Showing posts with label Pupuk. Show all posts
Showing posts with label Pupuk. Show all posts

Tuesday, 21 February 2017

Pertanian Organik sebagai Metode Bertani Masa Depan (bagian 3 dari 3)


Penutup
Teknik Budidaya Organik merupakan bagian dari kegiatan agribisnis harus berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu, teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.

Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen. Berbagai sayuran khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel. (Daucus carota). Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup tinggi, juga mengandung antioksidan yang dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yang ditanam pada saat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau dan pengalih hama.

Ada juga tanaman lain yang ditanam untuk tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas. Dalam upaya penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi secara perlahan. Untuk memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli selalu diberi pupuk kandang ayam dengan dosis 20 ton/ha.

Pada saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di USA, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan hal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi sektor ekonomi (Wood, Chaves dan Comis, 2002).

Dalam era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini Australia telah mengambil peluang ini dengan mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi dan sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).

Peluang Indonesia menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki 20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yang sangat beragam, ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya untuk pertanian organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yang saling sinergis untuk menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen organik terkemukaIndonesia yang beriklim tropis, merupakan modal SDA yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun.

Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi. Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit tumbuhan.
Seperti diketahui, terdapat sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar.

Cara-cara lain dalam pengendalian OPT selain pestisida sintetik, pestisida biologi dan botani antara lain yaitu cara pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.

Masih banyak bentuk kearifan lokal yang bisa digali kembali di Indonesia dalam rangka bertani selaras alam atau ramah lingkungan. Secara empiris bahkan tanpa pupuk anorganik pun produksi bisa tetap tinggi. Jika tingkat standar produksi nasional dengan pupuk anorganik sekitar 4,5 – 5 ton/ ha, dengan sistim pertanian organik walau lahan tsb dikelilingi lahan ber-anorganik bisa dicapai tingkat produksi 9-10 ton/ha. Kekurang unsur N dan P dapat diatasi dengan cara memberikan 2 tahap pemupukan (sebelum dan setelah tanam).  Bahkan dalam uji coba skala ubinan 2,5 x 2,5 meter dgn sistim “Tanam padi sabatang” di Sumbar dgn pola PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dan OST (Organic Soil Treatment) yg benar bisa dicapai tingkat produksi 15 ton/ha  Satu rumpun padi dengan pola konvensionalo 25-30 batang/rumpun, dengan sistim organik bisa berjumlah 150-170 batang padi produktif. Kita harus punya motto: “Jika kita bisa memulihkan kembali tanah yang subur seperti dahulu, kenapa tidak dilakukan dari sekarang. Sehingga, bumi pun akan bernafas lebih lega.”

Writed & Edited by Baranur

Pertanian Organik sebagai Metode Bertani Masa Depan (bagian 2 dari 3)


Pembahasan
Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.

Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).

Sistem Pertanian Organik sejak tahun 1990, mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya.

Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yang berkembang pesat sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.

Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993).
Pengembangan pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam Prihandarini, 1997).

Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, tebon, dan sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis) sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.


Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.

Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan mikroorganisme.

Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Industri pupuk organik saat ini mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan.

Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.

Beberapa hasil penelitian di daerah Pati-Jawa Tengah, Pesawaran-Lampung, Magetan, Banyumas, dan beberapa daerah lain menunjukkan penggunaan pupuk organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yang dihemat mencapai Rp. 500.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen.

Keuntungan yang diperoleh petani kedelai naik rata-rata Rp. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998). Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan.

Pengujian terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56 persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi. Dengan adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.

Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel dan kentang berturut-turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha. Selanjutnya survey yang dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8 pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 % adalah sayuran impor (Rizky, 2002).

Pasar swalayan di Indonesia pada saat ini umumnya lebih suka menjual sayuran dan produk pertanian lain yang diolah secara organik. Teknik dan teknologi pertanian sekarang ini cenderung mendukung pertanian organik. Teknik budidaya yang sekarang ini sudah banyak di praktekan adalah dengan cara Hidroponik dan Aquaponik. Walaupun sebagian besar cenderung masih menggunakan produk kimia dalam proses budidayanya, tetapi dalam jumlah yang sedikit.


Sunday, 19 February 2017

Keuntungan dan Kendala Pemupukan Lewat Daun serta Proses Penyerapannya


Pemupukan lewat daun adalah cara atau metode aplikasi memasok hara lebih cepat daripada aplikasi ke akar, namun lebih cepat hilang dengan beberapa kendala, antara lain:
1. Laju penetrasi rendah, terutama pada daun dengan kutikula tebal (ex. jeruk & kopi)
2. Adanya aliran permukaan pada permukaan hidrofob
3. Pencucian oleh hujan
4. Larutan cepat kering
5. Laju translokasi terbatas, hara tidak segera ditranslokasi dari tempat fiksasi ke bagian lain (contoh: unsur Ca pada daun dewasa)
6. Jumlah hara makro yang bisa diberikan sangat terbatas (bandingkan N pada pupuk daun vs urea)
7. Kerusakan daun (nekrosis & terbakar)

Dalam proses pemupukan lewat daun biasanya dengan cara disemprot dan hal yang perlu diingat adalah dosis pemupukan tidak boleh berlebihan, selain itu jika daun tanaman masih muda dan akan tumbuh tunas, tidak boleh dilakukan spraying ini. Setelah daun muda atau tunas muda menjadi ranting yang kokoh, maka spraying boleh dilakukan.

Penyemprotan diarahkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah karena jumlah mulut daun (stomata) lebih banyak dibagian bawah dari pada dibagian atas daun. Larutan pupuk disemprotkan dengan alat semprot (sprayer).

Larutan pupuk yang keluar dari nozzle dalam bentuk percikan kabut. Arah semprotan sesuai dengan arah angin. Bagian daun yang menghadap ke bawah. Penyemprotan larutan pupuk daun dilakukan tidak terlalu dekat.

Pupuk hendaknya disemprotkan ketika matahari tidak sedang terikteriknya. Paling ideal dilakukan sore hari (sekitar pukul 15.30 – 17.30) atau pagi hari (sekitar pukul 07.00-09.00), keadaan dimana matahari belum begitu menyengat. Kalau dipaksakan juga menyemprot ketika panas, pupuk daun itu banyak menguap daripada diserap oleh daun.

Penyemprotan pupuk daun jangan dilaksanakan menjelang musim hujan. Resikonya pupuk daun akan habis tercuci oleh air hujan dan lagipula pada saat seperti itu stomata sedang menutup.

Pemberian pupuk daun bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian pestisida kalau dianggap perlu, atau bersamaan dengan zat perangsang tumbuh (ZPT).



