Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi. Show all posts

Sunday, 19 February 2017

Pertanian Organik sebagai Metode Bertani Masa Depan (bagian 1 dari 3)


Pengantar
Memasuki abad ke-21 banyak keluhan masyarakat tentang berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah, pengapuran, dan lain-lain. Salah satu penyebabnya adalah karena pola makan. Pada zaman sekarang ini banyak sekali bahan makanan yang diolah dengan berbagai tambahan bahan kimia.

Penggunaan Pestisida
Budaya petani yang menggunakan pestisida kimia dengan frekuensi dan dosis berlebih menghasilkan pangan yang mengandung  toksin atau racun (dalam jumlah yang kecil) dan bahan pangan tersebut secara perlahan meracuni tubuh konsumen.

Adanya logam-logam berat yang terkandung di dalam pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.

Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan pestisida baik insektisida dan fungisida oleh petani sudah merupakan hal yang sangat akrab dengan petani kita. Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.

Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk pegendalian OPT di lahannya antara lain karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik.

Penggunaan Pupuk
Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.

Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan, khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen (N) dan kalium (K). Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.

Efisiensi penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yang berjumlah enam buah (PT Pusri Palembang, PT Petrokimia Gresik, PT Kujang, dan seterusnya)  telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini belum terlaksana.

Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak berimbang.


Tanaman untuk membuat Pestisida Nabati


Mengenai pemberantasan hama dan penyakit tanaman, kearifan lokal mempunyai banyak pilihan agens nabati berupa tanaman pestisida nabati yang berfungsi sebagai pestisida, insektisida, fungisida, nematoda, bakterisida, seperti tabel dibawah ini:

Tabel Tanaman yang digunakan sebagai Pestisida Nabati

Nama Tanaman
Nama Ilmiah
Bagian Tanaman
Jenis Pestisida
Akar Tuba Derris eliptica (Roxb.) Benth. Akar Insektisida
Alamanda Allamanda cathartica L. Bunga, daun Insektisida
Babadotan Ageratum conyzoides Linn. Daun, batang,
akar
Insektisida
Nematisida
Bakung Crinum asiaticum L herba bakterisida,
Balakama ,
Ruku-ruku & Selasih
Kemangi
Ocimum basillicum L
Ocimum basillicum var ormacitratum
Daun, biji Insektisida
Bawang Merah
Bawang Putih
Allium cepa L.
Allium sativum L.
Umbi Insektisida,
Fungisida
Nematisida
Bengkoang Pachyrhizus erosus (L.) Urban. Biji Racun ikan
Brotowali Tinospora crispa (L.) Miers Batang Mengusir tikus
Cengkeh Eugenia aromatica O.K. Daun, bunga, tangkai bunga insektisida, fungisida, bakterisida, dan nematosida
Jarak Jatropha curcas Linn Biji, Daun Anti mikroba
Jeringau, Dringo Acorus calamus Linn. Daun, umbi Insektisida
Kecubung Datura metel L. Bunga , daun Insektisida
Kelapa Cocos nucifera Linn. Air buah Bakterisida,  ZPT
Krisan Chrysanthemumcinerariaefolium VIS                        Mahkota bunga insektisida, fungisida, dan nematisida
Kunyit Curcuma longa Linn. Rimpang insektisida
Lengkuas Alpinia purpurata K.Schum Rimpang Bakterisida
fungisida
Mimba Azadirachta indica A.Juss. Daun, buah insektisida, bakterisida, fungisida, acarisida, nematisida.
Mindi Melia azedarach Linn biji insektisida, fungisida, dan nematosida
Pepaya Carica papaya L. Daun insektisida
Serai Wangi Andropogon nardus L. Daun, batang insektisida, bakterisida, dan nematisida
Sirih Piper betle Linn. Daun Fungisida, bakterisida
Sirsak Annona muricata Linn. Daun Insektisida
Tembakau Nicotiana tabacum L. Daun Insektisida
Titonia Tithonia difersifolia A. Gray Daun Insektisida

Disamping agens nabati tersebut diatas untuk mengatasi hama dan penyakit, tersedia dan telah dikembangkan  pula beberapa jenis Agens Hayati berupa:  cendawan, parasitoid, bakteri bahkan virus.

Cara bekerjanya memang  berbeda. Jika pestisida kimia bersifat membunuh langsung mati hama sekaligus berdampak negatif, maka   pesitisda/insektisida   disamping aman juga  bersifat  spesifik dan feeding deterrent,  yaitu awalnya mengurangi selera makan hama, sehingga tidak lagi berbahaya bagi tanaman, sampai mati setelah 2 minggu.

Edited & Writed by Baranur

Saturday, 18 February 2017

Unsur Hara Esensial dan Non Esensial


A. Unsur Hara Esensial
Unsur hara esensial adalah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Bila jumlahnya tidak mencukupi, maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan Normal, diantaranya :
Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo), Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl).

1. Unsur Hara Makro 
Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif besar. Dari jumlah yang tersedia di alam unsur hara makro terbagi menjadi 2 (dua), yaitu Jumlah tak terbatas dan Jumlah terbatas.

Fungsi Unsur Hara Makro Esensial dan Jumlah Tak Terbatas

Unsur Hara Makro esensial ini mempunyai Jumlah tak terbatas dialam dan tidak perlu diusahakan pengadaannya. Unsur hara ini disebut juga pokok, karena penyusun bahan organik,  jumlahnya tak terbatas di alam.  Tidak ada kasus kekurangan, kalaupun ada gejalanya layu menyeluruh dan merata karena tanaman tidak disiram atau kekurangan air.

a.  Karbon (C)
Sebagai pembangun bahan organik karena sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik, diambil tanaman berupa C02.

b. Hidrogen (H)
Sebagai elemen pokok pembangun bahan organik. diambil dalam bentuk air (H2O)

c. Oksigen (O)
Sebagai pembangun bahan organik, respirasi, dan pembakar energi. diambil oleh tanaman dalam bentuk Oksigen Bebas(O2) atau air (H2O).

Fungsi Unsur Hara Makro Esensial dan Jumlah Terbatas
Unsur Hara Makro esensial ini mempunyai jumlah terbatas, dan perlu diusahakan pengadaannya. Jumlah terbatas bahkan sangat kecil di alam atau jumlah kecil yang bisa diserap tanaman, harus diusahakan pengadaannya karena nutrisi ini begitu penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

a. Nitrogen (N)
* Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
* Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri.
* Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman.
* Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun.

Kekurangan unsur N menyebabkan pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.

b. Phosfor (P)
* Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman.
* Merangsang pembungaan dan pembuahan.
* Merangsang pertumbuhan akar.
* Merangsang pembentukan biji.
* Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel.

Kekurangan unsur P menyebabkan pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat ).

c. Kalium (K)
* Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
* Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit.

Kekurangan Kalium menyebabkan batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.

d. Calsium (Ca)
* Merupakan bagian penting dari dinding sel dan sangat penting untuk menunjang proses pertumbuhan.
* Kalsium adalah untuk menyusun klorofil.
* Dibutuhkan enzim untuk metabolis karbohidrat, serta mempergiat sel meristem.

Kekurangan Calsium mengakibatkan terjadinya disintegrasi pada ujung-ujung tanaman (ujung batang, akar, dan buah)  sehingga ujungnya menjadi mengering atau mati, tunas daun yang masih muda akan tumbuh abnormal.

e. Magnesium (Mg)
* Merupakan penyusun utama khlorofil yang menentukan laju fotosintesa / pembentukan karbohidrat.
* Berfungsi untuk transportasi fosfat.
* menciptakan warna hijau pada daun.

Kekurangan Mn menyebabkan menguningnya daun yang dimulai dari ujung dan bagian bawah daun.

f. Sulfur (S) / Belerang
* Pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman
* Pertumbuhan anakan pada tanaman
* Berperan dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur
* Pada beberapa jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papain

Kekurangan S pada tanaman pada umumnya mirip kekurangan unsur nitrogen. misalnya daun berwarna hijau mudah pucat hingga berwarna kuning, tanaman kurus dan kerdil, perkembangannya lambat.

2. Unsur Hara Mikro
Fungsi Unsur Hara Mikro Esensial dan Jumlah Terbatas
Unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif kecil, bila berlebihan menjadi racun. Diantaranya : Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn) dan,

a. Ferrit (Fe)/besi 
Berfungsi untuk pembentukan klorofil. Akibat kekurangan Fe yaitu daun menguning dan ahirnya mati dari pucuk.

b. Mangan (Mn) 
Berfungsi untuk penyusunan klorofil, perkecambahan, dan pemasakan buah. Ciri kekurangan Mn yaitu biji yang terbentuk akan sangat jelek, daun menguning dan beberapa jaringan akan mati.

c. Tembaga/Cupprum (Cu)
Tembaga berfungsi untuk sebagai salah satu unsur pembentukan klorofil dan proses fotosintesis.  Ciri kekurangan  tembaga daun tidak merata dan daun sering layu, malah terkadang klorosis.

d. Seng/zink (Zn)
Zink (Zn) berfungsi memberi dorongan terhadap pertumbuhan tanaman karena diduga Zn dapat berfungsi untuk membebtuk hormon tumbuh. Kekuranan unsur ini ditandai dengan daun berwarna aneh-aneh misal kekuning-kuningan atau pada daun yang sudah tua berwarna kemerahan. Kalau diperhatikan dengan seksama cabang dan batangpun ikut terkena bencana yang mengakibatkan terdapatnya lubang kecil-kecil.

e. Boron (B) 
Berfungsi:
* Mengangkut karbohidrat kedalam tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium.
* Di dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif.
* Pada tanaman penghasil  biji unsur ini berpengaruh terhadap pembagian sel.
* Menaikkan mutu tanaman sayuran dan tanaman buah.

