Showing posts with label Hidroponik. Show all posts
Showing posts with label Hidroponik. Show all posts

Monday, 28 November 2016

Hidroponik dengan Modul Pipa dan Selang Mini




Modul hidroponik bertingkat berbentuk huruf A berderet rapi dilahan 360 m2. Aneka sayuran seperti selada, kailan dan pakcoy tumbuh subur disetiap rak. Kebun hidroponik milik Andi Wibowo itu menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT) untuk mengalirkan air dan nutrisi.

Lazimnya perkebunan menggunakan sistem hidroponik menggunakan sistem NFT dengan talang sebagai wadah penanaman, modul ini memanfaatkan pipa berukuran 3 inci sebagai wadah tanam. Alasannya, ”Harga Pipa Lebih Murah, Pemasangannya Lebih Mudah, dan Mudah didapatkan.” Andi Wibowo menggunakan modul atau rak yang terdiri atas lima susun pipa dikedua sisi sepanjang 5 m.  Jadi dalam satu modul terdapat sepuluh pipa.

Andi meletakkan enam modul didalam greenhouse atau rumah tanam, sedangkan sembilan modul diruang terbuka yang bertatap antisinar ultraviolet. Alumnus California State University itu bekerja sama dengan Heru Agus Hendra merangkai modul hidropomik itu. Menurut praktikus hidroponik di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Ir. Kunto Heriwibowo, penggunaan pipa sebagai wadah penanaman sayuran hidroponik tidak termasuk sistem NFT, tetapi Deep Flow Technique (DFT). Sebab pada sistem DFT air nutrisi agak tergenang hingga 2-4 cm, sedangkan pada NFT, larutan nutrisi hanya 0,3 cm. Andi mengatakan, meski menggunakan pipa ia tetap menggunakan NFT. Sebab, aliran nutrisi dalam pipa juga tipis laksana film kurang dari 1 cm.

Gambar 1

Kunto menuturkan kedua sistem itu (NFT & DFT) memiliki kelebihan dan kekurangan. Pasokan oksigen pada sistem NFT lebih banyak karena nutrisi mengalir terus menerus. Sementara pada sistem DFT kondidi nutrisi agak statis sehingga oksigen agak berkurang, terutama jika posisi pipa agak miring. Namun, jika posisi listrik mati, DFT lebih unggul. Sebab, tanaman masih bisa bertahan hingga seharian. Adapun sayuran dengan NFT dapat bertahan hingga satu jam”penggunaan DFT dan NFT sesuai selera masing masing” kata Kunto.

Petani hidroponik lazimnya membersihkan pipa setelah panen selesai. Untuk penanaman selanjutnya wadah wadah penanaman harus bebas dari akar dan lumut. Jika tidak dibersihkan maka aliran nutrisi akan terhambat. Beberapa perkebun hidroponik mengatakan pembersihan talang  tempat tumbuh tanaman lebih mudah ketimbang pipa. Pemilik cukup membuka penutup dan talang siap dibersihkan. Sementara pembersihan pipa agak sulit karna petugas mesti menjangkau bagian dalam talang dari sela sela lubang. Namun, Andi punya cara sederhana yang ampuh membersihkan pipa, ia menggunakan pipa berdiameter 0,5 inci sesuai panjang pipa penanaman dengan gumpalan kain dibagian depan. Petani sayuran hidroponik berusia 45 tahun itu lalu mendorong pipa maju dan mundur. Pada saat bersamaan ia mengalirkan air dari selang yang dimasukkan kedalam pipa penanamam. Ia hanya membutuhkan waktu 5 menituntuk membersihkan satu pipa tanam sepanjang  12 meter. Artinya untuk membersihkan sebuah modul,tanam ia membutuhkan waktu 50 menit. Itu sedikit lebih lama dengan pembersihan talang yang panjang, ukurannya sama.