Proses Penyerapan Hara Pupuk oleh Daun & Bagian Aerial

Beberapa unsur hara masuk ke dalam tubuh tanaman dalam bentuk gas, terutama CO2 dan O2. Selain itu juga SO2, NH3 dan SOx. Gas-gas tersebut masuk melalui stomata, juga bisa melalui ektodesmata, hydatoda dan lentisel. Struktur dinding sel bagian luar dari sel-sel epidermis berperan penting dalam fiksasi ini. Gas-gas tersebut masuk melalui stomata dengan cara pertukaran dengan air dalam proses transpirasi. Laju fiksasi gas-gas tersebut sangat dipengaruhi oleh laju transpirasi. Permasalahannya adalah transpirasi merupakan proses kehilangan air terbesar dari tubuh tanaman.


Struktur dinding luar sel epidermis pada daun





















Bagian Daun Tempat Masuk dan Penyerapan Unsur Hara

>>>Stomata
bentuk dan mekanisme kerjanya


















Ketika stomata terbuka























>>>Lentisel
Proses  pembentukan lentisel pada tanaman























Lentesil yang telah terbentuk sempurna
















>>>Ektodesmata
Ektodesmata adalah nonplasmatic channel yang berperan dalam transpirasi kutikula dan peristomata yang biasanya terbentuk dalam sistem dinding sel antara sel
penjaga dan subsider.










Irigasi dengan metode sprinkle meningkatkan kandungan garam agar lebih tinggi
pada daun daripada dengan cara tetesan. Emulsifier dalam larutan pupuk daun sangat diperlukan sebagai penurun tegangan permukaan molekul yang terlarut.















Pemupukan lewat daun sangat menguntungkan bila tanaman dihadapkan pada kondisi:
1. Ketersediaan hara di tanah sangat rendah;
2. Topsoil kering;
3. Penurunan aktivitas akar selama fase reproduktif;
4. Peningkatan kandungan prot pada biji
5. Peningkatan kandungan Ca pada buah

Pencucian unsur hara dari daun adalah penghilangan substansi dari bagian aerial tanaman oleh air, seperti hujan, irigasi, embun, dan penyemprotan. Substansi biasanya mengalami pencucian (leaching) dengan cara:
1. Dikeluarkan scr aktif ke permukaan eksternal (ex. Garam oleh kelenjar garam)
2. Dikeluarkan melalui gutasi (karena tekanan akar)
3. Hilang dari daerah daun yang rusak
4. Tercuci dari apoplas jariangan daun utuh

Leaching ini menguntungkan bagi tanaman tersebut (contoh: mekanisme ketahanan terhadap salinitas) maupun lingkungan (contoh: pasokan hara ke tanah).

Writed by Baranur


Pertanian Organik sebagai Metode Bertani Masa Depan (bagian 1 dari 3)


Pengantar
Memasuki abad ke-21 banyak keluhan masyarakat tentang berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah, pengapuran, dan lain-lain. Salah satu penyebabnya adalah karena pola makan. Pada zaman sekarang ini banyak sekali bahan makanan yang diolah dengan berbagai tambahan bahan kimia.

Penggunaan Pestisida
Budaya petani yang menggunakan pestisida kimia dengan frekuensi dan dosis berlebih menghasilkan pangan yang mengandung  toksin atau racun (dalam jumlah yang kecil) dan bahan pangan tersebut secara perlahan meracuni tubuh konsumen.

Adanya logam-logam berat yang terkandung di dalam pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.

Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan pestisida baik insektisida dan fungisida oleh petani sudah merupakan hal yang sangat akrab dengan petani kita. Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.

Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk pegendalian OPT di lahannya antara lain karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik.

Penggunaan Pupuk
Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.

Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan, khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen (N) dan kalium (K). Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.

Efisiensi penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yang berjumlah enam buah (PT Pusri Palembang, PT Petrokimia Gresik, PT Kujang, dan seterusnya)  telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini belum terlaksana.

Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak berimbang.


Saturday, 18 February 2017

Unsur Hara Esensial dan Non Esensial


A. Unsur Hara Esensial
Unsur hara esensial adalah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Bila jumlahnya tidak mencukupi, maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan Normal, diantaranya :
Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo), Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl).

1. Unsur Hara Makro 
Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif besar. Dari jumlah yang tersedia di alam unsur hara makro terbagi menjadi 2 (dua), yaitu Jumlah tak terbatas dan Jumlah terbatas.

Fungsi Unsur Hara Makro Esensial dan Jumlah Tak Terbatas

Unsur Hara Makro esensial ini mempunyai Jumlah tak terbatas dialam dan tidak perlu diusahakan pengadaannya. Unsur hara ini disebut juga pokok, karena penyusun bahan organik,  jumlahnya tak terbatas di alam.  Tidak ada kasus kekurangan, kalaupun ada gejalanya layu menyeluruh dan merata karena tanaman tidak disiram atau kekurangan air.

a.  Karbon (C)
Sebagai pembangun bahan organik karena sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik, diambil tanaman berupa C02.

b. Hidrogen (H)
Sebagai elemen pokok pembangun bahan organik. diambil dalam bentuk air (H2O)

c. Oksigen (O)
Sebagai pembangun bahan organik, respirasi, dan pembakar energi. diambil oleh tanaman dalam bentuk Oksigen Bebas(O2) atau air (H2O).

Fungsi Unsur Hara Makro Esensial dan Jumlah Terbatas
Unsur Hara Makro esensial ini mempunyai jumlah terbatas, dan perlu diusahakan pengadaannya. Jumlah terbatas bahkan sangat kecil di alam atau jumlah kecil yang bisa diserap tanaman, harus diusahakan pengadaannya karena nutrisi ini begitu penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

a. Nitrogen (N)
* Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
* Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri.
* Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman.
* Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun.

Kekurangan unsur N menyebabkan pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.

b. Phosfor (P)
* Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman.
* Merangsang pembungaan dan pembuahan.
* Merangsang pertumbuhan akar.
* Merangsang pembentukan biji.
* Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel.

Kekurangan unsur P menyebabkan pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat ).

c. Kalium (K)
* Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
* Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit.

Kekurangan Kalium menyebabkan batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.

d. Calsium (Ca)
* Merupakan bagian penting dari dinding sel dan sangat penting untuk menunjang proses pertumbuhan.
* Kalsium adalah untuk menyusun klorofil.
* Dibutuhkan enzim untuk metabolis karbohidrat, serta mempergiat sel meristem.

Kekurangan Calsium mengakibatkan terjadinya disintegrasi pada ujung-ujung tanaman (ujung batang, akar, dan buah)  sehingga ujungnya menjadi mengering atau mati, tunas daun yang masih muda akan tumbuh abnormal.

e. Magnesium (Mg)
* Merupakan penyusun utama khlorofil yang menentukan laju fotosintesa / pembentukan karbohidrat.
* Berfungsi untuk transportasi fosfat.
* menciptakan warna hijau pada daun.