Kekurangan unsur boron:
* paling nyata tampak pada tepi-tepi daun yaitu gejala klorosis, mulai dari bagian bawah daun.  daun yang baru muncul terlihat kecil dan tanaman agak kerdil cabang tumbuh sejajar. kuncup-kuncup mati dan berwarna hitam.
* menimbulkan penyakit fisiologis , khususnya pada atanaman sayur dan buah, pada tanaman semangka biasanya ditandai dengan pertumbuhan batang muda yang tegak berdiri, ruas pendek, daun mengecil, dan bila terkena angin batang muda tersebut mudah patah dan mengeluarkan cairan berwarna kecoklatan, terutama pada tanaman sayur  dan buah.
kekurangan unsur ini agak sulit dibedakan dengan tanaman yang terkena serangan virus. Dan pada tanaman jagung kekurangan unsur ini bisa mengakibaatkan tongkol tanpa biji sama sekali ( mirip jagung yang tidak terbuahi).


B. Unsur Hara Non Esensial
Unsur hara ini berperan dalam jumlah yang relatif kecil, Akibat Kekurangan unsur hara ini belum banyak dipelajari karena perannya dapat digantikan dengan unsur hara lainnya. Unsur ini jarang sekali bisa tersedia di alam dan mempunyai jumlah yang terbatas. Diantaranya: Molibdenum (Mo), Klor (Cl), Natrium (Na), Cobalt (Co), Silicon (Si), dan Nikel (Ni).

a. Klorin (Cl)
Klorin diperlukan untuk osmosis dan keseimbangan ionik sel bagian dari regulasi energi, juga memainkan peran dalam fotosintesis.

b. Cobalt (Co)
Untuk Fiksasi nitrogen dalam penyerapan unsur N (Nitrogen), Cobalt dapat digantikan perannya dengan Natrium (Na), dan Molibdenum (Mo).

c. Molibdenum (Mo)
Sebagai kofaktor pada beberapa enzim penting untuk membangun asam amino.

d. Natrium (Na)
Sebagai keseimbangan ion pada regulasi energi untuk membuka dan menutupnya stomata.

e. Silicon (Si)
Tersimpan dalam dinding sel yang mengakibatkan sifat mekanis sel yaitu kaku atau elastis.

f. Nikel (Ni)
Pada tanaman Keras/tumbuhan tingkat tinggi sebagai aktivasi urease (enzim yang berperan dalam metabolisme Nitrogen untuk proses perombakan urea).
Pada tanaman tingkat rendah, sebagai kofaktor beberapa enzim.
Perannya dapat digantikan dengan  Seng (Zn) dan Besi (Fe).

Penulis: Baranur

Akibat Kekurangan Unsur Hara


Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya, yaitu adanya kelainan atau penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda (dimulai dari proses penyemaian).

Gejala kekurangan ini cepat atau lambat akan terlihat pada tanaman, tergantung pada jenis dan sifat tanaman. Ada tanaman yang cepat sekali memperlihatkan tanda-tanda kekurangan atau sebaliknya ada yang lambat. Pada umumnya pertama-tama akan terlihat pada bagian tanaman yang melakukan kegiatan fisiologis terbesar, yaitu pada bagian yang ada di atas tanah terutama pada daun-daunnya.

1. Nitrogen (N)
Kekurangan unsur hara Nitrogen (N)
a. Warna daun menjadi hijau agak kekuning-kuningan dan pada tanaman padi warna ini mulai dari ujung daun menjalar ke tulang daun selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap, sehingga seluruh tanaman berwarna pucat kekuning-kuningan. Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan.
b. Pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil
c. Perkembangan buah tidak sempurna atau tidak baik, seringkali masak sebelum waktunya
d. Dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan menebalnya membran sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil
e. Dalam keadaan kekurangan yang parah, daun menjadi kering, dimulai dari bagian bawah terus ke bagian atas

2. Phosfor (P)
Kekurangan unsur hara Phosfor (P)
a. Terhambatnya pertumbuhan sistem perakaran, batang dan daun
b. Warna daun seluruhnya berubah menjadi hijau tua/keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Pada tepi daun, cabang dan batang terdapat warna merah ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning.
c. Hasil tanaman yang berupa bunga, buah dan biji merosot. Buahnya kerdil-kerdil, nampak jelek dan lekas matang.

3. Kalium (K)
Kekurangan unsur hara Kalium (K)
Defisiensi/kekurangan Kalium memang agak sulit diketahui gejalanya, karena gejala ini jarang ditampakkan ketika tanaman masih muda.
a. Daun-daun berubah jadi mengerut alias keriting (untuk tanaman kentang akan menggulung) dan kadang-kadang mengkilap terutama pada daun tua, tetapi tidak merata. Selanjutnya ujung dan tepi daun tampak menguning, warna seperti ini tampak pula di antara tulang-tulang daun pada akhirnya daun tampak bercak-bercak kotor (merah coklat), sering pula bagian yang berbercak ini jatuh sehingga daun tampak bergerigi dan kemudian mati
b. Batangnya lemah dan pendek-pendek, sehingga tanaman tampak kerdil
c. Buah tumbuh tidak sempurna, kecil, mutunya jelek, hasilnya rendah dan tidak tahan disimpan
d. Pada tanaman kelapa dan jeruk, buah mudah gugur
e. Bagi tanaman berumbi, hasil umbinya sangat kurang dan kadar hidrat arangnya demikian rendah

Khusus untuk tanaman padi, gejala kekurangan unsur Kalium dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Daun
Daun tanaman padi yang kekurangan Kalium akan berwarna hijau gelap dengan banyaknya bintik-bintik yang warnanya yang menyerupai karat. Bintik-bintik itu pertama-tama muncul pada bagian atas daun yang sudah tua, ujung daun dan tepi daun menjadi seperti terbakar (necrotic), berwarna coklat kemerahan atau coklat kuning. Daun-daun tua, khususnya di tengah hari akan terkulai dan daun-daun muda menggulung ke arah atas dan memperlihatkan gejala-gejala kekurangan air
b. Batang
Batang tanaman padi yang kekurangan Kalium akan tumbuh pendek dan kurus. Dan kebanyakan varietas-varietas padi yang kekurangan Kalium lebih mudah rebah
c. Akar
Pertumbuhan akar biasanya sangat terbatas, ujung akar akan tumbuh kurus dan pendek, dan akar selalu cenderung berwarna gelam dan hitam. Akar-akar cabang dan akar rambat sangat kurus dan selalu memperlihatkan gejala pembusukan akar.
d. Bulir dan Malai
Pertumbuhannya akan pendek dan umumnya mempunyai persentase kehampaan buah yang tinggi. Sedang jumlah bulir yang berisi untuk setiap helainya akan rendah, bulir-bulir padi akan berukuran kecil dan tidak teratur bentuknya, mutu dan berat 1.000 bulir akan berkurang, persentase bulir-bulir yang tidak berkembang dan tidak dewasa bertambah.

4. Belerang (S)
Kekurangan unsur hara Belerang (S)
a. Daun-daun muda mengalami klorosis (berubah menjadi kuning), perubahan warna umumnya terjadi pada seluruh daun muda, kadang mengkilap keputih-putihan dan kadang-kadang perubahannya tidak merata tetapi berlangsung pada bagian daun selengkapnya
b. Perubahan warna daun dapat pula menjadi kuning sama sekali, sehingga tanaman tampak berdaun kuning dan hijau, seperti misalnya gejala-gejala yang tampak pada daun tanaman teh di beberapa tempat di Kenya yang terkenal dengan sebutan ’Tea Yellow’ atau ‘Yellow Disease’
c. Tanaman tumbuh terlambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus, batang tanaman berserat, berkayu dan berdiameter kecil
d. Pada tanaman tebu yang menyebabkan rendemen gula rendah
e. Jumlah anakan terbatas.

5. Kalsium (Ca)
Kekurangan unsur hara Kalsium (Ca)
a. Daun-daun muda selain berkeriput mengalami perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis (berubah menjadi kuning) dan warna ini menjalar di antara tulang-tulang daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa tempat mati
b. Kuncup-kuncup muda yang telah tumbuh akan mati
c. Pertumbuhan sistem perakarannya terhambat, kurang sempurna malah sering salah bentuk
d. Pertumbuhan tanaman demikian lemah dan menderita

6. Magnesium (Mg)
Kekurangan unsur hara Magnesium (Mg)
a. Daun-daun tua mengalami klorosis (berubah menjadi kuning) dan tampak di antara tulang-tulang daun, sedang tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian di antara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak-bercak merah kecoklatan
b. Daun-daun mudah terbakar oleh teriknya sinar matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut
c. Pada tanaman biji-bijian, daya tumbuh biji kurang/lemah, malah kalau toh ia tetap tumbuh maka ia akan nampak lemah sekali.