Selang Hitam
Andi menggunakan pipa berdiamter 3 inci sebagai wadah tanam. Menurut Andi jika ukuran pipa lebih kecil dari 3 inci pertumbuhan tanaman agak terhambat. Musababnya suhu di dalam pipa tinggi hingga 30 derajat celcius. Mestinya suhu ideal berkisar 25 derajat celcius, bisa menggunakan pipa berdiameter lebih besar daripada 3 inci, harganya lebih mahal. Perumbuhan tanaman pun relatif sama debgan 3 inci.

Perbedaan lain modul hidroponik Andi yakni penggunaan selang hitam kecil berdiameter 0,2 inci, Fungsinya mengalirkan air dan nutrisi ke setiap pipa penanaman. Setiap pipa penanaman berisi 2 selang hitam sehingga total terdapat 20 selang hitam disetiap modul. Andi memillih selang warna hitam agar lumut sulit tumbuh. “Lumut mudah tumbuh jika menggunakan selang putih” kata Andi.

Kehadiran lumut pada selang bisa menghambat pasokan nutrisi ke tanaman. Menurut pengamat hidroponik dari Universitas Gajah Mada, Yogjakarta, Prof. Dr. Didik Indradewa, Dip.Agr.St., lumut enggan tumbuh pada selang hitam karena 2 hal. Pertama karena selang hitam tidak tembus cahaya, dan kedua karena tidak bisa ditempeli. “Tumbuhan seperti lumut memerlukan cahaya, air, nurtisi dan C02 untuk tumbuh dan berkembang. ” Lumut tidak bisa hidup jika salah satu unsur itu tidak dipenuhi, tutur ahli fisiologi tumbuhan itu.”

Sementara di Jawa barat fungsi selang hitam beralih ke keran. Salah satu yang menggunakan keran dalam instalasi hidroponik bertingkat adalah Roni Hartanto Gunawan. Perancang hidroponik di Bandung ini menggunakan keran untuk mengatur aliran nutrisi  di setiap tingkat. Hidroponik milik Roni berbentuk A dengan 7 susun pipa disetiap sisi. Rangkaian hidroponik kreasi Roni menyempurnakan sistem hodroponik bertingkat sebelumnya yang menggunakan sistem S. Pada sistem itu, pompa didalam tangki penampungan mendorong nutrisi menuju talang teratas.

Gambar 2

Atap Modul
Nutrisi mengalir ke tingkat berikutnya mengikuti gaya gravitasi melalui sebuah pipa kecil hingga kembali masuk ke tangki penampungan. Menurut Andi, jika modul panjang hidroponik lebih dari 12 m, maka tanaman pada pipa terbawah mendapat sedikit nutrisi. Dampaknya ukuran tanaman tidak seragam. Selang hitam milik Andi itu terhubung dengan pipa berdiameter 3 inci sepanjang 12 m yang bermuara di tandon nutrisi berkapasitas 120 liter. ”Penggunaan selang hitam mampu mendistribusikan air dan nutrisi secara merata disetiap talang” kata Andi. Pendistribusian dilakukan dengan menggunakan pompa berkekuatan 35 watt untuk mengalirkan nutrisi. Adapun posisi pipa agak miring selisih 4 cm antara ujung modul sehingga aliran nutrisi lancar.

Perbedaan lain modul hidroponik kepunyaan andi dengan yang lain yakni atapnya. Andi memasang plastik sinar ultraviolet dengan lebar 1,2 m dan sepanjang talang penanaman. Posisi atap 30 cm dari pipa teratas pada modul. Padahal Andi menaungi semua modul itu dengan jaring penaung untuk mengurangi intensitas cahaya matahari. Modul tetap perlu mendapat naungan karena sebelumnya hujan deras mengguyur lokasi. Agar sayuran tidak rusak karena hujan, Andi memasang naungan diatas modul.

Serangan hama seperti ulat kerap menyerang kailan dan pakcoy. Tanda serangan berupa daun yang berlubang. Sementara selada relatif jarang terserang. Andi belum mengetahui pasti alasan hama mengganggu kedua tanaman itu. Solusinya andi menempatkan kailan dan pakcoy pada modul didalam greenhouse berukuran 16 m x 16 m. Andi sangat serius mencegah serangan hama buktinya ia tetap menggantungkan perangkap luning (yellow trap) didalam rumah tanam. Andi juga menggunakan kepekaan nutrisi 600-1000 ppm pada pipa penanam. Sementara pada pipa untuk tanaman kecil kepekatan larutan 400 ppm. Pada tahap penyemaian, ia hanya menggunakan air.