Kekurangan Mn menyebabkan menguningnya daun yang dimulai dari ujung dan bagian bawah daun.

f. Sulfur (S) / Belerang
* Pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman
* Pertumbuhan anakan pada tanaman
* Berperan dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur
* Pada beberapa jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papain

Kekurangan S pada tanaman pada umumnya mirip kekurangan unsur nitrogen. misalnya daun berwarna hijau mudah pucat hingga berwarna kuning, tanaman kurus dan kerdil, perkembangannya lambat.

2. Unsur Hara Mikro
Fungsi Unsur Hara Mikro Esensial dan Jumlah Terbatas
Unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif kecil, bila berlebihan menjadi racun. Diantaranya : Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn) dan,

a. Ferrit (Fe)/besi 
Berfungsi untuk pembentukan klorofil. Akibat kekurangan Fe yaitu daun menguning dan ahirnya mati dari pucuk.

b. Mangan (Mn) 
Berfungsi untuk penyusunan klorofil, perkecambahan, dan pemasakan buah. Ciri kekurangan Mn yaitu biji yang terbentuk akan sangat jelek, daun menguning dan beberapa jaringan akan mati.

c. Tembaga/Cupprum (Cu)
Tembaga berfungsi untuk sebagai salah satu unsur pembentukan klorofil dan proses fotosintesis.  Ciri kekurangan  tembaga daun tidak merata dan daun sering layu, malah terkadang klorosis.

d. Seng/zink (Zn)
Zink (Zn) berfungsi memberi dorongan terhadap pertumbuhan tanaman karena diduga Zn dapat berfungsi untuk membebtuk hormon tumbuh. Kekuranan unsur ini ditandai dengan daun berwarna aneh-aneh misal kekuning-kuningan atau pada daun yang sudah tua berwarna kemerahan. Kalau diperhatikan dengan seksama cabang dan batangpun ikut terkena bencana yang mengakibatkan terdapatnya lubang kecil-kecil.

e. Boron (B) 
Berfungsi:
* Mengangkut karbohidrat kedalam tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium.
* Di dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif.
* Pada tanaman penghasil  biji unsur ini berpengaruh terhadap pembagian sel.
* Menaikkan mutu tanaman sayuran dan tanaman buah.

Kekurangan unsur boron:
* paling nyata tampak pada tepi-tepi daun yaitu gejala klorosis, mulai dari bagian bawah daun.  daun yang baru muncul terlihat kecil dan tanaman agak kerdil cabang tumbuh sejajar. kuncup-kuncup mati dan berwarna hitam.
* menimbulkan penyakit fisiologis , khususnya pada atanaman sayur dan buah, pada tanaman semangka biasanya ditandai dengan pertumbuhan batang muda yang tegak berdiri, ruas pendek, daun mengecil, dan bila terkena angin batang muda tersebut mudah patah dan mengeluarkan cairan berwarna kecoklatan, terutama pada tanaman sayur  dan buah.
kekurangan unsur ini agak sulit dibedakan dengan tanaman yang terkena serangan virus. Dan pada tanaman jagung kekurangan unsur ini bisa mengakibaatkan tongkol tanpa biji sama sekali ( mirip jagung yang tidak terbuahi).


B. Unsur Hara Non Esensial
Unsur hara ini berperan dalam jumlah yang relatif kecil, Akibat Kekurangan unsur hara ini belum banyak dipelajari karena perannya dapat digantikan dengan unsur hara lainnya. Unsur ini jarang sekali bisa tersedia di alam dan mempunyai jumlah yang terbatas. Diantaranya: Molibdenum (Mo), Klor (Cl), Natrium (Na), Cobalt (Co), Silicon (Si), dan Nikel (Ni).

a. Klorin (Cl)
Klorin diperlukan untuk osmosis dan keseimbangan ionik sel bagian dari regulasi energi, juga memainkan peran dalam fotosintesis.

b. Cobalt (Co)
Untuk Fiksasi nitrogen dalam penyerapan unsur N (Nitrogen), Cobalt dapat digantikan perannya dengan Natrium (Na), dan Molibdenum (Mo).

c. Molibdenum (Mo)
Sebagai kofaktor pada beberapa enzim penting untuk membangun asam amino.

d. Natrium (Na)
Sebagai keseimbangan ion pada regulasi energi untuk membuka dan menutupnya stomata.

e. Silicon (Si)
Tersimpan dalam dinding sel yang mengakibatkan sifat mekanis sel yaitu kaku atau elastis.

f. Nikel (Ni)
Pada tanaman Keras/tumbuhan tingkat tinggi sebagai aktivasi urease (enzim yang berperan dalam metabolisme Nitrogen untuk proses perombakan urea).
Pada tanaman tingkat rendah, sebagai kofaktor beberapa enzim.
Perannya dapat digantikan dengan  Seng (Zn) dan Besi (Fe).

Penulis: Baranur

Akibat Kekurangan Unsur Hara


Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya, yaitu adanya kelainan atau penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda (dimulai dari proses penyemaian).

Gejala kekurangan ini cepat atau lambat akan terlihat pada tanaman, tergantung pada jenis dan sifat tanaman. Ada tanaman yang cepat sekali memperlihatkan tanda-tanda kekurangan atau sebaliknya ada yang lambat. Pada umumnya pertama-tama akan terlihat pada bagian tanaman yang melakukan kegiatan fisiologis terbesar, yaitu pada bagian yang ada di atas tanah terutama pada daun-daunnya.

1. Nitrogen (N)
Kekurangan unsur hara Nitrogen (N)
a. Warna daun menjadi hijau agak kekuning-kuningan dan pada tanaman padi warna ini mulai dari ujung daun menjalar ke tulang daun selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap, sehingga seluruh tanaman berwarna pucat kekuning-kuningan. Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan.
b. Pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil
c. Perkembangan buah tidak sempurna atau tidak baik, seringkali masak sebelum waktunya
d. Dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan menebalnya membran sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil
e. Dalam keadaan kekurangan yang parah, daun menjadi kering, dimulai dari bagian bawah terus ke bagian atas

2. Phosfor (P)
Kekurangan unsur hara Phosfor (P)
a. Terhambatnya pertumbuhan sistem perakaran, batang dan daun
b. Warna daun seluruhnya berubah menjadi hijau tua/keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Pada tepi daun, cabang dan batang terdapat warna merah ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning.
c. Hasil tanaman yang berupa bunga, buah dan biji merosot. Buahnya kerdil-kerdil, nampak jelek dan lekas matang.

