Pesawaran-Lampung, Magetan, Banyumas, dan beberapa daerah lain menunjukkan penggunaan pupuk organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yang dihemat mencapai Rp. 500.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen.

Keuntungan yang diperoleh petani kedelai naik rata-rata Rp. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998). Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan.

Pengujian terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56 persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi. Dengan adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.

Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel dan kentang berturut-turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha. Selanjutnya survey yang dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8 pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 % adalah sayuran impor (Rizky, 2002).

Pasar swalayan di Indonesia pada saat ini umumnya lebih suka menjual sayuran dan produk pertanian lain yang diolah secara organik. Teknik dan teknologi pertanian sekarang ini cenderung mendukung pertanian organik. Teknik budidaya yang sekarang ini sudah banyak di praktekan adalah dengan cara Hidroponik dan Aquaponik. Walaupun sebagian besar cenderung masih menggunakan produk kimia dalam proses budidayanya, tetapi dalam jumlah yang sedikit.


Budidaya Tanaman Tembakau


Tanaman tembakau tumbuh ideal ditempat dengan curah hujan rata rata 2000 mm/th, suhu udara 21-32 0C, pH tanah 5-6 , tanah gembur, mudah mengikat air dan remah, ketinggian antara 200-3000 mdpl serta drainase yang baik.

Pembibitan
Benih 8-10 gr tiap hektar. Biji utuh dan tidak terserang penyakit. Media semai :50% tanah dan 50% pupuk kandang, dan pupuk ZA 35 gram setiap meter persegi dan isikan pada polybag. Bedengan tempat pembenihan diberi atap plastik transparan atau daun daunan, tinggi atap timur 1 meter dan barat 60 cm.

Benih direndam dengan Pupuk Organik Cair 5 cc utk 1 gelas air hangat selama 1-2 jam. Benih lalu ditempatka pada nampan/ tampah dengan diberi alas kain basah supaya lembab jika sudah mulai ada bintik putih pada benih, benih siap disemaikan. Siram media tanah dengan air agar lembab lalu benih ditanam sedalam 0,5 cm dan taburkan tanah tipis tipis. Semprot bibit seminggu sekali selama pembibitan dengan Pupuk Organik Cair 20-30 ml per tangki (14Ltr). Bibit sudah bisa dipindahkan ke lahan penanaman yang sudah disiapkan pada umur 35-50 hari.

Pengolahan Tanah
Tanah ditaburi pupuk kandang yang sudah dicampur dengan Pupuk hayati kemudian dibajak dan diamkan selama 1 minggu. Lakukan pengapuran dolomit jika tanah masam

Penanaman
Apabila diinginkan daun yang tipis dan halus maka jarak tanam rapat, tembakau rajangan biasa ditanam dalam satu baris dengan jarak 90x90 cm setiap gulud dan jarak tanam antar gulud biasanya 90cm. Basahi lahan penanaman dan buka polybag kemudian keluarkan bibit dan tanam sedalam akar tanaman, penanaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari.

Penyulaman dan Penyiangan
Penyulaman dilakukan setelah umur 1-3minggu bibit yang kurang bagus dan mati segera diganti dengan bibit yang berumur sama. Penyiangan dilakukan bersama dengan pembumbunan yaitu setiap 3 minggu sekali

Penyemprotan Pupuk Organik Cair dan pupuk cair+ZPT setiap 1 - 2 minggu sekali dengan dosis 50-75 ml Pupuk Oragnik Cair dan 10-15 ml Pupuk Cair+ ZPT untuk setiap tangki ukuran 14 liter.

Pengairan dan Pemangkasan
Penyiraman dilakukan setiap 3 hari sekali. Pengairan dilakukan umur 7 HST : 1-2 liter per tanaman, Umur 7-25 HST ; 3-4 liter per tanaman, Umur 25-30 HST : 4 liter pertanaman , Umur 45 HST : 5 liter per tanaman, Umur 65 hari penyiraman dihentikan kecuali cuaca sangat kering bisa disiram air.

Pangkas tunas ketiak daun setiap 3 hari sekali dan pangkas pucuk tanaman saat bunga mekar 3-4 helai daun dibawah bunga

Panen dan Pasca Panen
Pemetikan daun dilakukan jika daun sudah berwarna hijau kekuning kuningan, pemetikan dimulai dari daun paling bawah, pemetikan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat cuaca cerah, pemetikan bisa dilakukan selang 3 -5 hari, biasanya sekali petik antara 2-4 helai daun dan satu pohon bisa 5 kali petik. sortirlah daun berdasarkan tipe yang dihasilkan.


Monday, 20 February 2017

Pengendalian HPT Tanaman Perkebunan (Bagian 1 dari 5)


1. Pengendalian HPT Tembakau
Pengendalian hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya tembakau.

Pengendalian Hama 
Ulat Grayak :
Gejala : terdapat lubang-lubang tidak beraturan pada tanaman dan terdapatbekas gigitan berwarna putih,
pengendalian : pangkas dan bakar sarang ulat dan lakukan penyemprotan dengan Insektisida.
Ulat Tanah :
Gejala : Daun yang diserang berlubang lubang sehingga tungkai daun rebah,
Pengendalian : pangkas daun yang diserang dan semprot dengan Insektisida
Ulat Penggerek pucuk :
Gejala : Daun yang diserang adalah daun muda yang ditandai berlubang dan sampai habis,
Pengendalian : kumpulkan ulat dan telurnya. semprot dengan menggunakan Insektisida.
Nematoda :
Gejala : Akar tanaman ditandai dengan bisul bisul bulat, tanaman kerdil, layu dan daun berguguran dan akhirnya mati,
Pengendaliannnya : menggunakan Insektisida berbektuk Butir atau Granul.
Kutu kutuan :
Gejala : Merupakan pembawa penyakit yang disebabkan virus,
Pengendalian : Dengan menggunakan predator , dan Insektisida bersifat sistemik transmiliar.

Hama lainnya seperti Gangsir, Orong orong, Semut geni, Jangkrik dan Belalang Banci.

Pengendalian Penyakit
Hangus batang : Penyebab Rhizoctonia solani,
Gejala : batang kering yang terserang akan mengering dan berwarna coklat hingga kehitaman
Pencegahan : Penggunaan Fungisida dari awal penanaman
Lanas :
Gejala : timbul bercak pada daun berwarna kelabu yang akan meluas, pada batang, yang terserang akan lemas dan menggantung lalu layu dan mati,
Pencegahan : dengan penggunaan Fungisida dari awal penanaman
Pati daun :
Gejala : permukaan daun ada bercak bulat putih hingga coklat bagian daun yang terserang rapuh dan mudah robek,
Pengendalian : Desifenksi bibit, renggangkang jarak tanam, olah tanah intensif, gunakan air bersih, bongkar dan bakar tanaman tersebut dan semprot dengan fungisida kontak sistemik.
Bercak Coklat :
Gejalanya : Timbul bercak coklat, selain tanaman dewasa penyakit ini juga menyerang tanaman persemaian, jamur juga menyerang batang dan biji,
Pengendalian : cabut dan bakar tanaman yang terserang
Busuk Daun :
Gejala : mirip dengan lanas namun daun membusuk, akarnya biasanya dikelilingi dengan cendawan jamur,
Pengendalian : cabut dan bakar tanaman dan smperotkan GLIO
Penyakit Virus :
Gejala : pertumbuhan tanaman menjadi lambat,
Pengendalian : sanitasi total lahan, tanaman yang terinfeksi cabut dan bakar

Writed by Baranur


Friday, 17 February 2017

Budidaya Padi Gogo


Oleh : Baranur W.P., S.T.P.