Semoga bermanfaat


Sumber:
Buku & Majalah Pertanian


Sunday, 27 November 2016

Kelebihan Budidaya secara Hidroponik dengan Budidaya secara Umum



Hidroponik Vs Organik

Pasti banyak dari para pembudidaya yang berfikir jika kedua cara budidaya tersebut dibandingkan akan lebih baik yang mana. untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut maka kita perlu sedikit mengulas kedua cara budidaya tersebut. Hidroponik merupakan cara pembudidayaan tanaman pada media yang tidak menyediakan unsur hara. Penyediaan unsur hara sepenuhnya dilakukan oleh manusia melalui pupuk. Pupuk yang diberikan mengandung unsur-unsur hara essensial yang dibutuhkan tanaman. Sedangkan Organik merupakan cara pembudidayaan tanaman tanpa menggunakan bahan kimia atau cara budidaya yang menggunakan bahan-bahan alami.

Tabel Perbandingan antara Budidaya secara Hidroponik vs Organik
No
Unsur Pembanding
Hidroponik
Organik
1.
Kesehatan
Sehat, karena tanaman mendapatkan unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang pas
Sehat, karena menggunakan bahan-bahan alami
2.
Pencemaran
Tidak, karena tidak ada bahan kimia yang terbuang
Tidak, karena bahan yang digunakan ramah lingkungan
3.
Pupuk
Kimia, walaupun dari bahan kimia tetapi tetap sehat karena unsur hara yang diserap tanaman dalam bentuk ion dan dirubah menjadi karbohidrat oleh tanaman
Alami, sehat karena dari bahan alam. Walaupun dari bahan alam namun unsur hara yang diserap tanaman dalam bentuk ion sama seperti pupuk kimia
4.
Kandungan pupuk
Tinggi dan lengkap, jumlahnya pas
Rendah dan belum tentu lengkap, karena sifat dari bahan alam
5.
Lokasi
Tidak terbatas, bisa dimana saja
Terbatas pada faktor tanah
6.
Produktivitas
Tinggi dari sejak awal tanam
Pada awal tanam rendah namun akan terus meningkat

Diatas adalah beberapa perbandingan budidaya Hidroponik dengan budidaya Organik. Namun kedua cara budidaya tersebut pada hakikatnya adalah berbeda karena Organik merupakan budidaya pada tanah dan Hidroponik tanpa menggunakan tanah. Jadi tergantung kebutuhan dan tujuan budidaya anda untuk memilih cara budidaya yang ingin anda lakukan.



Hidroponik dan Global Warming

Global warming adalah naiknya suhu bumi secara keseluruhan. Beberapa penyebabnya yaitu karena menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap sinar matahari. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Salah satu cara mengurangi dampak Global warming adalah dengan mengurangi kadar karbondioksida di udara. Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya.

Penanaman pohon dalam jumlah banyak pada saat ini tentu mengalami banyak hambatan salah satunya pada keterbatasan lahan terutama daerah perkotaan dan perindustrian yang malah merupakan daerah terbesar penghasil karbondioksida. Di sinilah salah satu keunggulan Hidroponik yang mampu menjawab hambatan tersebut. Hidroponik merupakan budidaya terbaik yang dapat dilakukan pada daerah perkotaan dengan lahan terbatas. Hidroponik mampu menawarkan solusi dengan dilakukan di atap rumah, apartemen, kantor dll.

Sebagai contoh negara Jepang yang mampu menanam padi di dalam sebuah gedung bertingkat. Keunggulan inilah yang membuat Hidroponik dijuluki Pertanian Modern Perkotaan. Hidroponik perkotaan merupakan salah satu usaha yang paling baik dalam mengurangi dampak Global Warming. Mari kita bersama-sama mengurangi dampak Global warming karena nanti kita juga yang akan merasakan manfaatnya.
Percayalah dengan menanam tanaman kita sudah mengurangi kadar karbondioksida dan kita juga sudah menyumbangkan oksigen kepada dunia.