3. Kalium (K)
Kekurangan unsur hara Kalium (K)
Defisiensi/kekurangan Kalium memang agak sulit diketahui gejalanya, karena gejala ini jarang ditampakkan ketika tanaman masih muda.
a. Daun-daun berubah jadi mengerut alias keriting (untuk tanaman kentang akan menggulung) dan kadang-kadang mengkilap terutama pada daun tua, tetapi tidak merata. Selanjutnya ujung dan tepi daun tampak menguning, warna seperti ini tampak pula di antara tulang-tulang daun pada akhirnya daun tampak bercak-bercak kotor (merah coklat), sering pula bagian yang berbercak ini jatuh sehingga daun tampak bergerigi dan kemudian mati
b. Batangnya lemah dan pendek-pendek, sehingga tanaman tampak kerdil
c. Buah tumbuh tidak sempurna, kecil, mutunya jelek, hasilnya rendah dan tidak tahan disimpan
d. Pada tanaman kelapa dan jeruk, buah mudah gugur
e. Bagi tanaman berumbi, hasil umbinya sangat kurang dan kadar hidrat arangnya demikian rendah

Khusus untuk tanaman padi, gejala kekurangan unsur Kalium dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Daun
Daun tanaman padi yang kekurangan Kalium akan berwarna hijau gelap dengan banyaknya bintik-bintik yang warnanya yang menyerupai karat. Bintik-bintik itu pertama-tama muncul pada bagian atas daun yang sudah tua, ujung daun dan tepi daun menjadi seperti terbakar (necrotic), berwarna coklat kemerahan atau coklat kuning. Daun-daun tua, khususnya di tengah hari akan terkulai dan daun-daun muda menggulung ke arah atas dan memperlihatkan gejala-gejala kekurangan air
b. Batang
Batang tanaman padi yang kekurangan Kalium akan tumbuh pendek dan kurus. Dan kebanyakan varietas-varietas padi yang kekurangan Kalium lebih mudah rebah
c. Akar
Pertumbuhan akar biasanya sangat terbatas, ujung akar akan tumbuh kurus dan pendek, dan akar selalu cenderung berwarna gelam dan hitam. Akar-akar cabang dan akar rambat sangat kurus dan selalu memperlihatkan gejala pembusukan akar.
d. Bulir dan Malai
Pertumbuhannya akan pendek dan umumnya mempunyai persentase kehampaan buah yang tinggi. Sedang jumlah bulir yang berisi untuk setiap helainya akan rendah, bulir-bulir padi akan berukuran kecil dan tidak teratur bentuknya, mutu dan berat 1.000 bulir akan berkurang, persentase bulir-bulir yang tidak berkembang dan tidak dewasa bertambah.

4. Belerang (S)
Kekurangan unsur hara Belerang (S)
a. Daun-daun muda mengalami klorosis (berubah menjadi kuning), perubahan warna umumnya terjadi pada seluruh daun muda, kadang mengkilap keputih-putihan dan kadang-kadang perubahannya tidak merata tetapi berlangsung pada bagian daun selengkapnya
b. Perubahan warna daun dapat pula menjadi kuning sama sekali, sehingga tanaman tampak berdaun kuning dan hijau, seperti misalnya gejala-gejala yang tampak pada daun tanaman teh di beberapa tempat di Kenya yang terkenal dengan sebutan ’Tea Yellow’ atau ‘Yellow Disease’
c. Tanaman tumbuh terlambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus, batang tanaman berserat, berkayu dan berdiameter kecil
d. Pada tanaman tebu yang menyebabkan rendemen gula rendah
e. Jumlah anakan terbatas.

5. Kalsium (Ca)
Kekurangan unsur hara Kalsium (Ca)
a. Daun-daun muda selain berkeriput mengalami perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis (berubah menjadi kuning) dan warna ini menjalar di antara tulang-tulang daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa tempat mati
b. Kuncup-kuncup muda yang telah tumbuh akan mati
c. Pertumbuhan sistem perakarannya terhambat, kurang sempurna malah sering salah bentuk
d. Pertumbuhan tanaman demikian lemah dan menderita

6. Magnesium (Mg)
Kekurangan unsur hara Magnesium (Mg)
a. Daun-daun tua mengalami klorosis (berubah menjadi kuning) dan tampak di antara tulang-tulang daun, sedang tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian di antara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak-bercak merah kecoklatan
b. Daun-daun mudah terbakar oleh teriknya sinar matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut
c. Pada tanaman biji-bijian, daya tumbuh biji kurang/lemah, malah kalau toh ia tetap tumbuh maka ia akan nampak lemah sekali.

7. Besi (Fe)
Kekurangan unsur hara Besi (Fe)
Defisiensi (kekurangan) zat besi sesungguhnya jarang terjadi. Terjadinya gejala-gejala pada bagian tanaman (terutama daun) kemudian dinyatakan sebagai kekurangan tersedianya zat besi adalah karena tidak seimbang tersedianya zat Besi (Fe) dengan zat kapur/ Kalsium (Ca) pada tanah serta tanah yang berlebihan kapur dan bersifat alkalis. Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah-daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur.
a. Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat-setempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuning-kuningan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati
b. Selanjutnya pada tulang daun terjadi klorosis, yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi kuning dan ada pula yang menjadi putih
c. Gejala selanjutnya yang lebih hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda banyak yang menjadi kering dan berjatuhan
d. Pertumbuhan tanaman seolah terhenti akibatnya daun berguguran dan akhirnya mati mulai dari pucuk.

8. Mangan (Mn)
Kekurangan unsur hara Mangan (Mn)
Gejala kekurangan Mangan (Mn) hampir sama dengan gejala kekurangan Besi (Fe) pada tanaman, yaitu:
a. Pada daun-daun muda di antara tulang-tulang dan secara setempat-setempat terjadi klorosis dari warna hijau menjadi warna kuning yang selanjutnya menjadi putih
b. Tulang-tulang daunnya tetap berwarna hijau, ada yang sampai kebagian sisi-sisi dari tulang
c. Jaringan-jaringan pada bagian daun yang klorosis mati sehingga praktis bagian-bagian tersebut mati, mengering, ada kalanya yang terus mengeriput dan ada pula yang jatuh sehingga daun tampak menggerigi
d. Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, terutama pada tanaman sayuran tomat, seledri, kentang dan lain-lain, begitu juga pada tanaman jeruk, tembakau dan kedelai
e. Pada tanaman gandum, bagian tengah helai daun berwarna coklat, kemudian patah
f. Pembentukan biji-bijian kurang baik (jelek).

9. Tembaga (Cu)
Kekurangan unsur hara Tembaga/Cuprum(Cu)
Kekurangan unsur hara Tembaga (Cu) terkadang ditemukan pada tanah-tanah organik yang agak asam, tanda-tandanya dapat dilihat sebagai berikut:
a. Pada bagian daun, terutama daun-daun yang masih muda tampak layu dan kemudian mati (die back), sedang ranting-rantingnya berubah warna pula menjadi coklat dan mati pula
b. Ujung daun secara tidak merata sering ditemukan layu, malah kadang-kadang klorosis, sekalipun jaringan-jaringannya tidak ada yang mati
c. Pada tanaman jeruk kekurangan unsur hara tembaga ini menyebabkan daun berwarna hijau gelap dan berukuran besar, ranting berwarna coklat dan mati, buah kecil dan berwarna coklat
d. Pada bagian buah, buah-buahan tanaman pada umumnya kecil-kecil warna coklat dan bagian dalamnya didapatkan sejenis perekat (gum).