7. Besi (Fe)
Kekurangan unsur hara Besi (Fe)
Defisiensi (kekurangan) zat besi sesungguhnya jarang terjadi. Terjadinya gejala-gejala pada bagian tanaman (terutama daun) kemudian dinyatakan sebagai kekurangan tersedianya zat besi adalah karena tidak seimbang tersedianya zat Besi (Fe) dengan zat kapur/ Kalsium (Ca) pada tanah serta tanah yang berlebihan kapur dan bersifat alkalis. Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah-daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur.
a. Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat-setempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuning-kuningan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati
b. Selanjutnya pada tulang daun terjadi klorosis, yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi kuning dan ada pula yang menjadi putih
c. Gejala selanjutnya yang lebih hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda banyak yang menjadi kering dan berjatuhan
d. Pertumbuhan tanaman seolah terhenti akibatnya daun berguguran dan akhirnya mati mulai dari pucuk.

8. Mangan (Mn)
Kekurangan unsur hara Mangan (Mn)
Gejala kekurangan Mangan (Mn) hampir sama dengan gejala kekurangan Besi (Fe) pada tanaman, yaitu:
a. Pada daun-daun muda di antara tulang-tulang dan secara setempat-setempat terjadi klorosis dari warna hijau menjadi warna kuning yang selanjutnya menjadi putih
b. Tulang-tulang daunnya tetap berwarna hijau, ada yang sampai kebagian sisi-sisi dari tulang
c. Jaringan-jaringan pada bagian daun yang klorosis mati sehingga praktis bagian-bagian tersebut mati, mengering, ada kalanya yang terus mengeriput dan ada pula yang jatuh sehingga daun tampak menggerigi
d. Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, terutama pada tanaman sayuran tomat, seledri, kentang dan lain-lain, begitu juga pada tanaman jeruk, tembakau dan kedelai
e. Pada tanaman gandum, bagian tengah helai daun berwarna coklat, kemudian patah
f. Pembentukan biji-bijian kurang baik (jelek).

9. Tembaga (Cu)
Kekurangan unsur hara Tembaga/Cuprum(Cu)
Kekurangan unsur hara Tembaga (Cu) terkadang ditemukan pada tanah-tanah organik yang agak asam, tanda-tandanya dapat dilihat sebagai berikut:
a. Pada bagian daun, terutama daun-daun yang masih muda tampak layu dan kemudian mati (die back), sedang ranting-rantingnya berubah warna pula menjadi coklat dan mati pula
b. Ujung daun secara tidak merata sering ditemukan layu, malah kadang-kadang klorosis, sekalipun jaringan-jaringannya tidak ada yang mati
c. Pada tanaman jeruk kekurangan unsur hara tembaga ini menyebabkan daun berwarna hijau gelap dan berukuran besar, ranting berwarna coklat dan mati, buah kecil dan berwarna coklat
d. Pada bagian buah, buah-buahan tanaman pada umumnya kecil-kecil warna coklat dan bagian dalamnya didapatkan sejenis perekat (gum).

10. Seng (Zn)
Kekurangan unsur hara Seng/Zincum (Zn)
a. Terjadi penyimpangan pertumbuhan pada bagian daun-daun yang tua, yaitu:
* Bentuknya lebih kecil dan sempit daripada bentuk umumnya
* Klorosis terjadi di antara tulang-tulang daun
* Daun mati sebelum waktunya, kemudian berguguran dimulai dari daun-daun yang ada di bagian bawah menuju ke puncak
b. Pada padi sawah gejala terlihat 2 - 4 minggu setelah tanam, yaitu adanya pemutihan di bagian tengah daun. Kekurangan yang parah menyebabkan daun tidak mau terbuka
c. Pada tanaman jagung gejala terlihat 1 - 2 minggu setelah bibit muncul di permukaan tanah, daun-daun muda menunjukkan garis-garis kuning dan terus menguning sampai ke dasar daun, sedang tepi daun tetap hijau
d. Pada kacang tanah gejala terlihat setelah tanaman berumur 1 bulan, mula-mula jaringan di antara urat-urat dan nampak menguning dan akhirnya hanya pada urat-urat daun saja akan tetap hijau. Tanaman kerdil dan polong sedikit.

11. Molibdenum (Mo)
Kekurangan unsur hara Molibdenum (Mo)
a. Secara umum daun-daun mengalami perubahan, kadang-kadang mengalami pengkerutan terlebih dahulu sebelum mengering dan mati. Mati pucuk (die back) biasa pula terjadi pada tanaman yang kekurangan unsur hara Mo
b. Pertumbuhan tanaman tidak normal, terutama pada tanaman sayuran. Daun keriput dan mengering.

12. Boron (Bo)
Kekurangan unsur hara Boron/Borium (Bo)
Walaupun unsur hara Bo hanya sedikit saja yang diperlukan tanaman bagi pertumbuhannya, tetapi kalau unsur ini tidak tersedia bagi tanaman gejalanya cukup serius.
a. Daun-daun yang masih muda terjadi klorosis, secara setempat-setempat pada permukaan daun bawah yang selanjutnya menjalar kebagian tepi-tepinya. Jaringan daun mati
b. Daun yang baru muncul tumbuh kerdil, kuncup-kuncup mati dan berwarna kehitaman atau coklat
c. Dapat menimbulkan penyakir fisiologis, khususnya pada tanaman sayuran, tembakau dan apel. Malah pada jagung bisa menimbulkan tongkol tanpa biji sama sekali
d. Pada umbi-umbian pertumbuhannya kerdil, terdapat bercak-bercak atau lubang berwarna hitam pada umbi
e. Pada tanaman bayam dan selada pucuk tanaman tumbuh tidak sempurna dan berwarna hitam
f. Tangkai daun seledri membentuk celah-celah dan garis-garis tak teratur berwarna coklat. Anak-anak daun seledri berbercak-bercak coklat.

13. Klorida (Cl)
Kekurangan unsur hara Klorida (Cl)
a. Dapat menimbulkan gejala pertumbuhan daun yang kurang normal terutama pada tanaman sayur-sayuran, daun tampak kurang sehat dan berwarna tembaga
b. Kadang-kadang pertumbuhan tanaman tomat, gandum dan kapas menunjukkan gejala seperti di atas.

Writed by Baranur

Unsur Hara (Pengertian dan Fungsinya)


Unsur hara yaitu suatu zat yang dapat memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan juga perkembangan fisik pada tanaman. Antara Unsur hara satu dengan yang lainnya tak bisa digantikan dengan unsur lainnya karena termasuk unsur esensial yang harus ada dalam jumlah tertentu dengan takaran yang pas bagi masing-masing tanaman. Unsur hara terdiri dari beberapa jenis unsur yang dapat diperoleh dari udara melalui stomata dan juga lentisel pada tanaman dan bisa diperoleh dari tanah melalui akar.

Pengertian unsur hara itu sendiri adalah nutrisi yang dibutuhkan tanaman yang terbentuk dari bahan organik dan anorganik. Berdasarkan jumlah yang diserap tanaman pada umumnya, unsur hara dibedakan menjadi dua yaitu:

* Unsur Hara Makro yang terdiri dari Primer dan Sekunder;
* Unsur Mikro.

Unsur Hara Makro Primer

Nitrogen (N):
Nitrogen merupakan unsur mobile (jika tidak cukup tersedia, bisa pindah dari daun tua ke daun muda) didalam tanaman
Fungsi : Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan; mendorong pembentukan daun dan batang tanaman; pembentuk klorofil (zat hijau daun); mempercepat pertumbuhan tanaman, tinggi tanaman, jumlah cabang dan jumlah anakan; penyusun Protein, Enzim, dan Asam Nukleat

Kekurangan : Pertumbuhan tanaman terhambat, gejala kekurangannya akan dimulai pada daun-daun yang lebih tua, daun-daun tua lebih cepat gugur, karena N yang ada pada daun tua ditransfer ke daun muda. Gejalanya ditandai berupa menguningnya daun. Kadang-kadang warna daun menjadi kemerahan sebagai akibat terbentuknya "anthocyanin".:

Kelebihan : Hal ini terjadi jika pemupukan tidak tersebar secara merata, akar tanaman menjadi rusak, busuk dan mati. Jika pupuk N disebar dan percikannya mengenai daun, maka daun akan mengalami bercak, kadang-kadang rantingnya ikut mati.

Phospor (P):
Fungsi : Merangsang pertumbuhan akar/umbi; mendorong pembentukan bunga dan buah; memperkuat tegaknya batang; meningkatkan rendemen & komponen hasil panen; meningkatkan mutu benih dan bibit

Kekurangan : Tanaman tumbuh merana, lemah dan mudah rebah; pembentukan bunga dan buah terlambat; pada tanaman umbi, umbinya tidak membesar; memicu rontoknya daun, gejala ditunjukkan munculnya warna kemerahan atau keunguan sebagai akibat pembentukan anthocyanin.

Kelebihan : Pertumbuhan tanaman terhambat, karena terjadinya ikatan N-P yang menyulitkan penyerapan unsur N oleh tanaman.

Kalium (K):
Fungsi : Membantu transportasi hasil fotosintesa dari daun ke seluruh tubuh tanaman; membuat tanaman lebih tegak dan kokoh; meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama/penyakit, kekeringan dan berperan dalam pembentukan pati, gula, dan minyak; meningkatkan persentasi gabah (isi, bobot, bulir per malai); meningkatkan ketahanan hasil panen selama pengangkutan dan penyimpanan; membantu pertumbuhan akar & batang lebih kuat; berperan penting dalam Proses sintesa protein, Proses pengangkutan pati dan gula serta Aktifitas enzim

Kekurangan : Ditandai dengan munculnya bercak-bercak kuning pada daun, diikuti dengan mati/"mengeringnya" ujung dan pinggiran daun. Kejadian ini dimulai dari bagian tanaman yang lebih tua. Hasil fotosintesa kurang/ tidak akan diserap oleh sel tubuh tanaman. Pada tanaman buah akan mengurangi rasa manisnya buah; mudah terserang patogen tanaman; batang mudah rebah.