1. Lahan dan Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah harus disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan diolah. Lahan yang akan diolah tergantung kepada tipe penggunaannya.

Lahan-lahan tersebut dapat dibagi ke dalam 4 macam:

a. Lahan perladangan berpindah (Shifting Cultivation). Hutan atau semak belukar ditebang dan dibakar lalu ditanami. Setelah 2-3 tahun kesuburan tanahnya menurun, lahan tersebut ditinggalkan untuk menghutan kembali. Petani peladang akan berpindah ke tempat lain dengan cara yang sama seperti penggarapan awal. Bila siklus perpindahan dapat berlangsung dengan waktu yang cukup lama (di atas 20 tahun) mungkin tidak apa-apa, tetapi bila siklusnya sempit atau kurang dari 5 tahun, ekosistem akan menjadi kritis bhakan akan menjadi gundul atau menjadi padang alang-alang.

b. Lahan perlandangan berpindah modern (Modern Shifting Cultivation/ MSC), lahan perladangan ini dilakukan pada lahan hutan tanaman industry (HTI) atau tanaman perkebunan yang secara periodik ada peremajaan. Sebelum lahan sitanami tanaman hutan industri atau perkebunan, lahan tersebut dapat ditanami padi gogo atau palawija lainnya.

c. Lahan perladangan sistem tumpang sari (Intercultur) yaitu kelanjutan dari MSC yang lahannya telah ditanamai tanaman hutan industri (seperti: Jati, Rasamala, Mahoni, Akasisa, dll) atau tanaman perkebunan (seperti: Kelapa dalam, Kelapa sawit, Karet, dll) yang dalam proses peremajaan.Sistem tumpangsari dapat dilakukan sampai tanaman hutan industri atau perkebunan berumur 3 sampai 4 tahun atau naungan tanaman pokok samapi menutup 50%.

d. Lahan perladangan tetap (Permanent Cultivation), merupakan lahan ladang yang tetap ditanami padi gogo atau palawija lainnya secara tradisional.

Pengolahan tanah untuk padi gogo tergantung tipe lahan kering yang akan dikelola. Pada areal perladangan tetap dan areal tumpangsari, pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida, alat sederhana sampai mesin pertanian. Pada lahan perladangan berpindah dan perladangan berpindah modern pengolahan tanah hanya dapat dilakukan dengan herbisida dan alat sederhana seperti cangkul.

Pengolahan tanah yang paling baik adalah digarpu saat musim kering (kemarau), sehingga tanah bagian atas dibalik dan akar-akar atau rizome gulma seperti alang-alang diangkat. Selain itu membalik tanah di musim kering akan sangat mengurangi pertumbuhan gulma, bahkan gulma tidak dapat tumbuh sampai 2 bulan setelah tanam. Bila gulma tidak tumbuh sampai 2 bulan setelah tanam, pertanaman padi gogo tidak perlu disiangi karena tanaman sudah menutup.

2. Penggunaan Varietas Unggul dan Benih Bermutu

Benih merupakan bagian yang sangat penting dan paling utama, hal ini disebabkan produksi padi gogo lebih dari 50% ditentukan oleh kualitas benih yang baik. Benih varietas padi gogo yang telah dikeluarkan oleh BB Padi mempunyai potensi untuk meningkatkan produksi. Varietas padi gogo yang dapat dipilih adalah varietas: Batutegi, Situ Bagendit, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8 dan Inpago 9, dll. Potensi hasil varietas tersebut rata-rata bisa mencapai 8,4 ton/ha, sedangkan produksi padi lokal antara2,5 samapi 4 ton/ha.

Sebelum tanam sebaiknya benih diuji daya kecambahnya, dianjurkan daya kecambahnya diatas 90%. Menjelang tanama, benih diperlakukan dengan insektisida (seed treatment) agar terhindar dari hama yang menyerang tanaman muda, seperti lalat bibit dan hama kuuk/lundi atau mentul. Kebutuhan padi gogo sekitar 40-50 kg/ha. Pengaturan populasi diharapkan dapat mencapai sekurangnya 200.000 rumpun/ha. Bila populasi dapat mencapai optimal, tanaman akan cepat menutup dan dapat lebih bersaing dengan pertumbuhan gulma.


Tabel Varietas Unggul Padi Gogo Rakitan Badan Litbang Pertanian
Varietas
Potensi
Hasil
(Ton/ha)
Rata-rata
Hasil
(Ton/ha)
Umur Panen
(hari sejak sebar)
Keunggulan Lainnya
Inpago 4
6,1
4,1
124
Toleran Al (60 ppm), tahan blas daun dan blas leher
Inpago 5
6,2
4,0
118
Agak toleran Al (60 ppm), tahan blas daun dan blas leher, toleran kekeringan
Inpago 6
5,8
3,9
113
Agak toleran Al (60 ppm), tahan blas daun dan blas leher
Inpago 7
(beras merah)
7,4
4,6
111
Tahan terhadap penyakit blas ras 133, dan agak tahan ras 73, 173, dan 033
Inpago 8
8,1
5,2
119
Tahan tehadap penyakit blas ras 73, 173, 33, dan 133. Toleran terhadap kekeringan, agak toleran keracunan Al dan Fe.
Inpago 9
8,4
5,2
109
* Agak tahan tehadap penyakit blas ras 133, moderat ras 33 dan 173.
* Agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipr III.
* Agak tahan terhadap wereng batang  coklat biotipe 1.
* Baik ditanam dilahan subur di Jawa dan lahan PMK di Lampung.
Situ Bagendit
6,0
4,0-5,5
110-120
Agak tahan terhadap blas
Agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipr III



3. Waktu Tanam dan Tanam

Waktu tanam padi gogo sangat ditentukan oleh curah hujan dan distribusi hujan harian. Waktu tanam yang baik ialah bila curah hujan sudah mencapai 200 ml/bulan atau 60 ml per decade dengan 2-3 hari hujan. Penentuan waktu tanam dapat juga didasarkan kepada kedalaman basah tanah, yaitu bila tanah telah basah pada kedalaman 10-20 cm dari permukaan tanah, maka sudah dapat dilakukan tanam padi gogo.

Tanam padi gogo yang aman adalah dengan sistem tugal, karena benih dapat berada pada kedalaman 4-5 cm dan pada kelembabab tanah yang cukup setelah lubang tugalan ditimbun. Tanam tugal dilakukan untuk mengantisipasi curah hujan yang tidak menentu. Pada daerah-daerah yang curah hujannnya dapat diramalkan tetap, maka tanam padi gogo dapat dilakukan dengan sistem larikan. Kedalaman larikan hanya 2-3 cm saja, namun benih yang ditanamkan akan cepat tumbuh karena hujannya tetap dan hari hujan merata.

4. Pemupukan

Waktu pemupukan pertama adalah pada 10-15 hari setelah padi tumbuh (HSTb) dengan menggunakan NPK (15:15:15) sebanyak 200 kg/ha. Waktu pemupukan kedua yaitu pada umur 35-40 HSTb dengan takaran 50-75 kg urea/ha dan pemupukan ketiga pada saat premordia/ pembungaan dengan takaran 50-75 kg urea/ha. Pemupukan urea padi gogo disarankan jangan terlalu tinggi karena akan merangsang serangan penyakit blas, baik blas daun maupun blas leher. Kebutuhan atau dosis pupuk sabgat tergantung dari status kesuburan lahan. Untuk itu sebaiknya penentuan dosis pupuk dilakukan berdasarkan analisis hara tanah. Cara pemupukan pertama dan kedua sebaiknya dilakukan dengan cara larikan, setelah alur larikan berisi pupuk segera ditutup dengan tanah. Sedangkan pemupukan ketiga dengan cara disebar, karena tanaman padi gogo sudah menutup.