10. Seng (Zn)
Kekurangan unsur hara Seng/Zincum (Zn)
a. Terjadi penyimpangan pertumbuhan pada bagian daun-daun yang tua, yaitu:
* Bentuknya lebih kecil dan sempit daripada bentuk umumnya
* Klorosis terjadi di antara tulang-tulang daun
* Daun mati sebelum waktunya, kemudian berguguran dimulai dari daun-daun yang ada di bagian bawah menuju ke puncak
b. Pada padi sawah gejala terlihat 2 - 4 minggu setelah tanam, yaitu adanya pemutihan di bagian tengah daun. Kekurangan yang parah menyebabkan daun tidak mau terbuka
c. Pada tanaman jagung gejala terlihat 1 - 2 minggu setelah bibit muncul di permukaan tanah, daun-daun muda menunjukkan garis-garis kuning dan terus menguning sampai ke dasar daun, sedang tepi daun tetap hijau
d. Pada kacang tanah gejala terlihat setelah tanaman berumur 1 bulan, mula-mula jaringan di antara urat-urat dan nampak menguning dan akhirnya hanya pada urat-urat daun saja akan tetap hijau. Tanaman kerdil dan polong sedikit.

11. Molibdenum (Mo)
Kekurangan unsur hara Molibdenum (Mo)
a. Secara umum daun-daun mengalami perubahan, kadang-kadang mengalami pengkerutan terlebih dahulu sebelum mengering dan mati. Mati pucuk (die back) biasa pula terjadi pada tanaman yang kekurangan unsur hara Mo
b. Pertumbuhan tanaman tidak normal, terutama pada tanaman sayuran. Daun keriput dan mengering.

12. Boron (Bo)
Kekurangan unsur hara Boron/Borium (Bo)
Walaupun unsur hara Bo hanya sedikit saja yang diperlukan tanaman bagi pertumbuhannya, tetapi kalau unsur ini tidak tersedia bagi tanaman gejalanya cukup serius.
a. Daun-daun yang masih muda terjadi klorosis, secara setempat-setempat pada permukaan daun bawah yang selanjutnya menjalar kebagian tepi-tepinya. Jaringan daun mati
b. Daun yang baru muncul tumbuh kerdil, kuncup-kuncup mati dan berwarna kehitaman atau coklat
c. Dapat menimbulkan penyakir fisiologis, khususnya pada tanaman sayuran, tembakau dan apel. Malah pada jagung bisa menimbulkan tongkol tanpa biji sama sekali
d. Pada umbi-umbian pertumbuhannya kerdil, terdapat bercak-bercak atau lubang berwarna hitam pada umbi
e. Pada tanaman bayam dan selada pucuk tanaman tumbuh tidak sempurna dan berwarna hitam
f. Tangkai daun seledri membentuk celah-celah dan garis-garis tak teratur berwarna coklat. Anak-anak daun seledri berbercak-bercak coklat.

13. Klorida (Cl)
Kekurangan unsur hara Klorida (Cl)
a. Dapat menimbulkan gejala pertumbuhan daun yang kurang normal terutama pada tanaman sayur-sayuran, daun tampak kurang sehat dan berwarna tembaga
b. Kadang-kadang pertumbuhan tanaman tomat, gandum dan kapas menunjukkan gejala seperti di atas.

Writed by Baranur

Unsur Hara (Pengertian dan Fungsinya)


Unsur hara yaitu suatu zat yang dapat memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan juga perkembangan fisik pada tanaman. Antara Unsur hara satu dengan yang lainnya tak bisa digantikan dengan unsur lainnya karena termasuk unsur esensial yang harus ada dalam jumlah tertentu dengan takaran yang pas bagi masing-masing tanaman. Unsur hara terdiri dari beberapa jenis unsur yang dapat diperoleh dari udara melalui stomata dan juga lentisel pada tanaman dan bisa diperoleh dari tanah melalui akar.

Pengertian unsur hara itu sendiri adalah nutrisi yang dibutuhkan tanaman yang terbentuk dari bahan organik dan anorganik. Berdasarkan jumlah yang diserap tanaman pada umumnya, unsur hara dibedakan menjadi dua yaitu:

* Unsur Hara Makro yang terdiri dari Primer dan Sekunder;
* Unsur Mikro.

Unsur Hara Makro Primer

Nitrogen (N):
Nitrogen merupakan unsur mobile (jika tidak cukup tersedia, bisa pindah dari daun tua ke daun muda) didalam tanaman
Fungsi : Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan; mendorong pembentukan daun dan batang tanaman; pembentuk klorofil (zat hijau daun); mempercepat pertumbuhan tanaman, tinggi tanaman, jumlah cabang dan jumlah anakan; penyusun Protein, Enzim, dan Asam Nukleat

Kekurangan : Pertumbuhan tanaman terhambat, gejala kekurangannya akan dimulai pada daun-daun yang lebih tua, daun-daun tua lebih cepat gugur, karena N yang ada pada daun tua ditransfer ke daun muda. Gejalanya ditandai berupa menguningnya daun. Kadang-kadang warna daun menjadi kemerahan sebagai akibat terbentuknya "anthocyanin".:

Kelebihan : Hal ini terjadi jika pemupukan tidak tersebar secara merata, akar tanaman menjadi rusak, busuk dan mati. Jika pupuk N disebar dan percikannya mengenai daun, maka daun akan mengalami bercak, kadang-kadang rantingnya ikut mati.

Phospor (P):
Fungsi : Merangsang pertumbuhan akar/umbi; mendorong pembentukan bunga dan buah; memperkuat tegaknya batang; meningkatkan rendemen & komponen hasil panen; meningkatkan mutu benih dan bibit

Kekurangan : Tanaman tumbuh merana, lemah dan mudah rebah; pembentukan bunga dan buah terlambat; pada tanaman umbi, umbinya tidak membesar; memicu rontoknya daun, gejala ditunjukkan munculnya warna kemerahan atau keunguan sebagai akibat pembentukan anthocyanin.

Kelebihan : Pertumbuhan tanaman terhambat, karena terjadinya ikatan N-P yang menyulitkan penyerapan unsur N oleh tanaman.

Kalium (K):
Fungsi : Membantu transportasi hasil fotosintesa dari daun ke seluruh tubuh tanaman; membuat tanaman lebih tegak dan kokoh; meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama/penyakit, kekeringan dan berperan dalam pembentukan pati, gula, dan minyak; meningkatkan persentasi gabah (isi, bobot, bulir per malai); meningkatkan ketahanan hasil panen selama pengangkutan dan penyimpanan; membantu pertumbuhan akar & batang lebih kuat; berperan penting dalam Proses sintesa protein, Proses pengangkutan pati dan gula serta Aktifitas enzim

Kekurangan : Ditandai dengan munculnya bercak-bercak kuning pada daun, diikuti dengan mati/"mengeringnya" ujung dan pinggiran daun. Kejadian ini dimulai dari bagian tanaman yang lebih tua. Hasil fotosintesa kurang/ tidak akan diserap oleh sel tubuh tanaman. Pada tanaman buah akan mengurangi rasa manisnya buah; mudah terserang patogen tanaman; batang mudah rebah.