Kelebihan : Pertumbuhan tanaman terhambat, karena terjadinya ikatan N-K yang mengakibatkan sulitnya penyerapan unsure N; pada tanaman Cucurbitaceae daun menjadi kaku, mudah pecah, buah retak-retak.


Unsur Hara Makro Sekunder

Kalsium (Ca):
Biasa tersedia dalam bentuk zat kapur.
Fungsi : Mempercepat pertumbuhan akar, mempermudah penyerapan kalium oleh tanaman, menetralkan kemasaman tanah yang sebagian besar mengandung unsure mikro menjadi dalam  keadaan “tersedia” bagi tanaman.

Kekurangan : Pertumbuhan akar terhambat, menyebabkan kemasaman tanah tinggi yang berakibat klorisis pada daun. Kekurangan kalsium juga menyebabkan terjadinya kerusakan sel-sel apikal pada tunas dan daun. Hal ini menyebabkan tunas dan daun mati. Keadaan ini sering diawali dengan matinya ("mengeringnya") pinggiran daun muda.

Kelebihan : Tidak akan banyak mempengaruhi tanaman, tetapi kalau terlalu banyak (misalnya pada tanah berkapur) pada musim kering banyak tanaman mengalami dehidrasi (keluarnya zat cair pada tanaman).


Magnesium (Mg):
Fungsi: Merupakan bagian dari klorofil daun, penting dalam proses pembentukan klorofil, membantu distribusi Phospor keseluruh tubuh tanaman.

Kekurangan : Klorisis pada daun, ditunjukkan oleh muculnya bercak-bercak berwarna kuning pada daun, tetapi tulang daunnya masih berwarna hijau. Dimulai pada daun-daun yang lebih tua kemudian diikuti pada daun-daun lebih muda.

Kelebihan : Hampir tidak mempengaruhi tanaman, kecuali dalam jumlah yang sangat besar.


Belerang (S):
Fungsi : Meningkatkan pengaruh kerja phospor, meningkatkan kwalitas hasil panen, berperan dalam metabolisme karbohid rat, meningkatkan ketahanan hasil panen, meningkatkan rendemen hasil panen gula pada tebu dan tembakau, komponen pokok asam amino penyusun protein dan enzim

Kekurangan : Kekurangan belerang menyebabkan terhambatnya masa generative tanaman, ditandai dengan menguningnya daun. Diawali dengan daun-daun muda terlebih dahulu. Kadang-kadang disertai juga dengan memerahnya daun.

Kelebihan : Meningkatkan kemasaman tanah yang membahayakan tanaman.



Unsur Hara Mikro

Besi (Fe):
Fungsi : Membantu proses pembentukan klorofil daun, menguatkan batang dan vigor tanaman.

Kekurangan : Kekurangan besi ditunjukkan oleh menguningnya daun yang dimulai dari ujung daun. Daun menjadi sangat mudah patah dan transparan sebelum terlepas. Hygrophylla sp, dan tanaman air lain dengan pertumbuhan cepat, pada kondisi kekurangan Fe, akan menunjukkan gejala ini terlebih dahulu dibandingkan tanaman lain.

Kelebihan : Hampir tidak mempengaruhi tanaman, kecuali dalam jumlah yang sangat besar (tercemar)


Mangan (Mn):
Fungsi : Membantu tanaman dalam menyerap unsur N.

Kekurangan : Mengambat pertumbuhan tanaman, yang ditandai dengan menguningnya bagian daun diantara tulang-tulang daun. Sedangkan tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian yang menguning tersebut akan mati dan meninggalkan lubang-lubang berbentuk memanjang. Kekurangan Mn sering terjadi sebagai akibat pemupukan Fe berlebihan sehingga menyebabkan Mn menjadi tidak tersedia.

Kelebihan : Hampir tidak mempengaruhi tanaman, kecuali dalam jumlah yang sangat besar (tercemar)

Tembaga (Cu) :
Fungsi : Diperlukan dalam proses pembentukan klorofil daun.

Kekurangan : Ujung daun mati dan pinggirannya layu. (Kelebihan Cu dapat membunuh berbagai tanaman, seperti Vallisneria, Ludwigia, Sagitaria, dll). Ranting berwarna coklat, lalu mati dari pucuknya. Pada pohon buah, buah yang terbentuk kecil-kecil. Pada tanaman sayuran sering mengalami kegagalan panen.

Kelebihan : Sering meningkatkan kemasaman tanah, karena berikatan dengan ion sulfat.


Seng (Zn):
Fungsi : Membantu dalam proses pembuatan klorofil daun dan menguatkan batang tanaman.

Kekurangan : Menguningnya bagian daun diantara tulang-tulang daun, pada pinggiran dan pada ujung daun tua.

Kelebihan :


Boron (B):
Fungsi : Meningkatkan vigor tanaman.

Kekurangan : Titik tumbuh mati. Tanaman selanjutnya akan membentuk tunas samping, yang kemudian akan mati pula dengan cepat.

Kelebihan : Dalam jumlah besar menganggu proses fisiologis tanaman.


Molibdenum (Mo):
Fungsi :

Kekurangan : Bintik-bintik kuning diantara tulang daur pada daun lebih tua terlebih dahulu. Diikuiti dengan terbentuknya warna coklat pada pinggiran daun.

Kelebihan :

Klorida (Cl):
Fungsi :

Kekurangan :

Kelebihan :

Demikian Informasi mengenai Unsur Hara, semoga bermanfaat.

Edited: Baranur

Sumber:
Ir. Nur Tjahjadi; Hama dan Penyakit Tanaman; Kanisius; 1989; Yogyakarta; Hal-16-18
Ir. Mul Mulyani Sutedjo; Analisis Tanah, Air, dan Jaringan Tanaman; Rineka Cipta; 2004; Jakarta
http://jokowarino.id/definisi-dan-pengertian-unsur-hara/

Monday, 13 February 2017

Deskripsi Varietas Padi Hibrida


Sembada 168
Nama Varietas : Sembada 168
Kelompok : Padi Sawah
Nomor Seleksi :
Asal Persilangan : Introduksi dari China, merupakan keturunan Pertama hasil persilangan CMS Lu618A x Restorer HR578
Golongan : Indica
Umur Tanaman : ± 113 Hari
Bentuk Tanaman : Tegak
Tinggi Tanaman : ± 114 cm
Anakan Produktif : ± 15 Batang
Warna Kaki : Hijau
Warna Batang : Hijau
Warna Daun Telinga : Hijau
Warna Lidah Daun : Hijau
Warna Helai Daun : Hijau
Muka Daun : Kasar
Posisi Daun : Tegak
Daun Bendera : Tegak
Bentuk Gabah : Ramping
Warna Gabah : Kuning bersih
Kerontokan : Sedang
Kerebahan : Tahan
Tekstur Nasi : Pulen
Kadar Amilosa : ± 21,9 %
Bobot 1000 Butir : ± 30,5 gram
Rata – Rata Produksi : 10,5 ton / ha GKG
Potensi Hasil : 13, 8 ton / ha GKG
Ketahanan Terhadap Hama : Agak Peka terhadap wereng batang coklat biotipe 2 dan 3.
Ketahanan Terhadap Penyakit : Tahan terhadap penyakit hawar daun baktri patotipe III, agak tahan peka patotipe IV dan VIII, peka virus tungro.
Anjuran : Dianjurakan ditanam mengikuti kaidah PTT
Pemulia : Su Yao ; Sudibyo TW. Utomo ; Bambang Sutaryo ; Satoto ; Nofizana Hoenedi.
Dilepas Tahun : 2010
Nama Dagang : PT. BIOGENE PLANTATION

Deskripsi Varietas Padi Unggul


Nama Varietas : Ciherang
Kelompok : Padi Sawah
Nomor Seleksi : S3383-1d-Pn-41–3-1
Asal Persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/IR19661-131-3-1//IR19661-131-3-1/IR64 /IR64
Golongan : Cere
Umur Tanaman : 116-125 hari
Bentuk Tanaman : Tegak
Tinggi Tanaman : 107-115 cm
Anakan Produktif : 14-17 batang
Warna Kaki : Hijau
Warna Batang : Hijau
Warna Daun Telinga : Putih
Warna Lidah Daun : Putih
Warna Helai Daun : Hijau
Muka Daun : Kasar pada sebelah bawah
Posisi Daun : Tegak
Daun Bendera : Tegak
Bentuk Gabah : Panjang ramping
Warna Gabah : Kuning bersih
Kerontokan : Sedang
Kerebahan : Sedang
Tekstur Nasi : Pulen
Kadar Amilosa : 23%
Bobot 1000 Butir : 27-28 g
Rata – Rata Produksi : 6 ton/ha
Potensi Hasil : 5 - 8,5 ton/ha
Ketahanan Terhadap Hama : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3
Ketahanan Terhadap Penyakit : Tahan terhadap bakteri hawar daun (HDB) strain III dan IV
Anjuran : Cocok ditanam pada musim hujan dan kemarau dengan ketinggian di bawah 500 m dpl
Pemulia : Tarjat T., Z.A. Simanullang, E. Sumadi dan Aan A. Daradjat
Dilepas Tahun : 2000
Nama Dagang : Petroseed