Waktu pemupukan kedua dan ketiga (pupuk urea susulan pertama dan kedua) supaya efisien, sebaiknya menggunakan ukuran standar dengan alat bagan warna daun (BWD). Bila nilai warna pengukuran di bawah 3, maka pertanaman harus segera dipupuk.

Kendala pemupukan padi gogo, ketika waktu pelaksanaan pemupukan, kondisis tanah harus dalam keadaan lembab atau setelah ada hujan. Bila saat tanaman harus dipupuk, tetapi kondisi lahan dalam keadaan kering, pelaksanaan pemupukan harus ditunda/ditunggu sampai ada hujan atau kondisi lahan lembab.


5. Penyiangan

Penyiangan padi gogo merupakan bagian yang sangat berat bagi petani padi gogo, hal ini disebabkan tumbuhnya rumput/gulma dapat lebih cepat dari padi gogo dan akan bersaing dengan tanaman padi gogo. Oleh karena itu pengendaliaan gulma sebaiknya dimulai pada saat sebelum atau beberapa hari setelah tanam benih.

Pada lahan yang diolah sederhana dengan cangkul atau dengan bahan kimia yang dilakukan padasaat kering, maka pada saat waktu tanam benih atau pada 1-2 hari sebelum tanam benih atau pada 1-2 hari setelah tanam benih, lahan diaplikasi dengan herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar maupun berdaun sempit. Penggunaan herbisida sebaiknya setelah biji gulma berdaun lebar atau berdaun sempit tumbuh atau berkecambah.

Secara umum penyiangan biasanya dilakukan 2 kali selama pertumbuhan padi gogo, penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 HSTb dan yang kedua pada umur 30-35 HSTb. Pelaksanaan penyiangan tidak semata-mata untuk menghilangkan gulma, tetapi juga seperti perlakuan pembumbunan tanaman padi gogo. Pada saat pembumbunan akan memotong akar primer, yang selanjutnya akan memacu pertumbuhan akar sekunder tanaman padi. Sebaiknya penyiangan dilakukan sebelum pelaksanaan pemupukan dasar atau pupuk susulan pertama. Pelaksanaan penyiangan juga disarankan pada kondisi lahan kering agar akar gulma yang terpotong cepat mati, bila dalam kondisi lembab gulma akan sulit mati dan akan cepat tumbuh lagi bila akarnya tertinggal.

Pada lahan yang diolah dengan alat garpu di musim kering untuk membalik tanah, maka gulma dimungkinkan tidak tumbuh sampai 2 bulan setelah tanam. Pada kondisi seperti ini, pertanaman padi gogo tidak perlu disiangi karena pada umur 2 bulan daun padi sudah menutup dan gulma akan kalah bersaing dengan padi gogo yang ditanam
   

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama daun, penggerek batang dan hama buah/gabah padi dapat menggunakan semprotan.Pengendalian hama padi gogo dengan semprotan terkadang sangat sulit, hal ini disebabkan tidak ada air pada saat akan diaplikasi padahal kerusakan oleh hama atau populasi hama sudah mencapai ambang ekonomi. Salah satu usaha adalah dengan menggunakan perlakuan benih (seed treatment), dan pada setiap pemupukan pupuk dicampur dengan insektisida bentuk butiran yang sitemik. Hama-hama yang biasa menyerang padi gogo adalah pemakan dan penghisap tanaman, penggerek batang padi, penggorok daun, dan pembuat furu.


Tabel Beberapa jenis hama tanaman yang biasa menyerang/merusak tanaman padi gogo
Cara Makan Hama
Nama Hama
Penghisap
Batang
Wereng Coklat (Nilaparvata lugens)

Daun
Wereng Hijau

Bulir
Walang Sangit (Leptpcorisa sp), Kepik (Nezara sp)                                                
Pemakan
Daun
Belalang Padi (Oxya Chinensis), Belalang nyungcung (Atractomorpha sp), belalang jongrang (Acrida sp), belalang kayu (Valanga nigricornis), belalang kembara (Lucusta migratoria), pelipat daun (Cnaphalocrosis medinalis)

Batang
Anjing tanah = orong-orong = gang (Gryllotalpa afiricana), lalat bibit (Atherigona sp), tikus

Akar
Uret = kuuk (Holotrichia helleri), mementul
Penggerek Batang
Penggerek batang padi putih (Schirpophaga innota), Penggerek batang padi kuning (Schirpophaga incertulas), Penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens), Penggerek batang kepala hitam (Chilo Polychrysus), Penggerek batang bergaris (Chilo Suppressalis)
Penggorok Daun
Hispa
Pembuat Furu
Ganjur (Orseolia oryzae)


Penyakit yang banyak menyerang padi gogo adalah blas (Pyricularia grisea). Penyakit ini dapat dikendalikan dengan menyemprotkan fungisida pada saat anakan maksimum dan 5% berbunga. Fungisida yang dapat dipakai dengan bahan aktif Klorotalonil, Metil Tiofanat,dsb.

7. Panen dan Pasca Panen

Pelaksanaan panen padi gogo adalah sama dengan panen padi sawah. Panen padi gogo varietas unggul baru (VUB padi gogo) dengan cra diarit pada pangkal batang dan merontoknya dengan digiles atau digebot. Hasil panen dijemur dan setelah kering disimpan dalam karung.


Sumber:
Tabloid Mingguan Sinar Tani, Edisi 31 Oktober-08 November 2012, No.3480 Tahun XLIII, Hal.19

Thursday, 16 February 2017

Pengertian dan Jenis OPT serta Batasannya


OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) mempunyai peranan yang sangat penting pada tanaman mengingat bahwa akibat serangan OPT dapat menyebabkan kehilangan hasil yang sangat fatal terutama secara ekonomis. Jadi, OPT adalah organisme yang merusak tanaman dan secara ekonomi merugikan manusia didalam kegiatan pembudidayaan tanaman.

OPT terdiri dari:
* Hama, adalah golongan binatang atau serangga yang mengganggu tanaman
* Penyakit, adalah golongan organisme dan jasad renik yang mengganggu proses fisiologis tanaman
* Gulma, adalah golongan tanaman yang tidak dikehendaki pertumbuhannya

Batasan antara Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan bukan OPT tidak begitu jelas, tergantung manusia yang menilainya. Misalnya petani A dan B sama sama menanam kangkung. Petani A memasarkan kangkungnya ke supermarket, sedangkan petani B memasarkan ke pasar biasa. Suatu saat tanaman kangkung  A dan B dirusak oleh kumbang pemakan daun Epilachna, Supermarket tidak mau menerima kangkung yang daunnya berlubang lubang. Dalam hal demikian petani A menganggap Epilachna sebagai OPT, karena secara ekonomi telah merugikan. Sebaliknya petani B tidak menganggap epilachna sebagai hama, karena secara ekonomi belum merugikan


Pengertian Beras dan Macam Warna Beras


Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea’ (bagian yang ditutupi) dan ‘lemma’ (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Beras umumnya tumbuh sebagai tanaman tahunan. Tanaman padi dapat tumbuh hingga setinggi 1 - 1,8 m. Daunnya panjang dan ramping dengan panjang 50 - 120 cm dan lebar 2 - 2,5 cm. Beras yang dapat dimakan berukuran panjang 5 - 12 mm dan tebal 2 - 3 mm. Beras dari padi ketan disebut ketan.

Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari
* aleron; lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit,
* endosperma; tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan
* embrio; yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan. Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

Kandungan Gizi Beras


Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat: amilosa (pati dengan struktur tidak bercabang) dan amilopektin (pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket). Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.

Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras. Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.

Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiamin nya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg). Kekurangan tiamin bisa mengganggu system saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.

Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi, asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

Warna Beras

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.

Beras putih, sesuai namanya, berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.
Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.
Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.
Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.
Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.

Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.


Tuesday, 14 February 2017

Pengendalian Hama Wereng


Jenis-jenis hama wereng:
• Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
• Wereng hijau (Nepotettix )
• Wereng lorek/zigzag (Recilia dorsalis)
• Wereng punggung putih (Sogatella furcifera)

Wereng Zigzag/ Lorek

Wereng Coklat

Wereng Hijau

Wereng Punggung Putih



























Hama Wereng Coklat (Nilapervata Lugens)

Telur :
Jumlah telur 100 – 600 butir/ekor serangga betina. Berbentuk lonjong, transparan, menempel pada batang dan menetas dalam waktu 7 - 10 hari.





Nimfa :
Nimfa muda umumnya berwarna putih, semakin tua semakin coklat. Stadium nimfa 12 - 15 hari. 
Instar 4 dan 5, dibedakan berdasarkan ada tidaknya bintik hitam pada sayap / bakal sayap




Imago :
Panjang tubuh 2 - 3 mm dengan masa hidup 10 - 24 hari dan menghasilkan telur 100 - 600 butir. Bersifat hama










Hama ini selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir-bulir buah muda yang lunak, dapat meloncat tinggi dan tdak terarah, berwarna coklat, berukuran 3-5 mm, habitat ditempat lembab, gelap dan teduh. Telur banyak yang ditempatkan dibawah daun padi yang melengkung dengan masa ovulasi 9 hari menetas, 13 hari membentuk sayap dan 2 minggu akan bertelur kembali. Hama ini meluas serangannya dilihat dari bentuk lingkaran pada tanaman dalam petakan padi. Tindakan yang dapat dilakukan untuk memberantas hama ini dengan cara preventif, represif dan kuratif.



1. Tindakan Preventif dengan cara-cara:
a. Serumpun daun padi layu, lakukan pemeriksaan dengan teliti.
b. Apabila dirumpun padi ditemukan seekor wereng, bunuh dan periksa telur-telurnya didaun lalu daun dicabut dan dibakar. Periksa tanmaan-tanaman lainnya yang berdekatan.
c. Apabila dalam serumpun terdapat banyak wereng, lakukan penyemprotan massal dengan insektisida.

2. Tindakan Represif dilakukan sebagai berikut:
a. Pengeringan pada petakan sawah.
b. Pencabutan dan pembakaran seluruh tanaman.
c. Memilih bibit unggul tahan wereng  yang direndam dalam Bio Fertilizer Contohnya Potensida.
d. Crop rotation (pergiliran padi dan palawija).

3. Tindakan Kuratif ditempuh dengan cara:
a. Insektisida butiran menggunakan berbahan aktif Karbofuran (15-20 kg/ha), yang ditaburkan di antara larikan petak sawah tiga atau empat minggu sekali selama masa vegetatif.
b. Penyemprotan insektisida cair 3-7 hari sekali atau maksimal 10 hari sekali, dengan  Bahan Aktif BPMC, MIPC, Buprofezin, Dimehipo, Imidakloprid, Fipronil, Karbofuran, Sipermetrin, Klorpirifos, dan Abamektik.  Masing-masing bahan aktif bisa digunakan dengan cara sendiri-sendiri atau dengan cara di campur/ di Mix.


Link Terkait:


Pengendalian HPT Pangan (Bagian 1 dari 5)


Pengendalian HPT Kentang
Pengendalian hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya kentang. Produktifitas tanaman kentang sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tanaman. Penyemprotan fungisida maupun insektisida dimulai sejak tanaman berumur 10 hari. Interval penyemprotan dilakukan dua kali seminggu, atau tergantung dari gejala kerusakan yang terlihat.

Obat-obatan yang diberikan berupa fungisida (bahan aktif mancozeb dan Karbendazim) dan insektisida (bahan aktif Triazofos, Deltametrin, Karbofuran). Konsentrasi yang dianjurkan sesuai dengan petunjuk penggunaan.

Selain dengan penyemprotan, pengendalian hama dan penyakit bisa dilakukan juga dengan rotasi tanaman. Lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang-kacangan atau palawija. Waktu rotasi tanaman diperlukan sekurang-kurangnya 2-3 tahun, baru lahan bisa ditanamai tanaman kentang lagi.

Jenis-jenis hama dan penyakit yang biasa ditemukan dalam budidaya kentang, antara lain:
* Busuk daun (Phytophthora infestans)
* Penyakit layu bakteri (Pseudomonas Solanacearum)
* Bercak lunak (Altenaria Solani)
* Penyakit layu fusarium (Fusarium Oxysporum)
* Virus gulung daun (PLRV)
* Root knot nematodes (Meloidogyne Spp.)
* Ulat gulung (Phthorimae Operculella)
* Pekung (Rhizoctonia Solani)
* Virus (Virus X, Virus Y, Virus S)
* Oteng-oteng (Epilachna Puntata)
* Ulat tanah (Agrotis Ipsilon)
* Kutu daun hijau (Myzus Persicae dan Aphis Nasturtii)
* Orong-orong (Cryllotalpa Sp.)


Pengendalian HPT Sayuran (Bagian 2 dari 5)


1. Pengendalian HPT  Caisim/Sawi
Caisim termasuk sayuran daun yang digemari terutama bila ditanam di dataran rendah. Hama yang sering menyerang adalah sejenis kutu dan walang sangit yang bisanya menyebabkan daun caisim bolong-bolong. Selain kedua hama tersebut, beberapa hama dan penyakit lain diantaranya ulat, cacing bulu, bercak daun, busuk basah, penyakit embun tepung, penyakit rebah semai, busuk daun, busuk akar, dan virus mosaik.

Beberapa penanganan pengendalian yang bisa dilakukan apabila sudah mencapai batas ambang ekonomisnya yakni dengan membuat larutan nabati yang terbuat dari kipait dan gadung yang dicampur dengan sabun colek ataupun putih telur sebagai perekatnya. Larutan nabati ini diencerkan dan disemprotkan pada tanaman secukupnya. Biasanya larutan ini hanya bersifat mengusisr sementara saja.

Penganan lainnya yakni dengan melakukan penyiraman teratur supaya telur kutu ataupun walang sangit yang menempel bisa terhanyutkan oleh air. Pengendalian hama dan penyakit yang paling penting adalah menjaga supaya tanaman sehat dan tidak kekurangan makanan. Karena jika badan tanaman tersebut sehat maka hama atau penyakitpun tidak akan bisa menginvasi ataupun menginfeksi.

Membuat budidaya tanaman sehat tersebut kuncinya adalah dengan menyediakan banyak bahan organik di dalam tanah. Selain memberikan asupan unsur yang beragam, bahan organik juga menyediakan makanan bagi para musuh alami hama-hama yang menyerang tanaman.

2. Pengendalian HPT  Selada

Hama dan penyakit yang biasa menyerang budidaya selada  adalah sebagai berikut:
* Jangel (Bradybaena similaris ferussac), bentuknya seperti siput berukuran 2 cm. Hama ini menyerang tanaman di segala umur. Biasa bersembunyi pada pangkal daun bagian dalam. Serangan hama ini membuat daun berlubang.
* Tangek (Parmalion pupilaris humb), bentuknya mirip dengan jangel namun tidak memiliki siput. Akibat serangannya sama membuat lubang pada daun. Hama ini lebih banyak menyerang di musim kemarau dibanding musim hujan.
* Busuk lunak (soft rot), penyebabnya bakteri Erwinia Carotovora. Penyakit ini menyerang bagian daun. Serangan dimulai dari tepi daun, warna daun menjadi coklat kemudian layu. Selain bisa menyerang tanaman yang masih ditanam, penyakit ini juga bisa menyerang selada yang siap diangkut ke pasar.
* Busuk pangkal daun, penyebabnya Felicularia Filamentosa. Penyakit ini menyerang pangkal daun, serangan biasa terjadi menjelang panen.