Kelebihan : Pertumbuhan tanaman terhambat, karena terjadinya ikatan N-K yang mengakibatkan sulitnya penyerapan unsure N; pada tanaman Cucurbitaceae daun menjadi kaku, mudah pecah, buah retak-retak.


Unsur Hara Makro Sekunder

Kalsium (Ca):
Biasa tersedia dalam bentuk zat kapur.
Fungsi : Mempercepat pertumbuhan akar, mempermudah penyerapan kalium oleh tanaman, menetralkan kemasaman tanah yang sebagian besar mengandung unsure mikro menjadi dalam  keadaan “tersedia” bagi tanaman.

Kekurangan : Pertumbuhan akar terhambat, menyebabkan kemasaman tanah tinggi yang berakibat klorisis pada daun. Kekurangan kalsium juga menyebabkan terjadinya kerusakan sel-sel apikal pada tunas dan daun. Hal ini menyebabkan tunas dan daun mati. Keadaan ini sering diawali dengan matinya ("mengeringnya") pinggiran daun muda.

Kelebihan : Tidak akan banyak mempengaruhi tanaman, tetapi kalau terlalu banyak (misalnya pada tanah berkapur) pada musim kering banyak tanaman mengalami dehidrasi (keluarnya zat cair pada tanaman).


Magnesium (Mg):
Fungsi: Merupakan bagian dari klorofil daun, penting dalam proses pembentukan klorofil, membantu distribusi Phospor keseluruh tubuh tanaman.

Kekurangan : Klorisis pada daun, ditunjukkan oleh muculnya bercak-bercak berwarna kuning pada daun, tetapi tulang daunnya masih berwarna hijau. Dimulai pada daun-daun yang lebih tua kemudian diikuti pada daun-daun lebih muda.

Kelebihan : Hampir tidak mempengaruhi tanaman, kecuali dalam jumlah yang sangat besar.


Belerang (S):
Fungsi : Meningkatkan pengaruh kerja phospor, meningkatkan kwalitas hasil panen, berperan dalam metabolisme karbohid rat, meningkatkan ketahanan hasil panen, meningkatkan rendemen hasil panen gula pada tebu dan tembakau, komponen pokok asam amino penyusun protein dan enzim

Kekurangan : Kekurangan belerang menyebabkan terhambatnya masa generative tanaman, ditandai dengan menguningnya daun. Diawali dengan daun-daun muda terlebih dahulu. Kadang-kadang disertai juga dengan memerahnya daun.

Kelebihan : Meningkatkan kemasaman tanah yang membahayakan tanaman.



Unsur Hara Mikro

Besi (Fe):
Fungsi : Membantu proses pembentukan klorofil daun, menguatkan batang dan vigor tanaman.

Kekurangan : Kekurangan besi ditunjukkan oleh menguningnya daun yang dimulai dari ujung daun. Daun menjadi sangat mudah patah dan transparan sebelum terlepas. Hygrophylla sp, dan tanaman air lain dengan pertumbuhan cepat, pada kondisi kekurangan Fe, akan menunjukkan gejala ini terlebih dahulu dibandingkan tanaman lain.

Kelebihan : Hampir tidak mempengaruhi tanaman, kecuali dalam jumlah yang sangat besar (tercemar)


Mangan (Mn):
Fungsi : Membantu tanaman dalam menyerap unsur N.

Kekurangan : Mengambat pertumbuhan tanaman, yang ditandai dengan menguningnya bagian daun diantara tulang-tulang daun. Sedangkan tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian yang menguning tersebut akan mati dan meninggalkan lubang-lubang berbentuk memanjang. Kekurangan Mn sering terjadi sebagai akibat pemupukan Fe berlebihan sehingga menyebabkan Mn menjadi tidak tersedia.

Kelebihan : Hampir tidak mempengaruhi tanaman, kecuali dalam jumlah yang sangat besar (tercemar)

Tembaga (Cu) :
Fungsi : Diperlukan dalam proses pembentukan klorofil daun.

Kekurangan : Ujung daun mati dan pinggirannya layu. (Kelebihan Cu dapat membunuh berbagai tanaman, seperti Vallisneria, Ludwigia, Sagitaria, dll). Ranting berwarna coklat, lalu mati dari pucuknya. Pada pohon buah, buah yang terbentuk kecil-kecil. Pada tanaman sayuran sering mengalami kegagalan panen.

Kelebihan : Sering meningkatkan kemasaman tanah, karena berikatan dengan ion sulfat.


Seng (Zn):
Fungsi : Membantu dalam proses pembuatan klorofil daun dan menguatkan batang tanaman.

Kekurangan : Menguningnya bagian daun diantara tulang-tulang daun, pada pinggiran dan pada ujung daun tua.

Kelebihan :


Boron (B):
Fungsi : Meningkatkan vigor tanaman.

Kekurangan : Titik tumbuh mati. Tanaman selanjutnya akan membentuk tunas samping, yang kemudian akan mati pula dengan cepat.

Kelebihan : Dalam jumlah besar menganggu proses fisiologis tanaman.


Molibdenum (Mo):
Fungsi :

Kekurangan : Bintik-bintik kuning diantara tulang daur pada daun lebih tua terlebih dahulu. Diikuiti dengan terbentuknya warna coklat pada pinggiran daun.

Kelebihan :

Klorida (Cl):
Fungsi :

Kekurangan :

Kelebihan :

Demikian Informasi mengenai Unsur Hara, semoga bermanfaat.

Edited: Baranur

Sumber:
Ir. Nur Tjahjadi; Hama dan Penyakit Tanaman; Kanisius; 1989; Yogyakarta; Hal-16-18
Ir. Mul Mulyani Sutedjo; Analisis Tanah, Air, dan Jaringan Tanaman; Rineka Cipta; 2004; Jakarta
http://jokowarino.id/definisi-dan-pengertian-unsur-hara/

Saturday, 11 February 2017

Aplikasi Terpadu Pupuk Hayati, Pupuk Organik, dan Pupuk Kimia pada Tanaman Padi


Beras merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Kebutuhan beras nasional per bulan sekitar 2.3 juta ton, sedangkan jumlah penduduk Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (2009) saat ini tercatat 230 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1.33 %. Kebutuhan beras tersebut akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan dan peningkatan jumlah penduduk Indonesia.