Semoga bermanfaat

Written by: Baranur

Sumber:
Buku & Majalah Pertanian
Internet


Sistem Bertanam secara Hidroponik




Sistem bercocok tanam ala hidroponik kini makin banyak dipilih karena merupakan budi daya tanaman tanpa media tanah. Sistem bercocok tanam yang lebih banyak menggunakan air sebagai sumber nutrisi utama ini biasanya dilakukan di dalam green house. Pasalnya, faktor-faktor ekosistem bisa lebih mudah dikendalikan sehingga risiko terhadap pengaruh cuaca pun bisa diperkecil. Ide awal kebun hidroponik muncul dalam menyiasati keterbatasan lahan, waktu, dan cara pemeliharaan.

Selain air, medium lain yang bisa digunakan dalam sistem bertanam hidroponik ini ialah air, kerikil, pasir, spon, atau gel. Sedangkan tanaman yang bisa tumbuh dengan sistem hidroponik pun juga bermacam-macam. "Yang biasa ditanam dengan menggunakan sistem hidroponik umumnya adalah tanaman apotek hidup, sayuran, dan tanaman hias.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan sistem berkebun hidroponik. Di antaranya, produksi tanaman lebih tinggi, lebih terjamin dari hama dan penyakit, tanaman tumbuh lebih cepat dan pemakaian pupuk lebih hemat, bila ada tanaman yang mati, bisa dengan m1udah diganti dengan tanaman baru, dan tanaman memberikan hasil yang kontinu. Kualitas daun, bunga, atau buah pun lebih sempurna dan tidak kotor. Di samping itu, pengerjaannya juga lebih mudah, tidak memerlukan banyak biaya dan waktu.

Karena manfaat dan perawatannya yang mudah, sistem ini telah diterapkan di gedung-gedung bertingkat, tempat-tempat perbelanjaan modern, dan di apartemen. Selain itu, penempatan tanaman di gedung yang tidak ada sirkulasi udaranya juga bertujuan mencegah sick building syndrome. Ada berbagai teknik hidroponik yang bisa anda pilih untuk menanam secara hidroponik.


1.  Nutrient film technique (NFT)

Nutrient film technique (NFT) merupakan salah satu tipe spesial dalam hidroponik yang dikembangkan pertama kali oleh Dr. A.J Cooper di Glasshouse Crops Research Institute, Littlehampton, Inggris pada akhir tahun 1960-an dan berkembang pada awal 1970-an secara komersial.

Konsep dasar NFT ini adalah suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen. Tanaman tumbuh dalam lapisan polyethylene dengan akar tanaman terendam dalam air yang berisi larutan nutrisi yang disirkulasikan secara terus menerus dengan pompa. Daerah perakaran dalam larutan nutrisi dapat berkembang dan tumbuh dalam larutan nutrisi yang dangkal sehingga bagian atas akar tanaman berada di permukaan antara larutan nutrisi dan styrofoam, adanya bagian akar dalam udara ini memungkinkan oksigen masih bisa terpenuhi dan mencukupi untuk pertumbuhan secara normal.

Beberapa keuntungan pemakaian NFT antara lain : dapat memudahkan pengendalian daerah perakaran tanaman, kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah, keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman, tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode tanam yang pendek, sangat baik untuk pelaksanaan penelitian dan eksperimen dengan variabel yang dapat terkontrol dan memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan high planting density. Namun NFT mempunyai beberapa kelemahan seperti investasi dan biaya perawatan yang mahal, sangat tergantung terhadap energi listrik dan penyakit yang menjangkiti tanaman akan dengan cepat menular ke tanaman lain.