Dalam budidaya selada keriting organik, tidak diperbolehkan menyemprot hama dan penyakit dengan pestisida sintetis. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan memperhatikan pemupukan, kebersihan kebun, rotasi tanaman dan kalau terpaksa lakukan penyemprotan dengan pestisida nabati.

Penyiraman teratur dan pemupukan yang tepat terbukti efektif mengendalikan hama. Namun, pengendalian hama yang paling efektif adalah dengan melakukan budidaya tanaman sehat, mengatur kebersihan lingkungan seperti menjaga irigasi dan drainase serta menjamin kecukupan nustrisi bagi tanaman terutama untuk kekebalan tubuh tanaman itu sendiri seperti unsur kalium. Unsur kalium bisa didapatkan dengan menambahkan bahan-bahan daun bambu pada saat pembuatan kompos.


Pengendalian HPT Sayuran (Bagian 1 dari 5)


1. Pengendalian HPT  Buncis
Jenis-jenis Hama dan Penyakit yang biasa ditemukan dalam budidaya Tanaman Buncis antara lain:
* Kumbang
* Lalat Kacang
* Kutu Daun
* Ulat Grayak
* Penggerek biji
* Ulat Bunga
* Penyakit Mozaik Daun
* Layu Bakteri
* Antraknosa
* Embun Tepung

Hama yang ditemui dalam budidaya buncis antara lain kumbang pemotong daun yang merusak jaringan pengangkut. Kumbang ini menyebabkan tanaman kering dan gagal berbunga. Untuk mengusirnya bisa dengan pemberian biopestisida dari ekstrak buah gadung dan kipait. Namun biasanya penanganan dengan pestisida hayati tidak berlangsung lama. Oleh karenanya penanganan secara manual malah lebih efektif. Pengambilan kumbang secara manual masih mungkin dilakukan. Biasanya dalam lahan berukuran 100 meter persegi ditemukan 50-100 ekor kumbang.

Beberapa hama lain yang sering menyerang buncis adalah lalat kacang, kutu daun, ulat grayak , penggerek biji dan ulat bunga. Pengendaliannya dengan menerapkan kultur teknis seperti merotasi tanaman, penanaman serempak, membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama.

Selain hama, penyakit yang sering menyerang buncis antara lain penyakit mosaik daun, penyakit sapu, layu bakteri, antraknosa dan embun tepung. Cara pencegahannya adalah dengan perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati.

Pememakaian benih yang benar-benar bebas dari penyakit akan menghindarkan serangan di kemudian hari. Selain itu lakukan rotasi tanaman dengan tanaman lobak, wortel atau kol bunga. Apabila terpaksa, lakukan penyemprotan pestisida hayati.

2. Pengendalian HPT  Kacang Panjang
Salah satu faktor pembatas produktivitas kacang panjang adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai pada budidaya kacang panjang antara lain:
* Kutu hitam dan kutu putih, menghisap cairan pada daun sehingga mengakibatkan bercak kuning pada daun. Pada gilirannya akan menganggu proses fotosintesis daun sehingga produksi tidak maksimal.
* Kepik daun, mengakibatkan lubang-lubang pada daun dengan bentuk yang tidak beraturan.
* Penggerek polong, pada polong muda akan tampak lubang-lubang kecil dan bijinya habis dimakan. Pada polong tua akan ditemukan bercak-bercak coklat dan didalamnya terdapat ulat hijau beserta kotorannya.
* Ulat grayak, menyerang seluruh bagian tanaman yang terdapat dipermukaan tanah. Serangan bisa hebat dan meluas hingga menghabiskan seluruh areal tanaman.

Penyakit yang bisa dijumpai pada budidaya kacang panjang adalah penyakit karat dan bercak daun Cercospora. Namun penyakit pada kacang panjang lebih jarang ditemukan dibanding serangan hama.

Penanganan hama dan penyakit yang bisa dilakukan dalam budidaya kacang panjang secara organik hanya menggunakan pestisida hayati seperti larutan gadung dan kipait. Namun biasanya penanganan dengan pestisida hayati tidak berlangsung lama, oleh karenanya penanganan secara manual malah lebih efektif. Pengambilan kumbang secara manual sangat mungkin dilakukan, biasanya dalam lahan berukuran 100 meter per segi bisa terdapat kumbang 50-100 ekor.

Selain itu bisa juga dilakukan pencegahannya berupa perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati. Juga dengan memakai benih yang benar-benar bebas dari penyakit, melakukan rotasi tanaman.



Budidaya Sayuran Organik_Buncis


Syarat Tumbuh
Buncis atau Phaseolus vulgaris merupakan sayuran buah yang termasuk kedalam kelompok leguminosa. Budidaya buncis cocok dilakukan di dataran sedang hingga tinggi. Ketinggian ideal bagi tanaman ini adalah 1000-1500 meter dari permukaan laut dengan suhu 20-25oC. Namun, budidaya buncis masih bisa dilakukan di dataran rendah hingga 400 meter dari permukaan laut.

Budidaya buncis memerlukan cahaya matahari yang banyak dengan curah hujan sedang. Tanaman ini cocok dibudidayakan diakhir musim hujan dan awal kemarau. Buncis juga peka terhadap genangan air sehingga drainase lahan harus benar-benar diperhatikan.

Di Indonesia terdapat dua tipe tanaman buncis. Ada yang tumbuhnya merambat dan tegak. Buncis yang merambat bisa memiliki ketinggian hingga 2 meter dan mudah rebah. Oleh karena itu, perlu bantuan lenjeran bambu untuk menopangnya. Sedangkan tipe yang tegak tinggi hanya 60 cm dan tidak memerlukan lenjeran bambu untuk tumbuh. Pada kesempatan kali ini, kami akan menguraikan cara-cara budidaya buncis tipe merambat.

Pengolahan lahan 
Pengolahan lahan untuk budidaya buncis organik sedikit berbeda dengan pengolahan tanah untuk sayuran daun. Pertama-tama tanah dibajak untuk digemburkan. Campurkan kapur secukupnya apabila kondisi tanah asam. Kemudian buat bedengan selebar 1 meter dengan tinggi 20-30 cm. Jarak antar bedengan 30-40 cm.

Buat lubang tanam pada bedengan membentuk dua baris dengan jarak antar baris 50-60 dan jarak dalam baris 30 cm. Masukkan pupuk kandang atau kompos kedalam lubang-lubang tanam tersebut, kira-kira satu genggaman tangan. Untuk satu hektar tanaman dibutuhkan sekitar 20 ton pupuk kandang atau kompos. Biarkan kompos tersebut selama 1-3 hari.

Penyiapan benih 
Budidaya buncis diperbanyak dengan biji yang diseleksi dari tanaman sehat dan subur. Cara menyeleksinya berdasarkan bedengan terbaik tempat buncis tumbuh. Alasan pemilihan tanaman menurut bedengan agar proses penuaan tidak menganggu tanaman lainnya.

Jika seleksi benih dipilih berdasarkan individu tanaman maka akan terjadi kegagalan panen pada individu-individu lain yang tumbuh dalam bedengan yang sama. Hal tersebut bisa terjadi karena tanaman yang mengalami proses penuaan buah akan menyedot nutrisi untuk tanaman lain. Sehingga tanaman yang buahnya tidak dibenihkan akan mengalami gagal panen.