Salah satu kunci untuk meningkatan produksi beras yaitu dengan meningkatkan produktivitas padi. Menurut Badan Pusat Statistik (2009), produksi padi Indonesia tiga tahun belakangan ini mengalami peningkatan. Peningkatan produksi padi berturut-turut tahun 2006, 2007 dan 2008 yaitu 0.56 %, 4.77 % dan 2.13 %. Tahun 2009 diperkirakan akan terjadi peningkatan 3.71 %. Belakangan ini telah terjadi levelling off pada peningkatan produktivitas padi yang salah satunya disebabkan oleh pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan dan kurangnya pengembalian bahan organik tanah sehingga mengakibatkan kemunduran lahan.

Menurut Sutanto (2002), pemberian pupuk anorganik yang tidak seimbang dengan tujuan untuk meningkatkan produksi dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah terutama kesehatan lahan tanaman dan lingkungan. Fadillah (2007) menambahkan, tanah sawah yang terusmenerus dipupuk anorganik tanpa mengembalikan jerami ke lahan sawah mengakibatkan banyak hara yang hilang akibat terangkut saat panen, pencucian dan erosi. Kondisi demikian mengakibatkan rusaknya sifat fisik, sifat kimia dan biologi tanah sehingga kesuburan tanah akan semakin menurun.

Pencapaian produktivitas padi yang tinggi harus terus ditingkatkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Irianto (2010), lahan Indonesia sudah sakit, maka perlu adanya pupuk yang dapat menyuburkan tanah kembali. Menurut Fadiluddin (2009) perlu adanya usaha dan strategi yang tepat untuk menyuburkan tanah kembali, diantaranya pemanfaatan pupuk hayati (biofertilizer).

Pupuk hayati adalah sebuah komponen yang mengandung mikroorganisme hidup yang diberikan ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Pupuk hayati dapat berisi bakteri yang berguna untuk memacu pertumbuhan tanaman, sehingga hasil produksi tanaman tetap tinggi dan berkelanjutan. Menurut Permentan (2009), pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri dari mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan dan kesehatan tanah.

Aplikasi pupuk hayati menjadi pelengkap yang sangat baik, karena selain meningkatkan kesuburan tanah juga memacu pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati berperan mempermudah penyediaan hara, dekomposisi bahan organik dan menyediakan lingkungan rhizosfer lebih baik yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan dan peningkatan produksi tanaman (Vessey, 2003).

Belakangan ini petani mulai memberikan perhatian besar terhadap aplikasi pupuk hayati di Indonesia. Salah satu yang mendorong hal tersebut yaitu kesadaran petani terhadap kemunduran kesuburan tanah dan ketergantungan pupuk anorganik (Simanungkalit, 2001). Pemanfaatan mikroorganisme yang berguna perlu dikembangkan dalam usaha mereduksi pupuk anorganik (Pangaribuan dan Pujisiswanto, 2008). Pemanfaatan pupuk hayati tersebut diharapkan tanaman tumbuh lebih sehat, bebas hama penyakit, kebutuhan hara terpenuhi, serta daya hasil lebih tinggi dan berkelanjutan.

Pengaruh Aplikasi terhadap Pertumbuhan Tanaman
Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi ketiga pupuk dengan berbagai taraf dosis pupuk NPK terlihat berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Secara umum perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati dikombinasikan dengan 0.75 dosis pupuk NPK menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, tetapi tidak berbeda dengan perlakuan pupuk NPK saja. Dengan demikian aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati diduga dapat mensubstitusi kekurangan unsur hara yang diberikan oleh pupuk NPK sampai 25 %, terutama unsur hara N. Peran pupuk hayati majemuk yang mengandung bakteri Azospirillum sp. dan
Azotobacter sp. dapat meningkatkan ketersediaan unsur N. Menurut Simanungkalit (2001), bakteri Azospirillum sp. dan Azotobacter sp. Dapat memfiksasi nitrogen, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara N dalam tanah.

Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan penambahan 0.5 – 1 dosis pupuk NPK terlihat menghasilkan jumlah anakan yang tidak berbeda dengan aplikasi 1 dosis pupuk NPK. Unsur hara yang paling berpengaruh terhadap jumlah anakan adalah N dan P (Dobermann dan Fairhust, 2000). Kondisi tersebut menunjukan bahwa mikroba yang terkandung dalam pupuk hayati dan unsur-unsur hara dalam pupukmorganik dapat meningkatkan ketersediaan unsur N dan P. Menurut Hamim (2008), pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dapat memfiksasi unsur N dari udara bebas dan Pseudomonas sp. dapat melarutkan P menjadi tersedia bagi tanaman.

Seperti halnya dengan jumlah anakan, aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati ditambah dengan berbagai taraf dosis NPK menghasilkan tingkat kehijauan warna daun yang sama dengan perlakuan NPK dosis penuh. Hal tersebut diduga bahwa aplikasi pupuk hayati dapat meningkatkan kekurangan unsur hara N. Menurut Simanungkalit (2001), aplikasi pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dan Azotobacter sp. dapat memfiksasi nitrogen secara bebas dari udara, sehingga unsur N dapat meningkatkan kehijauan warna daun.

Hasil analisis statistika, aplikasi pupuk hayati tidak berpengaruh meningkatkan panjang akar tanaman padi, tapi aplikasi pupuk hayati berpengaruh meningkatkan volume akar. Kombinasi pupuk hayati dengan pupuk NPK dosis penuh menghasilkan volume akar yang lebih besar dibandingkan perlakuan pupuk NPK saja dan nyata meningkatkan volume akar dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Astuti (2007) pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dapat meningkatkan jumlah akar lateral, sehingga dapat meningkatkan volume akar.

Fadiluddin (2009) menambahkan, aplikasi pupuk hayati nyata meningkatkan perakaran baik pada tanaman padi gogo maupun pada tanaman jagung. Hal tersebut dimungkinkan peran pupuk hayati dapat mendorong pertumbuhan perakaran sehingga dapat meningkatkan volume akar walaupun tidak berpengaruh terhadap panjang akar. Menurut Vessey (2003), peningkatan perakaran disebabkan oleh pembelahan dan pemanjangan sel akar yang dipacu oleh hormon yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Wibowo (2007) menambahkan bahwa aplikasi pupuk hayati yang mengandung Azospirillum sp. dapat menghasilkan Indole Acetic Acid (IAA), sedangkan menurut Salisbury dan Ross (1995), hormon IAA yang dihasilkan oleh bakteri yang terkandung dalam pupuk hayati merupakan salah satu jenis hormon auksin yang berperan dalam pembentukan dan pemanjangan akar. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri tersebut merangsang pembelahan sel-sel ujung akar dan akar lateral sehingga menciptakan lingkungan perakaran yang baik dalam optimalisasi perakaran.