Nama Varietas : Cibogo
Kelompok : Padi
Nomor Seleksi : S3382D-PN-16-3-KP-1
Asal Persilangan : IR487B-752/IR19661-131-3-1//IR19661-131-3-1///IR64////IR64
Golongan : Cere
Umur Tanaman : 116-125 hari
Bentuk Tanaman : Tegak
Tinggi Tanaman : 81-120 cm
Anakan Produktif : 12-19 batang
Warna Kaki : Hijau tua
Warna Batang : Hijau muda
Warna Daun Telinga : Putih
Warna Lidah Daun : Putih
Warna Helai Daun : Hijau
Muka Daun : Kasar pada sebelah bawah
Posisi Daun : Tegak
Daun Bendera : Tegak Panjang (menutup malai)
Bentuk Gabah : Panjang ramping
Warna Gabah : Kuning bersih
Kerontokan : Agak tahan
Kerebahan : Sedang
Tekstur Nasi : Pulen
Kadar Amilosa : 24%
Bobot 1000 Butir : 27-30 g
Rata – Rata Produksi : 7 ton/ha
Potensi Hasil : 5 – 8,1 ton/ha
Ketahanan Terhadap Hama : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan Agak Tahan wereng coklat biotipe 3
Ketahanan Terhadap Penyakit : Agak Tahan terhadap bakteri hawar daun (HDB) strain IV dan rentan terhadap penyakit virus tungro
Anjuran : Cocok ditanam pada musim hujan dan kemarau pada lahan sawah sampai 800 m dpl
Pemulia : Aan A. Daradjat, Z.A. Simanullang
Dilepas Tahun : 2003
Nama Dagang :

Nama Varietas : IR 64
Kelompok : Padi Sawah
Nomor Seleksi :
Asal Persilangan :
Golongan : Cere
Umur Tanaman : 85-115 Hari
Bentuk Tanaman : Tegak
Tinggi Tanaman : 95 – 100 cm
Anakan Produktif : Banyak
Warna Kaki : Hijau
Warna Batang : Hijau
Warna Telinga Daun : Hijau Pucat
Warna Lidah Daun : Hijau Pucat
Warna Helai Daun : Hijau Muda
Muka Daun : Kasar
Posisi Daun : Tegak
Daun Bendera : Tegak
Bentuk Gabah : Panjang ramping
Warna Gabah : Kuning bersih
Kerontokan : Tahan
Kerebahan : Tahan
Tekstur Nasi : Pera
Kadar Amilosa : 24,1%
Bobot 1000 Butir : 27-28 g
Rata – Rata Produksi : 4 ton/ha
Potensi Hasil : 3 – 5,5 ton/ha  
Ketahanan Terhadap Hama : Tahan Terhadap Wereng Coklat biotipe 2 dan 3
Ketahanan Terhadap Penyakit : Agak Tahan Hawar daun Bakteri Strain 4
Anjuran : Dapat di tanam pada penghujan
Pemulia :
Dilepas Tahun :
Nama Dagang :

Sumber:
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/padi-varietas-ciherang.html
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/padi-varietas-cibogo.html
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/padi-varietas-ir-64.html
http://oksigenpertanian.wordpress.com/


Tipe Varietas Padi Unggul


Varietas tanaman padi yang dikembangkan dan telah di lepas oleh “DEPTAN” atau (sekarang menjadi) “Kementerian Pertanian” didasarkan pada tipe keunggulan padi. Ada beberapa tipe pada varietas padi unggul yaitu :
1. Varietas unggul produktivitas tinggi
2. Varietas unggul hasil stabil
3. Varietas unggul mutu cita rasa
4. Varietas unggul mutu gizi
5. Varietas unggul sawah dataran tinggi
6. Varietas umur genjah.

1. Unggul Produktivitas Tinggi
Gilingsing,  Cimelati,  Ciapus,  Fatmawati
Keunggulannya : Mampu berproduksi 10-15 ton/ha,  jumlah anakkan 6-12 anakkan tetapi semua terisi, batang kokoh, daun tegak dan tebal,  jumlah gabah >250 butir per malai,  Rasio gabah / jerami > 0,5 sehingga efisien dalam penggunaan hama.

2. Unggul Hasil Stabil
Memberamo,  Widas,  Ciherang,  Cimelati
Keunggulannya : tahan hama wereng coklat dengan rasa nasi enak .
Tukad Petanu, Tukad Undo, Tukad Balian, Kalimas, Bondo yudo.
Keunggulannya : tahan tungro.
Angke, Code.
Keunggulannya : tahan hawar daun.
Indra giri, Punggur, Marta pura, Mendawan, Mergasari, Siak raya , Tenggulang.
Keunggulannya : merupakan varietas padi lahan surut yang toleran terhadap kandungan Fe tinggi, Al dan Asam Sulfat.
Danau Gaung,  Batutegi, Silu gonggo, situ Patenggang,  Situ Bagendit
Keunggulannya : merupakan varietas padi gogo yang toleran terhadap tanah asam (keracunan Al) dan toleran terhadap kekeringan dan naungan.

3.  Unggul Mutu dan Cita Rasa
Ciherang, Cigeulis, Cibogo
Keunggulannya : beras pulen
Batang Lembang,  Batang Piaman
Keunggulannya : beras pera

4.  Unggul  Mutu  Gizi
Aek Sibundong (hasil persilangan Way Apoburu, Widas dan sitali).  
Keunggulannya : merupakan beras merah (lihat manfaat beras merah)
Produktivitas nya 8 ton/ha,  umur genjah 110-120 hari,  tahan wereng coklat biotipe 2 dan 3,  tahan penyakit hawar daun bakteri strain IV,  rasa enak dan pulen,  kaya vit. B kompleks dan Asam Folat.

5. Unggul  Sawah  Dataran  Tinggi
Sarinah,  
Keunggulannya : Produktivitas 6,98 ton/ha,  potensinya seperti Ciherang yang hanya dapat di gunakan di dataran rendah.

6. Umur  Genjah
Silu gonggo dan Ciujug,  
Keunggulannya : cocok untuk antisipasi kekeringaan akibat anomali iklim.

Adapun Varietas Padi unggul yang di resmikan tahun 2008 oleh Bapak Presiden SBY dalam acara Pekan Padi Nasional III di BP Padi Sukamandi. Varietas Padi Unggul tersebut berjumlah 9 varietas, 6 varietas untuk padi lahan irigasi dan 3 varietas untuk padi rawa.  Berikut adalah varietas-varietas padi tersebut:
1. INPARI – 1
Keunggulan: produktivitas 10 ton/ha, genjah, tahan hawar daun bakteri dan mutu baik.
2. INPARI – 2
Keunggulan : Produktivitas 7,3 ton/ha, tahn hawar daun bakteri, tahan wereng coklat.
3. INPARI – 3
Keunggulan : produktivitas 7,5 ton/ha, tahan wereng coklat, hawar daun bakteri dan mutu baik.
4.  INPARI – 4
Keunggulan : produktivitas 8,8 ton/ha, tahan wereng coklat, hawar daun bakteri.
5. INPARI – 5 MERAWU
Keunggulan: produktivitas 7,2 ton/ha, tahan wereng coklat, kandungan Fe tinggi pada beras pecah kulit
6. INPARI – 6 JETE
Keunggulan : produktivitas 12 ton/ha, padi tipe baru, genjah dan tahan wereng coklat.
7. INPARA – 1
Keunggulan : produktivitas 6,4 ton/ha, padi tipe baru, genjah dan tahan wereng coklat
8. INPARA – 2
Keunggulan :prioduktivitas 6,2 ton/ha, padi rawa dan toleran terhadap Al dan Fe.
9. INPARA – 3
Keunggulan : produktivitas 5,6 ton/ha, padi rawa dan tahan rendaman.

Sumber:
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/varietas-padi-lanjutan-2.html

Tanaman Padi dan Varietasnya


Klasifikasi ilmiah tanaman padi menurut Suparyono dan Setyono (1996 cit. Syamsiar, 2009) adalah :
Divisio         : Angiospermae
Subdivisio   : Spermatophyta
Kelas           : Monocotyledoneae
Ordo             : Poales/ Graminaceae
Famili         : Poaceae/ Graminae
Genus           : Oryza
Spesies       : O. sativa L.
Nama binomial Oryza sativa

Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam  peradaban. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.

Di Indonesia, tanaman padi merupakan salah satu tanaman utama. Sebab tanaman ini merupakan penghasil sebagian besar makanan pokok di negeri ini. Tanaman padi dapat dibedakan berdasarkan varietasnya. Varietas tanaman padi ini banyak sekali. Dan hampir setiap tahun muncul dengan sifat genetik yang lebih baik.

Secara umum, tanaman padi dibedakan dalam 3 jenis varietas :

1. Varietas Padi Hibrida

Arti mudahnya bisa dikatakan varietas padi sekali tanam, hasilnya akan maksimal bila sekali ditanam. Tetapi bila keturunannya (benih) ditanam kembali maka hasilnya akan berkurang jauh. Memang varietas ini dibuat atau direkayasa oleh pemiliknya untuk sekali tanam saja. Tujuannya agar petani membeli kembali.