Buah yang terpilih untuk calon benih dipetik dan diseleksi. Pilih buah yang besar-besar dan bentuknya sempurna. Kemudian jemur buah buncis di bawah terik matahari hingga kering, biasanya 1-2 hari. Setelah kering, kupas kulit buahnya dan ambil bijinya.

Simpan benih dalam botol kaca yang bersih. Setelah botol terisi penuh oleh benih, penuhi mulut botol dengan abu kayu sebagai penutupnya. Manfaat abu kayu sebagai media penutup botol menyerap kelembaban. Sehingga lingkungan dalam botol tetap kering namun masih memungkinkan adanya pertukaran udara. Biji buncis yang tersimpan dengan baik bisa bertahan dalam suhu kamar selama 6 bulan.

Penanaman 
Cara paling efektif dalam budidaya buncis adalah menanam biji secara langsung tanpa proses penyemaian. Masukkan biji buncis siap tanam kedalam lubang yang telah dibuat. Isi setiap lubang dengan 2 biji buncis. Lalu tutup dengan tanah, kemudian siram secara berkala apabila kondisi tanah kering. Kebutuhan benih buncis adalah 50 kg per hektar. Buncis mulai berkecambah pada 3-7 hari setelah tanam. Pada hari ke-7 biasanya kecambah telah tumbuh secara serempak.

Perawatan 
Beberapa perawatan yang diperlukan dalam budidaya buncis diantaranya penaikan tanah, pemasangan lenjer bambu dan pemupukan susulan. Tanaman buncis adalah tanaman yang tahan kekeringan, kita tidak perlu menyiramnya setiap hari. Meskipun hujan hanya terjadi sekali dalam seminggu, buncis masih bisa tumbuh dengan baik. Penyiraman hanya dilakukan apabila kondisi kekeringan sudah parah.

Sekitar 2 minggu setelah tanam, naikkan tanah yang berada disekeliling tanaman. Maksudnya agar tanah menutupi akar yang menyembul dan memperkuat kedudukan akar. Selain itu, penaikan tanah dimaksudkan untuk menyiangi tanaman penggangu. Dengan penaikan tanah, tanaman pengganggu akan tercerabut dari akarnya dan mati.

Pemasangan lenjer bambu atau pengajiran bisa dilakukan setelah minggu ke-2. Pasang lenjer bambu sepanjang 2 meter, lalu gabungkan setiap empat lenjer pada pangkal atasnya. Pemasangan lenjer diperlukan agar tanaman merambat naik dan buah tidak mengenai tanah.

Pemupukan susulan diberikan pada minggu ke-3. Berikan satu kepal kompos atau pupuk kandang yang telah matang pada setiap tanaman. Total kebutuhan pupuk organik susulan sekitar 20 ton per hektar.

Panen
Buncis mulai berbunga pada 40 hari setelah tanam. Pada umur 50 hari, buncis sudah bisa dipanen. Buncis bisa dipanen 2 hari sekali dengan cara dipotong. Pemotongan harus dilakukan dengan hati-hati supaya bunga tidak jatuh. Pemanenan bisa dilakukan hingga 10 kali.

Biasanya pada panen pertama dan kedua hasinya mencapai 2-4 ton per hektar. Pada panen ketiga hingga kelima akan mencapai puncak lalu kemudian menurun hingga panen terakhir. Total hasil panen budidaya buncis bisa mencapai 48 ton per hektar.

Link terkait:
http://alamtani.com/budidaya-buncis-organik.html

Aplikasi Pola Tanam


Proses penanaman di dalam setiap jenis budidaya mempunyai pola tanam yang beragam. Selain hanya menanam secara Single Cropping atau menanam hanya satu jenis tanaman dalam suatu areal tanam, ternyata secara prakteknya ada beberapa pola tanama lain yang banyak dilakukan oleh para petani atau pembudidaya tanaman.

Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
1. Tumpang sari ( intercropping ) : melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda).
Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
2. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ): dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum.
Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
3. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ): pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda).
Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
4. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) : penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit.
Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.


Monday, 13 February 2017

Budidaya Tanaman Jagung


Syarat Tumbuh
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C – 300 C.

Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

Teknis Budidaya
1. Pembenihan
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi. Serta mempunyai daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam larutan POC (Pupuk Organik Cair). Beberapa jenis benih jagung terutama benih Hibrida biasanya sudah mengalami perlakuan (dicampur dengan insektida, fungisida dan ZPT) agar lebih tahan terhadap Hama dan Penyakit.

2. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.

Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam.Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari dengan Pupuk Organik/pupuk kandang matang dan dicampur dengan bakterisida untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

3. Pemupukan
Pemupukan lanjutan dilakukan sebanyak 2- 3 kali dalam satu masa tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan jenis benih yang digunakan. Jagung hibrida biasanya membutuhkan pemupukan yang lebih banyak dibanding jagung biasa.

Selain Pupuk Organik yang dibutuhkan oleh tanaman jagung, diperlukan juga jenis Pupuk Kimia/Pupuk Anorganik yang sangat dibutuhkan tanaman jagung dan harus memenuhi unsur N, P dan K. Unsur N bisa didapatkan dari Urea, unsur P dari SP-36/ TSP dan unsur K dari KCl. Untuk pupuk majemuk bisa di gunakan pupuk bersubsidi NPK Phonska. Takaran pupuk untuk budidaya jagung berdasarkan anjuran Balitbangtan per hektarnya adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl.

Bila kesulitan mendapatkan KCL, unusr K bisa didapatkan dari pupuk NPK. Dengan takaran sebagai berikut , 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg urea + 80 kg SP-36 untuk setiap hektarnya. Untuk frekuensi pemukan dua kali, berikan pada 10 dan 35 hari setelah tanam (HST). Untuk frekuensi pemupukan 3 kali berikan pada umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst.

Dalam hal pemupukan selain pupuk organik dan pupuk anorganik, bisa digunakan pupuk hayati dan pupuk cair dengan kandungan pupuk majemuk lengkap (mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap), agar nutrisi yang dibutuhkan tanaman terpenuhi dan tanaman lebih sehat dan hasilnya insyaallah lebih tinggi. Penggunaan pupuk hayati juga untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia/pupuk anorganik yang jika berlebih mempunyai dampak lingkungan yang kurang bagus, terutama bagi tanaman dan tanah sebagai media tanam bagi tanaman

4. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara menaruh benih kedalam tanah yang sudah dilubangi dengan cara ditugal. Lubang tanam yang ditugal, kedalamannya 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1-2 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jarak tanam jagung secara umum  40×100 cm untuk 2 tanaman /lubang dan  25×75 cm untung 1 tanaman/lubang.

5. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 Hari Sesudah Tanam (HST). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

6. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

Selain dilakukan secara mekanis penyiangan bisa dilakukan dengan menggunakan herbisida tanpa harus mengganggu tanaman jagung.

7. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

8. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
Semoga Bermanfaat

9. Panen dan Pascapanen
Tanaman jagung bisa dipanen sekitar 100 HST, tergantung dari jenis benih yang digunakan. Secara fisik jagung yang siap panen terlihat dari daun klobotnya yang mengering, berwarna kekuningan. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah masa fisiologinya akan berakibat pada komposisi kimia jagung yang menentukan kualitasnya.

Sumber:

Sunday, 12 February 2017

Budidaya Selada


Selada (Lactuca saliva L) merupakan sayuran daun yang berumur semusim dan termasuk dalam famili Compositae. Terdapat dua kelompok besar budidaya selada yang berkembang di Indonesia. Pertama, selada daun bentuk korp-nya bulat lepas, daunnya hijau mengembang. Kedua, selada korp (heading lettuce) bentuk korp-nya bulat atau lonjong dan korp-nya padat.