Pada sistem NFT, kebutuhan dasar yang harus terpenuhi adalah : Bed (talang), tangki penampung dan pompa. Bed NFT di beberapa negara maju sudah diproduksi secara massal dan disediakan oleh beberapa perusahaan supplier greenhouse dan pertanian, di Jepang terbuat dari styrofoam, namun di Indonesia belum diproduksi sehingga banyak petani Indonesia memakai talang rumah tangga (lebar 13-17 cm dan panjang 4 meter). Tangki penampung dapat memanfaatkan tempat atau tandon air. Pompa berfungsi untuk mengalirkan larutan nutrisi dari tangki penampung ke bed NFT dengan bantuan jaringan atau selang distribusi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam NFT adalah : kemiringan talang (1-5%) untuk pengaliran larutan nutrisi, kecepatan aliran masuk tidak boleh terlalu cepat (dapat diatur oleh pembukaan kran berkisar 0.3-0.75 L/menit) dan lebar talang yang memadai untuk menghindari terbendungnya larutan nutrisi.

NFT merupakan alat hidroponik sederhana yang bekerja mengalirkan air, oksigen dan nutrisi secara terus-menerus dengan ketebalan arus sekitar 2-3 mm. Tanaman disangga dengan sedemikian rupa sehingga akar tanaman menyentuh nutrisi yang diberikan. Alat dibuat miring dengan salah satu sisi lebih tinggi dari sisi lainnya yaitu sebesar 5% dari panjang alat agar arus dapat mengalir dengan lancar. Air dan nutrisi yang diberikan tidak akan terbuang percuma karena aliran airnya akan masuk ke bak penampung yang ada dibawahnya setelah itu dipompa kembali ke atas dan dialirkan lagi ke akar tanaman.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Talang air                                                             
2. Pompa akuarium
3. Pipa PVC              
4. Sterofoam
5. Busa
6. Ember atau wadah air

Kelebihan Sistem Bercocok Tanam:
1. Tanaman mendapat suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Biaya yang diperlukan relatif murah.

Kekurangan Bercocok Tanam:
1. Jika salah satu tanaman terserang penyakit maka satu talang tanaman akan terserang juga, bahkan bisa dalam 1 alat semua menjadi tertular.
2. Alat ini sangat bergantung pada listrik, jika tidak ada aliran listrik maka alat ini tidak bisa bekerja


2.  Wick System

Wick System merupakan alat yang sangat sederhana karena pada prinsipnya hanya membutuhkan sumbu yang menghubungkan antara nutrisi dan media tanam. Air dan nutrisi akan dapat sampai ke akar tanaman dengan memanfaatkan prinsip daya kapilaritas air melalui perantara sumbu. Media tanam akan terus-menerus basah oleh air dan nutrisi yang diberikan disekitar akar tanaman.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Media tanam
2. Sumbu
3. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Biaya alat yang murah.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Tidak tergantung aliran listrik.

Kekurangan alat:
1. Air dan nutrisi yang diberikan tidak akan dapat kembali lagi sehingga lebih boros.
2. Banyaknya jumlah air yang diberikan akan sedikit susah diatur.


3.  Floating / Rakit Apung

Floating Hidroponic System (FHS) merupakan suatu budidaya tanaman (khususnya sayuran) dengan cara menanamkan /menancapkan tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung diatas permukaaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau kolam sehingga akar tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi. Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Jensen (1980) di Arizona dan Massantini (1976) di Italia.

Pada sistem ini larutan nutrisi tidak disirkulasikan, namun dibiarkan pada bak penampung dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu dilakukan karena dalam jangka yang cukup lama akan terjadi pengkristalan dan pengendapan nutrisi dalam dasar kolam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sistem ini mempunyai beberapa karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran yang mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat digunakan untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik (mungkin hanya untuk mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan larutan nutrisi saja).
Tanaman ditancapkan pada lubang dalam styrofoam dengan bantuan busa (agar tanaman tetap tegak) serta ditambahkan penyangga tanaman dengan tali. Lapisan styrofom digunakan sebagai penjepit, isolator panas dan untuk mempertahankan tanaman agar tetap terapung dalam larutan nutrisi. Agar pemakaian lapisan styrofoam tahan lama biasanya dilapisi oleh plastik mulsa. Bak larutan nutrisi juga difungsikan sebagai penyangganya, biasanya bak penampung ini mempunyai kedalaman antara 10-20 cm dengan kedalaman larutan nutrisi antara 6-10 cm. Hal ini ditujukan agar oksigen dalam udara masih terdapat di bawah permukaan styrofoam. Untuk otomatisasi dalam FHS tidak berbeda jauh dengan cara untuk pot culture system.