Contohnya: Intani 1 dan 2, PP1, H1, Bernas Prima, Rokan, SL 8 dan 11 SHS, Segera Anak, SEMBADA B3, B5, B8 dan B9,  Hipa 4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Hipa 7, Hipa 8, Hipa 9, Hipa 10, Hipa 11, Long Ping (pusaka 1 dan 2), Adirasa-1, Adirasa-64,  Hibrindo R-1, Hibrindo R-2, Manis-4 dan 5, MIKI-1,2,3, SL 8 SHS, SL 11 HSS, dll.

Varietas padi hibrida ada juga yang dilepas pemerintah, tapi ada juga yang didatangkan (import) dari negara lain.

2. Varietas Padi Unggul

Arti mudahnya varietas ini bisa berkali-kali ditanam dengan perlakuan yang baik. Hasil dari panen varietas ini bisa dijadikan benih kembali.  Varietas padi unggul adalah varietas yang telah di lepas oleh pemerintah dengan SK Menteri Pertanian. Varietas ini telah melewati berbagai uji coba.

Contoh dari varietas ini yang banyak di tanam petani adalah : Ciherang (bisa mencapai 47 % dari total varietas yang ditanam), IR-64, Mekongga, Cimelati, Cibogo, Cisadane, Situ Patenggang, Cigeulis, Ciliwung, Membramo, Sintanur, Jati luhur, Fatmawati, Situbagendit,  dll.

3. Varietas Padi Lokal

Varietas padi lokal adalah varietas padi yang sudah lama beradaptasi di daerah tertentu. Sehingga varietas ini mempunyai karakteristik spesifik lokasi di daerah tsb. Setiap varietas mempunyai keunggulan dan kelemahan. Demikian juga untuk varietas lokal tsb.

Contoh varietas lokal: varietas kebo, dharma ayu, pemuda idaman  (Indramayu), Gropak, Ketan tawon, Gundelan (Malang), Merong (Pasuruan), Simenep, Srimulih, Andel Jaran, Ketan Lusi, Ekor Kuda, Gropak (Kulon Progo-Jogja), Angkong, Bengawan, Engseng, Melati, Markoti, Longong, Rejung Kuning, Umbul-umbul, Tunjung, Rijal, Sri Kuning, Untup, Tumpang Karyo, Rangka Madu, Sawah Kelai, Tembaga, Tjina,  dll

Berdasaran lahan atau area penanaman yang digunakan varietas tanaman padi dibedakan dalam beberapa  jenis, antara lain:

1. Padi Sawah:
IR36 ; Cisadane ; IR42 ; Cisokan ; IR64 ; Ciliwung ; IR66 ; Memberamo ; Cibodas ; Digul ; Maros ; Cilamaya Muncul ; Way Apo Buru ; Widas ; Ciherang ; Cisantana ; Tukad Petanu ; Tukad Balian ; Tukad Unda ; Celebes ; Kalimas ; Bondojudo ; Silugonggo ; Singkil ; Sintanur ; Konawe ; Batang Gadis ; Ciujung ; Conde ; Angke ; Wera ; Sunggal ; Cigeulis ; Luk Ulo ; Cibogo ; Batang Piaman ; Batang Lembang ; Pepe ; Logawa ; Mekongga  ; Sarinah ; Aek Sibundong ; Inpari 1 ; Inpari 2 ; Inpari 3 ; Inpari 4 ; Inpari 5 Merawu ; Inpari 6 Jete ; Inpari 7 Lanrang ; Inpari 8 ; Inpari 9 Elo ; Inpari 10 Laeya ; Cimelat ; Gilirang ; Ciapus ; Fatmawat

2. Padi Hibrida:
Maro ; Rokan ; Hipa 3 ; Hipa 4 ; Hipa 5 Ceva ; Hipa 6 Jete ; Hipa 7 ; Hipa 8 Pioneer ; Sembada

3. Padi Gogo :
Cirata ; Towut ; Limboto ; Danau Gaung ; Batutegi ; Situ Patenggang ; Situ Bagendit

4. Padi Rawa Pasang Surut:
Banyuasin ; Batanghari ; Dendang ; Indragiri ; Punggur ; Martapura ; Margasari ; Siak Raya ; Air Tenggulang ; Lambur ; Mendawak ; Inpara1 ; Inpara2 ; Inpara3

5. Padi Ketan
Lusi ; Ketonggo ; Setail ; Ciasem

sumber: 
http://green-organic-rice.blogspot.com/2009/01/ribuan-varietas-padi-lokal-hilang.html
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/varietas-padi.html  
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/varietas-padi-lanjutan-1.htm


Saturday, 11 February 2017

Aplikasi Terpadu Pupuk Hayati, Pupuk Organik, dan Pupuk Kimia pada Tanaman Padi


Beras merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Kebutuhan beras nasional per bulan sekitar 2.3 juta ton, sedangkan jumlah penduduk Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (2009) saat ini tercatat 230 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1.33 %. Kebutuhan beras tersebut akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan dan peningkatan jumlah penduduk Indonesia.

Salah satu kunci untuk meningkatan produksi beras yaitu dengan meningkatkan produktivitas padi. Menurut Badan Pusat Statistik (2009), produksi padi Indonesia tiga tahun belakangan ini mengalami peningkatan. Peningkatan produksi padi berturut-turut tahun 2006, 2007 dan 2008 yaitu 0.56 %, 4.77 % dan 2.13 %. Tahun 2009 diperkirakan akan terjadi peningkatan 3.71 %. Belakangan ini telah terjadi levelling off pada peningkatan produktivitas padi yang salah satunya disebabkan oleh pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan dan kurangnya pengembalian bahan organik tanah sehingga mengakibatkan kemunduran lahan.

Menurut Sutanto (2002), pemberian pupuk anorganik yang tidak seimbang dengan tujuan untuk meningkatkan produksi dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah terutama kesehatan lahan tanaman dan lingkungan. Fadillah (2007) menambahkan, tanah sawah yang terusmenerus dipupuk anorganik tanpa mengembalikan jerami ke lahan sawah mengakibatkan banyak hara yang hilang akibat terangkut saat panen, pencucian dan erosi. Kondisi demikian mengakibatkan rusaknya sifat fisik, sifat kimia dan biologi tanah sehingga kesuburan tanah akan semakin menurun.

Pencapaian produktivitas padi yang tinggi harus terus ditingkatkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Irianto (2010), lahan Indonesia sudah sakit, maka perlu adanya pupuk yang dapat menyuburkan tanah kembali. Menurut Fadiluddin (2009) perlu adanya usaha dan strategi yang tepat untuk menyuburkan tanah kembali, diantaranya pemanfaatan pupuk hayati (biofertilizer).

Pupuk hayati adalah sebuah komponen yang mengandung mikroorganisme hidup yang diberikan ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Pupuk hayati dapat berisi bakteri yang berguna untuk memacu pertumbuhan tanaman, sehingga hasil produksi tanaman tetap tinggi dan berkelanjutan. Menurut Permentan (2009), pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri dari mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan dan kesehatan tanah.

Aplikasi pupuk hayati menjadi pelengkap yang sangat baik, karena selain meningkatkan kesuburan tanah juga memacu pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati berperan mempermudah penyediaan hara, dekomposisi bahan organik dan menyediakan lingkungan rhizosfer lebih baik yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan dan peningkatan produksi tanaman (Vessey, 2003).

Belakangan ini petani mulai memberikan perhatian besar terhadap aplikasi pupuk hayati di Indonesia. Salah satu yang mendorong hal tersebut yaitu kesadaran petani terhadap kemunduran kesuburan tanah dan ketergantungan pupuk anorganik (Simanungkalit, 2001). Pemanfaatan mikroorganisme yang berguna perlu dikembangkan dalam usaha mereduksi pupuk anorganik (Pangaribuan dan Pujisiswanto, 2008). Pemanfaatan pupuk hayati tersebut diharapkan tanaman tumbuh lebih sehat, bebas hama penyakit, kebutuhan hara terpenuhi, serta daya hasil lebih tinggi dan berkelanjutan.

Pengaruh Aplikasi terhadap Pertumbuhan Tanaman
Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi ketiga pupuk dengan berbagai taraf dosis pupuk NPK terlihat berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Secara umum perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati dikombinasikan dengan 0.75 dosis pupuk NPK menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, tetapi tidak berbeda dengan perlakuan pupuk NPK saja. Dengan demikian aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati diduga dapat mensubstitusi kekurangan unsur hara yang diberikan oleh pupuk NPK sampai 25 %, terutama unsur hara N. Peran pupuk hayati majemuk yang mengandung bakteri Azospirillum sp. dan
Azotobacter sp. dapat meningkatkan ketersediaan unsur N. Menurut Simanungkalit (2001), bakteri Azospirillum sp. dan Azotobacter sp. Dapat memfiksasi nitrogen, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara N dalam tanah.

Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan penambahan 0.5 – 1 dosis pupuk NPK terlihat menghasilkan jumlah anakan yang tidak berbeda dengan aplikasi 1 dosis pupuk NPK. Unsur hara yang paling berpengaruh terhadap jumlah anakan adalah N dan P (Dobermann dan Fairhust, 2000). Kondisi tersebut menunjukan bahwa mikroba yang terkandung dalam pupuk hayati dan unsur-unsur hara dalam pupukmorganik dapat meningkatkan ketersediaan unsur N dan P. Menurut Hamim (2008), pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dapat memfiksasi unsur N dari udara bebas dan Pseudomonas sp. dapat melarutkan P menjadi tersedia bagi tanaman.