Dari dua jenis diatas yang paling banyak dibudidayakan adalah tipe selada daun, bentuk daunnya bergelombang cenderung berkerut-kerut, atau populer dengan nama selada keriting. Selada keriting toleran ditanam di daerah tropis dan panas sekalipun. Jenis selada keriting bahkan bisa tumbuh dengan subur di dataran rendah dan panas seperti Jakarta. Selada jarang dibuat sayur, biasanya hanya dibuat salad atau lalapan.

Selada tumbuh baik di dataran tinggi (pegunungan). Di dataran rendah kropnya kecil-kecil dan cepat berbunga.Pada dasarnya suhu optimal bagi budidaya selada kriting berkisar antara 15-25°C dengan ketinggian 900 meter hingga 1.200 meter dari permukaan laut serta pH tanah antara 5-6,5. Jenis tanah yang disukai selada adalah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah yang masih mengandung humus. Meskipun demikian, selada masih toleran terhadap tanah yang miskin hara asalkan diberi pengairan dan pupuk organik yang memadai.Selada dapat pula ditanam pada musim kemarau dengan pengairan atau penyiraman yang cukup.

1. Benih
Selada diperbanyak diri dengan biji. Biji atau benih selada diperoleh dengan menumbuhkan tanaman selada hingga berbunga dan berbuah. Setelah tua baru diambil bijinya. Kebutuhan benih selada per satu hektar lahan adalah +250-400 gram. Untuk mendapatkan hasil optimal, benih selada keriting sebaiknya disemai terlebih dahulu sebelum ditanam di hamparan lahan yang luas.

Beberapa jenis selada yang banyak dibudidayakan antara lain adalah:
a. Selada mentega atau juga disebut selada bokor/selada daun. Bentuk kropnya bulat, akan teta pi lepas/keropos.
b. Selada (heading lettuce) atau selada krop. Bentuk krop ada yang bulat ada pula yang lonjong/bulat panjang. Kropnya padat/kompak.









2. Persemaian
Biji dapat langsung ditanam di lapangan, tetapi pertumbuhan tanaman lebih baik melalui persemaian. Ada berbagai jenis media penyemaian untuk budidaya selada, diantaranya dalam polybag, daun pisang, sistem tray.

Siapkan bedengan dengan lebar satu meter dan tinggi sekitar 15 cm, panjang bedengan disesuaikan dengan kebutuhan. Posisi bedengan harus ditempat terbuka dan jauh dari gangguan binatang. Campurkan pupuk kandang, tanah dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1. Pupuk kandang yang digunakan harus sudah betul-betul matang untuk menghindari tumbuhnya mikroorganisme yangn tidak diharapkan.

Kegunaan pupuk kandang untuk memperkaya unsur hara dan nutrisi. Arang sekam diperlukan untuk menggemburkan tanah agar pencabutan bibit tidak merusak akar tanaman. Apabila tanah terlalu asam, berikan juga kapur pertanian atau dolomit secukupnya. Derajat keasaman yang ideal untuk budidaya selada adalah pH 5 sampai 6,8.

Siram media penyemaian dengan air untuk memberikan kelembaban pada benih yang akan ditabur. Usahakan jangan sampai basah menggenang karena bisa membusukan tanaman. Tebarkan benih selada secara merata diatas bedengan. Padat penebaran benih adalah 100 gram per 10 meter persegi bedeng semai. Apabila penyemaian dilakukan pada musim kemarau, ada baiknya berikan mulsa berupa rumput, jerami atau daun kering diatasnya. Hal tersebut berguna untuk mengurangi penguapan akibat terik matahari.

Buatlah naungan diatas bedengan tersebut. Gunanya, pada musim hujan untuk melindungi bibit yang baru tumbuh dari limpahan air hujan secara langsung. Pada musim kemarau, untuk menaungi bibt dari sengata matahari yang terlalu terik. Tutupan bedengan bisa menggunakan paranet, karung plastik atau plastik bening. Upayakan membuat tutupan yang bisa ditutup buka, sehingga pada pagi dan sore hari tutup bisa dibuka agar mendapat penyinaran maksimal. Dan, pada siang hari bisa ditutup untuk melindungi dari sengatan matahari.

Perawatan pada tahap penyemaian ini adalah penyiraman rutin, penyiangan gulma dan pengawasan hama dan penyakit. Bibit selada keriting bisa dipindahkan setelah berdaun 4-5 helai atau berumur 3-4 minggu sejak benih ditebar.











3. Pengolahan Tanah
Pengolahan lahan untuk budidaya selada keriting tergantung pada jenis, struktur dan tekstur tanahnya. Apabila tanah yang akan dipakai sangat keras, lakukan penggarpuan terlebih dahulu, setelah itu baru dilakukan penggemburan dengan cara dicangkul. Tanah dicangkul sedalam 20-30 cm. Kemudian diberi pupuk kandang sebanyak +10 ton/ha, diaduk dan diratakan. Kemudian tanah dibuat bedengan lebar 100-120 cm tinggi 15 cm dan panjang kurang lebih 10 meter atau tergantung kondisi lahan.  .
Agar bedengan tetap kering, terutama di lahan-lahan basah seperti bekas sawah, tanah untuk bedengan ditinggikan 20 cm, dikiri dan kanan bedengan dibuat gang untuk saluran drainase ±25 cm. Lebar bedengan tidak diperkenankan terlalu lebar untuk memudahkan pemeliharaan.

Budidaya selada keriting memerlukan lingkungan keasaman yang netral dengan pH ideal 5-6,8. Apabila kondisi tanah asam sebaiknya dilakukan proses penetralan terlebih dahulu dengan kapur. Sedangkan bila tanah terlalu basa netralkan dengan belerang atau gipsum. Misalnya, untuk menetralkan tanah yang memiliki pH 5,5 diperlukan kapur sebanyak 0,1 kg per meter persegi sehingga derajat keasaman naik menjadi pH 6,5. Sebaliknya untuk menurunkan pH tanah bisa diberikan belerang atau gipsum sebanyak 0,6 kg per meter persegi.

Untuk memperkaya humus tanah dicampur dengan pupuk kandang yang telah matang atau pupuk kompos. Jumlah pupuk kandang yang disarankan untuk kotoran ayam adalah 20 ton per hektar. Kalau kita menggunakan pupuk kompos, jumlah kompos yang disarankan sebanyak 2 kg per meter persegi. Pemberian pupuk organik bertujuan untuk menggemburkan lahan dan mempertinggi aktifitas mikroorganisme didalam tanah. Setelah tanah dicampur dengan pupuk kandang atau kompos, diamkan selama 2 hari, kemudian haluskan kembali tanah dengan pencangkulan.
Setelah lahan siap pindahkan bibit selada keriting dari tempat penyemaian.

4. Penanaman
Dalam memindahkan tanaman, sebaiknya angkat dengan tanah yang menyangga zona perakaran. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal atau dilubangi dengan tangan saja. Besar dan dalam lubang tanam disesuaikan dengan perakaran bibit selada keriting yang akan dipindahkan. Atur jarak tanam sebesar 10 x 15 cm atau 25 cm x25 cm atau 20 cm x30 cm..

Apabila benih akan di tanam langsung, maka dibuat alur/garitan dengan cangkul yang dimiringkan. Penanaman secara langsung dilakukan dengan cara menyebar benih dan ditabur dalam garitan yang telah ditentukan. Jika melalui persemaian, bibit ditanam dengan jarak tanam seperti tersebut di atas, sehingga dalam satu bedengan dapat memuat 4 baris tanaman.

5. Perawatan dan Pemeliharaan
Perawatan yang dilakukan dalam budidaya selada diantaranya penyiraman, pemupukan dan penyiangan. Bila ada tanaman yang mati, segera disulam.