Floating system merupakan alat yang paling sederhana karena hanya menggunakan prinsip penggenangan. Akar tanaman diberi genangan air dan nutrisi secara terus-menerus. Untuk kebutuhan oksigen tanaman mendapatkannya melalui airstone yang diletakkan didalam air.Atau bisa juga dengan memberikan pompa Aquarium sehingga air dan larutan nutrisi bisa terus bersirkulasi. Air dan nutrisi yang diberikan akan langsung mengenai akar tanaman secara terus-menerus sehingga tanaman dapat menyerapnya setiap saat.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Sterofoam
2. Busa
3. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.
4. Membutuhkan biaya yang cukup murah.

Kekurangan alat:
1. Oksigen akan susah didapatkan tanaman tanpa bantuan alat (airstone atau pompa).
2. Akar tanaman akan lebih rentan terjadi pembusukan.


4.  Ebb and Flow

Ebb and flow atau yang biasa dikenal dengan sistem pasang surut ini merupakan salah satu alat hidroponik yang unik karena prinsip kerjanya yaitu tanaman mendapatkan air, oksigen dan nutrisi melalui pompaan dari bak penampung yang dipompa melewati media kemudian membasahi akar tanaman (pasang), kemudian selang beberapa waktu air bersama nutrisi akan turun (surut) kembali melewati media menuju bak penampungan. Waktu pasang dan surut dapat diatur menggunakan timer sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut, jadi tanaman tidak akan tergenang atau kekurangan air.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Media tanam
2. Pot/ Wadah tanaman
3. Pompa akuarium
4. Timer
5. Pipa PVC
6. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai air, oksigen, dan nutrisi secara terus-menerus.
2. Pertukaran oksigen lebih baik karena terbawa air pasang dan surut.
3. Mempermudah perawatan karena kita tidak perlu melakukan penyiraman.

Kekurangan alat:
1. Biaya alat yang agak mahal.
2. Tergantung kepada aliran listrik.
3. Kualitas nutrisi yang sudah dipompakan berkali-kali tidak akan sebagus awalnya.


5.  Drip Irigation

Drip irigation merupakan salah satu jenis alat hidroponik yang sederhana karena pada prinsipnya hanya memberikan air dan nutrisi dalam bentuk tetesan yang menetes secara terus-menerus sepanjang waktu. Tetesan diarahkan tepat pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan. Tanaman mendapatkan nutrisi setiap saat sesuai kebutuhannya karena tetesan nutrisi dapat diatur sehingga tidak akan menggenangi tanaman. Alat ini pada prinsipnya sama saja dengan menyiram tanaman, namun dilakukan secara otomatis, terus-menerus dan sesuai dosis.

Alat-alat yang dibutuhkan:
1. Selang air
2. Pot / polybag
3. Pompa akuarium
4. Media tanam
5. Jarum suntik
6. Ember atau wadah air

Kelebihan alat:
1. Tanaman mendapat suplai airdan nutrisi secara terus-menerus.
2. Lebih menghemat air dan nutrisi karena diberikan sedikit demi sedikit.
3. Bisa di setting secara otomatis.
4. Biaya yang dperlukan relatif murah.

Kekurangan alat:
1. Oksigen akan susah didapat tanaman jika media terlalu padat.
2. Penggunaan bak penampung tidak akan terlalu menghemat air dan nutrisi karena lebih banyak hilang terserap tanaman, tertahan media atau penguapan.

Semoga bermanfaat

Written by: baranur

Sumber:
Buku & Majalah Pertanian
Internet


Budidaya Tanaman Mentimun

Mentimun (Cucumis sativus L.) adalah sayuran paling mudah diolah. Tidak perlu dimasak atau ditumis, cukup dicuci atau dikupas, dimakan ment...