Seperti halnya dengan jumlah anakan, aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati ditambah dengan berbagai taraf dosis NPK menghasilkan tingkat kehijauan warna daun yang sama dengan perlakuan NPK dosis penuh. Hal tersebut diduga bahwa aplikasi pupuk hayati dapat meningkatkan kekurangan unsur hara N. Menurut Simanungkalit (2001), aplikasi pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dan Azotobacter sp. dapat memfiksasi nitrogen secara bebas dari udara, sehingga unsur N dapat meningkatkan kehijauan warna daun.

Hasil analisis statistika, aplikasi pupuk hayati tidak berpengaruh meningkatkan panjang akar tanaman padi, tapi aplikasi pupuk hayati berpengaruh meningkatkan volume akar. Kombinasi pupuk hayati dengan pupuk NPK dosis penuh menghasilkan volume akar yang lebih besar dibandingkan perlakuan pupuk NPK saja dan nyata meningkatkan volume akar dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Astuti (2007) pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dapat meningkatkan jumlah akar lateral, sehingga dapat meningkatkan volume akar.

Fadiluddin (2009) menambahkan, aplikasi pupuk hayati nyata meningkatkan perakaran baik pada tanaman padi gogo maupun pada tanaman jagung. Hal tersebut dimungkinkan peran pupuk hayati dapat mendorong pertumbuhan perakaran sehingga dapat meningkatkan volume akar walaupun tidak berpengaruh terhadap panjang akar. Menurut Vessey (2003), peningkatan perakaran disebabkan oleh pembelahan dan pemanjangan sel akar yang dipacu oleh hormon yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Wibowo (2007) menambahkan bahwa aplikasi pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dapat menghasilkan Indole Acetic Acid (IAA), sedangkan menurut Salisbury dan Ross (1995), hormon IAA yang dihasilkan oleh bakteri yang terkandung dalam pupuk hayati merupakan salah satu jenis hormon auksin yang berperan dalam pembentukan dan pemanjangan akar. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri tersebut merangsang pembelahan sel-sel ujung akar dan akar lateral sehingga menciptakan lingkungan perakaran yang baik dalam optimalisasi perakaran.

Bobot biomassa mencerminkan tingkat pertumbuhan tanaman yang ditentukan oleh kecukupan hara terutama nitrogen. Hasil penelitian bahwa pengaruh pupuk hayati dikombinasikan pupuk NPK dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman, jumlah anakan, tingkat kehijauan warna daun, maupun volume akar. Hal tersebut mendorong pertumbuhan biomassa tanaman. Aplikasi pupuk hayati terlihat nyata meningkatkan bobot kering biomassa akar dan bobot kering biomassa total dan menghasilkan bobot kering tajuk yang nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, namun tidak berbeda dengan perlakuan NPK dosis penuh. Hasil penelitian

Hindersah dan Simarmata (2004) menjelaskan bahwa inokulasi tanaman dengan Azotobacter sp. dapat memperbaiki perkembangan tajuk dan Akar. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Hidayati (2009), pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata dalam meningkatkan bobot kering tajuk, bobot kering akar dan bobot kering total tanaman padi dan jagung di bandingkan perlakuan tanpa pemupukan dan NPK saja. Penelitian Fadiluddin (2009), aplikasi pupuk hayati meningkatkan bobot kering akar tanaman jagung dan padi gogo sebesar 126.5 % dan 28 %.

Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Hasil
Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dapat memacu pertumbuhan tanaman padi, sehingga berdampak juga terhadap hasil dan komponen hasil padi. Fadiluddin (2009) menyatakan bahwa hasil dan komponen hasil merupakan resultan dari pertumbuhan vegetatif tanaman padi yang ditunjukan oleh bobot kering biomassa tanaman.

Hasil analisis statistika menunjukan bahwa aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK berpengaruh terhadap jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, dan bobot 1000 butir gabah. Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati ditambah dengan 0.75 sampai 1 dosis NPK menghasilkan jumlah anakan produktif yang nyata lebih banyak dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, namun tidak berbeda dengan perlakuan 1 dosis NPK.

Pengaruh pupuk hayati terhadap peningkatan jumlah anakan produktif dinyatakan oleh Hidayati (2009) bahwa pemberian pupuk hayati dapat meningkatkan jumlah anakan produktif padi dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan. Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati ditambah dengan 0.5 sampai 1 dosis pupuk NPK terlihat menghasilkan panjang malai dan jumlah gabah per malai yang tidak berbeda dengan 1 dosis NPK maupun perlakuan tanpa pemupukan, sedangkan
pengurangan dosis NPK hingga 75 % pada aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan panjang malai dan jumlah gabah per malai yang cenderung lebih pendek dari perlakuan tanpa pemupukan. Demikian pula perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati dengan berbagai taraf dosis pupuk NPK cenderung menghasilkan bobot 1000 butir gabah yang sama dengan perlakuan tanpa pemupukan dan NPK dosis penuh. Hal tersebut diduga karena kesuburan tanah masih sangat rendah (terutama kandungan bahan organik tanah sedang), sehingga peran mikroba dalam meningkatkan unsur N, P dan K belum optimal. Untuk dapat berperan optimal, mikroba memerlukan C-organik maupun unsur-unsur lain sebagai bahan energi untuk pembiakan dirinya hingga mencapai populasi optimum dan mengikat N serta melarutkan P dalam jumlah yang optimum.

Pengaruh perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati dengan penurunan taraf dosis NPK terhadap hasil dan komponen hasil tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan pupuk NPK saja. Namun aplikasi pupuk hayati saja terlihat menghasilkan bobot gabah per tanaman yang sebanding dengan perlakuan tanpa pemupukan. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa pupuk hayati dapat efektif apabila aplikasinya ditambahkan pupuk organik maupun anorganik sebagai substrat untuk memperbanyak diri. Tanpa pupuk organik ataupun anorganik terlihat bahwa aplikasi pupuk hayati pengaruhnya sama dengan tanpa pemupukan sama sekali.


Friday, 10 February 2017

Aplikasi Terpadu Pupuk Hayati, Pupuk Organik, dan Pupuk Kimia


Aplikasi pupuk hayati terpadu dengan pupuk oraganik dan pupuk anorganik dapat meningkatkan serapan hara, pertumbuhan tanaman dan hasil produksi tanaman. Masing-masing jenis pupuk mempunyai manfaat yang berbeda. Dengan berpadunya penggunaan ketiga jenis pupuk ini merupakan salah satu solusi mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang diakibatkan pengggunaan Pupuk secara berlebih terutama Pupuk Anorganik atau Pupuk Kimia.

Penelitian Fadiluddin (2009), aplikasi pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik pada tanaman jagung meningkatkan serapan hara makro total hingga 145 % dan 665.3 % dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan (kontrol), sedangkan pada padi gogo mampu meningkatkan serapan unsur hara makro total hingga 99.4 % dan 80.6 % dibandingkan kontrol. Percobaan pupuk hayati mampu mengurangi penggunaan pupuk
anorganik.

Hasil penelitian Goenadi (1995), aplikasi bakteri dalam pupuk hayati mampu menurunkan dosis pupuk anorganik hingga 50 % pada tanaman pangan. Laporan Kristanto et al (2002) menyebutkan bahwa inokulasi bakteri Azospirillum pada tanaman jagung mampu mengurangi kebutuhan pupuk N sampai dengan dosis sedang. Penelitian Patola (2005) juga menyatakan bahwa aplikasi pupuk hayati dengan pupuk NPK sampai 50 % anjuran mampu meningkatkan hasil gandum sebesar 13 %. Penelitian Fadiluddin (2009) juga menambahkan bahwa aplikasi pupuk hayati cair dikombinasikan dengan kompos 50 % + NPK 50 % dapat meningkatkan bobot produksi jagung pipilan per tanaman dan bobot 100 biji jagung yang masing-masing mencapai 274.6 % dan 79.7 %, sehingga percobaan pupuk hayati tersebut mampu mengurangi dosis pupuk NPK sampai 50 %.


Tuesday, 7 February 2017

Pengertian Pupuk dan Macam-Macam Pupuk


Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku  atau unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan dan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) membantu kelancaran proses metabolisme.

Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos.

Macam-Macam Pupuk
Dalam praktik sehari-hari, pupuk biasa dikelompok-kelompokkan berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, dan kandungannya.

Pupuk berdasarkan sumber bahan pembuatannya
Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat tiga kelompok besar pupuk:
(1) Pupuk Organik. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, contohnya pupuk kandang dan kompos. Pupuk organik sukar ditentukan isinya tergantung dari sumbernya, keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.
(2) Pupuk Anorganik atau Pupuk Kimia. Pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral.Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi.
(3) Pupuk Hayati. Pupuk hayati adalah sebuah komponen yang mengandung mikroorganisme hidup yang diberikan ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu
menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Menurut Permentan (2009) pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri dari mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah.

Pupuk berdasarkan bentuk fisik
Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk remahan, butiran atau kristal (granul) dan serbuk. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat, pasta dan cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikasikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman. Akan tetapi, secara prakteknya pupuk padat dan pupuk cair bisa diaplikasikan  melalui berbagai macam cara.

Pupuk berdasarkan kandungannya
Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua atau tiga unsur yang diperlukan. Pada pupuk majemuk biasanya terdapat pula unsur hara mikro (pupuk mikro), karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.