Penyiraman
Penyiraman dilakukan sesuai dengan cuaca yang ada. Jika tidak ada hujan lakukan 2 kali penyiraman dalam satu hari setiap pagi dan sore. Penyiraman bisa dilakukan pada siang hari namun dengan intensitas air yang cukup banyak untuk menghindari layu mendadak pada tanaman.

Pemupukan 
Setelah bibit yang ditanam berumur 2 minggu, apabila tanaman kurang subur yang ditandai dengan warna hijau yang pudar, berikan tambahan pupuk kandang sebanyak 2 ton per hektar. Pupuk kandang yang digunakan hendaknya yang mengandung unsur nitrogen tinggi seperti kotoran ayam. Pada umur tanaman mencapai 20 hari sejak semprotkan pupuk cair organik dengan dosis 3 liter per hektar.

Selain pupuk kandang, diperlukan pupuk Kimia terutama yang mengandung unsur Nitrogen (N) yang tinggi. Pada umur 2 minggu setelah tanam, pupuk N diberikan di dalam garitan sejauh ±5 cm dari tanaman. Kemudian pupuk ditutup dengan tanah. Dosis pupuk dengan unsur Nitrogen ± 60 kg/ha atau pupuk ZA (mengandung unsur Nitrogen dan Sulfur) dengan dosis 300 kg/ha. Pupuk tersebut dapat diberikan dua kali dengan selang 2 minggu,

Penyiangan
Meskipun siklus panennya cepat, penyiangan tetap diperlukan karena tanaman selada ini memiliki akar yang dangkal sehingga daya saingnya sangat rendah dibanding tanaman pengganggu. Untuk itu perlu ada penyiangan yang teratur dengan cara mencabut tanaman pengganggu. Dalam budidaya selada biasanya diperlukan minimal satu kali penyiangan gulma selama masa budidaya.

Cara penyiangan gulma sedkit berbeda pada musim kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau gulma dicabut atau dipotong, kemudian dibiarkan di permukaan tanah. Gunanya sebagai tambahan pupuk hijau dan membentuk mulsa untuk mengurangi penguapan. Sehingga air untuk penyiraman bisa dihemat. Pada musim hujan, gulma harus dicabut dan bedengan harus bersih dari hijauan. Hal ini untuk menghindari tumbuhnya jamuir dan penyakit di sekitar tanaman selada akibat kelembaban yang tinggi.

6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
OPT penting yang menyerang tanaman selada antara lain kutu daun (Myzus persicae) dan penyakit busuk akar karena Rhizoctonia sp.. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Apabila diperlukan pestisida, gunakan pestisida yang aman sesuai kebutuhan dengan memperhatikan ketepatan pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu, interval aplikasi dan cara a plikasi.

7. Panen dan Pascapanen
Budidaya selada dapat dipanen setelah berumur ± 2 bulan. Selada bisa dipanen 20-30 hari setelah bibit ditanam. Jadi, bila dihitung mulai dari penyemaian sampai panen, kira-kira dibutuhkan 40-60 hari. Produktiivitas tanaman selada keriting bisa mencapai 15-20 ton per hektar. Selada cepat layu, sehingga untuk menjaga kualitasnya harus ditempatkan di wadah berisi air.

Panen dapat dilakukan dengan cara mencabut batang tanaman dengan akar-akarnya atau memotong pangkal batang. Setelah dipanen, bagian akar selada kriting dicuci dan daun-daun yang rusak dibuang. Kelompokkan daun selada keriting berdasarkan ukuran. Pengerjaan pasca panen harus dilakukan dengan cepat dan segera karena tanaman selada keriting tak tahan panas dan penguapan. Apabila pengangkutan ke pasar ada jeda waktu yang lama, simpanlah sayuran tersebut di tempat yang lembab dekat dengan air atau secara rutin diciprati air.


Budidaya Timun Suri


Timun suri, dari sisi nama dan bentuknya, orang banyak mengasosiasikan tanaman ini sebagai jenis-jenis mentimun. Namun tahukah anda, timun suri sesungguhnya lebih mendekati tanaman melon, semangka dan blewah dibanding mentimun?

Riset yang dilakukan Laboratorium Biologi Genetika UGM mengatakan timun suri memiliki kromosom inti selnya 2n=24, sementara mentimun 2n=14.  Bentuk daunnya lebih membulat seperti melon, sedangkan mentimun meruncing. Bijinya juga demikian, lebih pendek seperti melon.

Petani mengenal timun suri sebagai tanaman yang memiliki hama seperti mentimun. Upaya pengendaliannya pun biasanya diperlakukan sama. Hanya saja tanaman ini lebih bandel dalam menghadapi hama-hama tersebut. Hal ini salah satunya disebabkan oleh keserampakan dalam pertumbuhan cabang dan tunas batangnya yang cukup banyak dan kokoh.

Timun suri kaya akan provitamin A, berfungsi sebagai antioksidan alami pencegah rusaknya sel tubuh. Selain itu, memiliki kandungan Vitamin C yang cukup tinggi. Selain vitamin buah ini kaya dengan mineral esensial seperti kalsium, fosfor dan zat besi.

Berikut mengenai budidaya Timun Suri:

Pengolahan lahan
Cangkul halus tanah yang akan dipakai untuk budidaya timun suri lebih baik ditanam pada tanah datar dan tidak dibuat bedengan. Lalu lakukan pembuatan lubang tanam berukuran 1 x 1 meter, masukkan pupuk kompos atau pupuk kandang kadalam tiap lubang masing-masing sekita 1 kg, lalu diamkan selama 2 hari.

Penanaman benih
Penanaman dilakukan setelah tanah yang diberi pupuk dibiarkan selama 2 hari. Masukkan benih sebanyak 2 biji kedalam setiap lubang tanam lalu kemudian tutup  dan siram secara teratur sampai tanaman tumbuh. Biasanya tanaman tumbuh secara serempak pada 7 hari setelah tanam. Jika ada yang belum tumbuh sampai umur tersebut maka lakukan penyulaman.

Benih biasanya dipakai minimal 1 tahun setelah diproduksi, kekuatannya tergantung pada perawatan dan penyimpanan benih. Biasanya benih bisa digunakan hingga 1,5 tahun.

Pemeliharaan dan Perawatan timun suri
Pada umur 7 hari setelah tanam lakukan penyiangan. Tanaman yang sudah dewasa mampu bersaing dengan gulma. Bahkan jika sudah berbuah, gulma ini menguntungkan karena menjadi alas antara buah dengan tanah. Sehingga buah tidak berhubungan langsung dengan tanah dan terhindar dari serangan cacing dan hewan-hewan yang berasal dari dalam tanah.

Timun suri merupakan tanaman yang bandel dan tahan kekeringan. Untuk itu penanganannya tidak terlalu sulit dan tidak perlu disiram secara rutin.

Pemanenan
Umur tanaman timun suri dari mulai tanam hingga panen pertama berkisar 60-75 hari, tergantung dari varietas benih. Panen dilakukan secara bertahap hingga 10 kali pengambilan.

Buah yang sudah layak panen bisa dilihat dengan cara mengecek buah yang sudah lepas dari tangkainya. Setelah buah dipetik, lakukan pencucian, sortasi dan pengkelasan lalu packing untuk dijual ke pasar ataupun kerumah-rumah. Timun suri mengalami puncak permintaannya setiap bulan puasa sebagai sajian untuk berbuka.


Budidaya Tanaman Mentimun

Mentimun (Cucumis sativus L.) adalah sayuran paling mudah diolah. Tidak perlu dimasak atau ditumis, cukup dicuci atau dikupas, dimakan ment...