Monday, 26 December 2016

Budidaya Jagung dengan Metode Tanpa Olah Tanah (TOT)


Ada berbagai macam cara menanam jagung salah satunya dengan menerapkan metode tanpa olah tanah (TOT). Pengertian tanpa olah tanah di sini adalah cara penanaman tanpa perlakuan persiapan lahan seperti pembalikan dan penggemburan tanah terlebih dahulu, hanya diperlukan lubang untuk membenamkan benih kedalam tanah. Di negara maju penanaman tanpa olah tanah biasanya menggunakan alat planter. Sedangkan di Indonesia biasanya cukup menggunakan tugal. Tugal diperlukan untuk melubangi permukaan tanah tempat benih ditanam.

Perlu diketahui cara menanam jagung tanpa olah tanah ini tidak bisa diterapkan di semua jenis lahan. Hanya lahan yang memiliki tingkat kegemburan tertentu yang cocok untuk metode ini. Tanah yang keras tidak bisa menerapkan metode tanpa olah tanah. Biasanya metode tanpa olah tanah cocok diterapkan di lahan sawah, bekas tanaman padi yang telah selesai di panen. Bisa diterapkan di sawah tadah hujan maupun sawah beririgasi teknis yang ingin menerapkan rotasi tanaman. Jerami bekas tanaman padi sangat berguna sebagai mulsa untuk tanaman jagung.


Kelebihan dan kekurangan metode TOT
Cara menanam jagung dengan metode tanpa olah tanah memiliki kelebihan dan kekurang. Berikut ini kelebihan penerapan metode tanpa olah tanah:

  • Menyingkat waktu budidaya karena petani tidak perlu melakukan pengolahan tanah terlebih dahulu.
  • Menghemat ongkos tenaga kerja.
  • Menghindari kerusakan tanah, karena tanah yang terlalu sering dibalik dan digemburkan akan mengalami pengerasan dalam jangka panjang. Selain itu tanah yang dibajak atau digemburkan akan terbuka, sehingga ada potensi hilangnya mineral tanah.
  • Mengurangi erosi lapisan hara tanah bagian atas karena proses pengolahan.


Sementara itu kekurangan metode tanpa olah tanah antara lain:

  • Ada kemungkinan tanah telah ditumbuhi gulma yang bisa mengganggu pertumbuhan tanaman.
  • Karena tanah tidak dibuka ada kemungkinan sisa-sisa hama yang masih berkembang biak di atas lahan, dan bisa mengganggu pertumbuhan tanaman berikutnya.


Persiapan lahan
a. Penyiapan mulsa jerami
Langkah persiapan yang diperlukan adalah pembersihan lahan. Bersihkan jerami sisa panen padi dari lahan dengan cara merajang atau mencacahnya. Kemudian taburkan secara merata di atas permukaan lahan. Jerami ini berguna sebagai mulsa penutup tanah.

b. Penyiapan drainase
Siapkan drainase di lahan yang akan digunakan. Drainase dibuat berbentuk garis lurus dengan jarak antar ruas sekitar 2 meter. Tujuan pembuatan drainase ini untuk membuang kelebihan air, karena tidak ada pengolahan tanah, seperti peninggian bedeng tanam. Jangan sampai lahan terendam air.

c. Pembersihan gulma
Gulma menjadi faktor yang cukup mengganggu dalam metode tanpa olah lahan. Bila laha yang kita gunakan ditumbuhi gulma sebaiknya terapkan pembersihan gulma dengan herbisida. Apabila gulmanya cukup banyak, gunakan herbisida sistemik yang bisa membasmi gulma hingga ke akarnya. Silahkan gunakan merek herbisida yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan gunakan sesuai dengan takaran yang dianjurkan.

Setelah 3 hari kontrol kembali lahan, apakah masih terdapat gulma atau tidak. Bila masih terdapat gulma lakukan lagi penyemprotan. Seminggu setelah penyemprotan herbisida, lahan siap untuk ditanami.

d. Pemupukan dan pengapuran
Bila bekas lahan yang digunakan kurang subur, bisa ditambahkan penambahan pupuk organik. Boleh pupuk kompos atau pupuk kandang. Pupuk ditaburkan dalam bentul larik, sesuai dengan baris lubang tanam. Dosis pupuk organik untuk tanaman jagung sekitar 1,5-2 ton per hektar. Bila perlu bisa lakukan pengapuran, cara menebarkan kapur sama dengan pupuk dalam bentuk larikan. Dosis pengapuran sekitar 300-400 kg per hektar.


Penyiapan benih
Gunakan benih unggul yang memiliki tingkat keberhasilan tumbuh lebih dari 95%. Penyiapan benih sebaiknya mengikuti anjuran produsen benih tersebut. Bagi benih jagung yang bukan dari pabrikan, benih bisa disiapkan terlebih dahulu dengan cara merendam terlebih dahulu dengan insektisida dan fungisida. Gunanya agar benih terlindung dari serangan hama penyakit saat proses penanaman. Bagi benih yang diproduksi pabrik biasanya sudah dicampur dengan insektisida/fungisida, penampakan benih biasanya berwarna merah, sehingga tidak perlu perendaman dengan insektisida/fungisida.


Penanaman
Jarak tanam untuk tanaman jagung dalam satu baris sekitar 20 cm, sedangkan jarak antar baris 70-75 cm. Bila bedengan yang dibuat selebar 2 meter, akan terdapat setidaknya 3 baris tanaman jagung dalam satu bedeng. Penanaman benih bisa dilakukan maksimal seminggu setelah pemberian pupuk organik dan pengapuran.

Lubang tanam dibuat dengan tugal atau mesin planter. Kedalaman lubang tanam sekitar 3-5 cm. Masukkan 2 benih jagung dalam satu lubang tanam. Kemudian tutup dengan dengan tanah, jangat dipadatkan. Siapkan juga tempat penyemaian benih secara terpisah, gunanya untuk menyulam tanaman jagung yang gagal tumbuh. Agar tanaman hasil sulaman memiliki umur yang sama dengan tanaman yang telah ditanam di lahan.

Periksa pertumbuhan benih setelah satu minggu. Kemudian sulam benih yang gagal tumbuh dengan bibit yang telah disemaikan di tempat terpisah. Usahakan penyulaman dilakukan dengan tanaman yang seumur.

Pemupukan lanjutan
Pemupukan lanjutan dilakukan sebanyak 2- 3 kali dalam satu masa tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan jenis benih yang digunakan. Jagung hibrida biasanya membutuhkan pemupukan yang lebih banyak dibanding jagung biasa.

Jenis pupuk yang dibutuhkan tanaman jagung harus memenuhi unsur N, P dan K. Unsur N bisa didapatkan dari Urea, unsur P dari SP-36/ TSP dan unsur K dari KCl. Untuk pupuk majemuk bisa di gunakan pupuk bersubsidi NPK Phonska. Takaran pupuk untuk budidaya jagung berdasarkan anjuran Balitbangtan per hektarnya adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl.

Bila kesulitan mendapatkan KCL, unusr K bisa didapatkan dari pupuk NPK. Dengan takaran sebagai berikut , 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg urea + 80 kg SP-36 untuk setiap hektarnya. Untuk frekuensi pemukan dua kali, berikan pada 10 dan 35 hari setelah tanam (HST). Untuk frekuensi pemupukan 3 kali berikan pada umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst.


Pemeliharaan
Pemeliharaan budidaya jagung meliputi penyiangan, pembubunan dan pengairan. Pengairan yang paling mudah digunakan untuk penanaman jagung di lahan sawah adalah dengan sistem penggenangan. Bagian yang digenangi air hanya bagian parit drainase saja bukan seluruh lahan. Caranya alirkan air ke saluran drainase yang telah dibuat. Biarkan air meresap pada tanah bedengan. Setelah tanah tampak basah, keluarkan kembali air dari saluran drainase.

Ada 5 fase pertumbuhan tanaman jagung yang memerlukan pengairan, yakni fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan vegetatif, fase pembungaan, fase pengisian biji dan fase pematangan.


Panen dan pasca panen
Tanaman jagung bisa dipanen sekitar 100 HST, tergantung dari jenis benih yang digunakan. Secara fisik jagung yang siap panen terlihat dari daun klobotnya yang mengering, berwarna kekuningan. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah masa fisiologinya akan berakibat pada komposisi kimia jagung yang menentukan kualitasnya.

Setelah panen jagung harus dikeringkan terlebih dahulu. Cara pengeringan yang paling umum adalah dengan menjemurnya di ladang bersama-sama dengan klobotnya. Atau bisa juga dikupas kelobotnya kemudian jagung dijemur di lantai atau di atas terpal. Kerusakan masih bisa terjadi saat proses pengeringan terutama bila panen dilakukan di musim hujan. Jagung yang masih basah sangat rentan dengan serangan jamur atau cendawan. Jamur bisa merusak hasil panen hingga lebih dari 50%.


Referensi:

  • Anonim. 2008. Teknologi budidaya jagung. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
  • Amir, MP dan Farida Arief. 2012. Teknologi Budidaya Jagung (Zea maize) Tanpa Olah Tanah (TOT). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan.
  • http://alamtani.com/cara-menanam-jagung.html


Budidaya Tanaman Mentimun

Mentimun (Cucumis sativus L.) adalah sayuran paling mudah diolah. Tidak perlu dimasak atau ditumis, cukup dicuci atau dikupas, dimakan ment...