Bobot biomassa mencerminkan tingkat pertumbuhan tanaman yang ditentukan oleh kecukupan hara terutama nitrogen. Hasil penelitian bahwa pengaruh pupuk hayati dikombinasikan pupuk NPK dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman, jumlah anakan, tingkat kehijauan warna daun, maupun volume akar. Hal tersebut mendorong pertumbuhan biomassa tanaman. Aplikasi pupuk hayati terlihat nyata meningkatkan bobot kering biomassa akar dan bobot kering biomassa total dan menghasilkan bobot kering tajuk yang nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, namun tidak berbeda dengan perlakuan NPK dosis penuh. Hasil penelitian

Hindersah dan Simarmata (2004) menjelaskan bahwa inokulasi tanaman dengan Azotobacter sp. dapat memperbaiki perkembangan tajuk dan Akar. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Hidayati (2009), pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata dalam meningkatkan bobot kering tajuk, bobot kering akar dan bobot kering total tanaman padi dan jagung di bandingkan perlakuan tanpa pemupukan dan NPK saja. Penelitian Fadiluddin (2009), aplikasi pupuk hayati meningkatkan bobot kering akar tanaman jagung dan padi gogo sebesar 126.5 % dan 28 %.

Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Hasil
Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dapat memacu pertumbuhan tanaman padi, sehingga berdampak juga terhadap hasil dan komponen hasil padi. Fadiluddin (2009) menyatakan bahwa hasil dan komponen hasil merupakan resultan dari pertumbuhan vegetatif tanaman padi yang ditunjukan oleh bobot kering biomassa tanaman.

Hasil analisis statistika menunjukan bahwa aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK berpengaruh terhadap jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, dan bobot 1000 butir gabah. Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati ditambah dengan 0.75 sampai 1 dosis NPK menghasilkan jumlah anakan produktif yang nyata lebih banyak dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, namun tidak berbeda dengan perlakuan 1 dosis NPK.

Pengaruh pupuk hayati terhadap peningkatan jumlah anakan produktif dinyatakan oleh Hidayati (2009) bahwa pemberian pupuk hayati dapat meningkatkan jumlah anakan produktif padi dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan. Aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati ditambah dengan 0.5 sampai 1 dosis pupuk NPK terlihat menghasilkan panjang malai dan jumlah gabah per malai yang tidak berbeda dengan 1 dosis NPK maupun perlakuan tanpa pemupukan, sedangkan
pengurangan dosis NPK hingga 75 % pada aplikasi pupuk organik dan pupuk hayati menghasilkan panjang malai dan jumlah gabah per malai yang cenderung lebih pendek dari perlakuan tanpa pemupukan. Demikian pula perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati dengan berbagai taraf dosis pupuk NPK cenderung menghasilkan bobot 1000 butir gabah yang sama dengan perlakuan tanpa pemupukan dan NPK dosis penuh. Hal tersebut diduga karena kesuburan tanah masih sangat rendah (terutama kandungan bahan organik tanah sedang), sehingga peran mikroba dalam meningkatkan unsur N, P dan K belum optimal. Untuk dapat berperan optimal, mikroba memerlukan C-organik maupun unsur-unsur lain sebagai bahan energi untuk pembiakan dirinya hingga mencapai populasi optimum dan mengikat N serta melarutkan P dalam jumlah yang optimum.

Pengaruh perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati dengan penurunan taraf dosis NPK terhadap hasil dan komponen hasil tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan pupuk NPK saja. Namun aplikasi pupuk hayati saja terlihat menghasilkan bobot gabah per tanaman yang sebanding dengan perlakuan tanpa pemupukan. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa pupuk hayati dapat efektif apabila aplikasinya ditambahkan pupuk organik maupun anorganik sebagai substrat untuk memperbanyak diri. Tanpa pupuk organik ataupun anorganik terlihat bahwa aplikasi pupuk hayati pengaruhnya sama dengan tanpa pemupukan sama sekali.


Friday, 10 February 2017

Aplikasi Terpadu Pupuk Hayati, Pupuk Organik, dan Pupuk Kimia


Aplikasi pupuk hayati terpadu dengan pupuk oraganik dan pupuk anorganik dapat meningkatkan serapan hara, pertumbuhan tanaman dan hasil produksi tanaman. Masing-masing jenis pupuk mempunyai manfaat yang berbeda. Dengan berpadunya penggunaan ketiga jenis pupuk ini merupakan salah satu solusi mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang diakibatkan pengggunaan Pupuk secara berlebih terutama Pupuk Anorganik atau Pupuk Kimia.

Penelitian Fadiluddin (2009), aplikasi pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik pada tanaman jagung meningkatkan serapan hara makro total hingga 145 % dan 665.3 % dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan (kontrol), sedangkan pada padi gogo mampu meningkatkan serapan unsur hara makro total hingga 99.4 % dan 80.6 % dibandingkan kontrol. Percobaan pupuk hayati mampu mengurangi penggunaan pupuk
anorganik.

Hasil penelitian Goenadi (1995), aplikasi bakteri dalam pupuk hayati mampu menurunkan dosis pupuk anorganik hingga 50 % pada tanaman pangan. Laporan Kristanto et al (2002) menyebutkan bahwa inokulasi bakteri Azospirillum pada tanaman jagung mampu mengurangi kebutuhan pupuk N sampai dengan dosis sedang. Penelitian Patola (2005) juga menyatakan bahwa aplikasi pupuk hayati dengan pupuk NPK sampai 50 % anjuran mampu meningkatkan hasil gandum sebesar 13 %. Penelitian Fadiluddin (2009) juga menambahkan bahwa aplikasi pupuk hayati cair dikombinasikan dengan kompos 50 % + NPK 50 % dapat meningkatkan bobot produksi jagung pipilan per tanaman dan bobot 100 biji jagung yang masing-masing mencapai 274.6 % dan 79.7 %, sehingga percobaan pupuk hayati tersebut mampu mengurangi dosis pupuk NPK sampai 50 %.


Thursday, 9 February 2017

DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK TERHADAP LINGKUNGAN


Kelebihan dan Manfaat Pupuk Organik
Sebenarnya, manfaat pupuk organik tidak kalah dibanding dengan pupuk anorganik. Ada banyak manfaat pu-puk organik yang tidak dimiliki oleh
pupuk anorganik, antara lain sebagai berikut :
– Memperbaiki struktur tanah begitu juga dengan karakteristiknya, sehing-ga tanah menjadi gembur, ringan,mu-dah diolah,dan mudah ditembus akar
– Tanah-tanah berat menjadi mudah diolah.
– Kesuburan tanah meningkat.
– Aktivitas mikroba tanah pun mening-kat.
– Kapasitas penyerapan air oleh tanah juga meningkat sehingga tanah menjadi mudah menyediakan kebutuhan air yang diperlukan tanaman.
– Memperbaiki habitat hewan yang hi-dup ditanah dan ketersediaan makanan hewan-hewan tersebut jadi lebih terjamin.
– Meningkatkan ketahanan terhadap perubahan sifat tanah yang terjadi secara tiba-tiba.
– Mengandung mikroba yang bertugas mengurai bahan-bahan organik.
– Meningkatkan kapasitas pertukaran kation, sehingga jika tanaman diberi pupuk dosis tinggi, unsur hara tana-man tidak mudah tercuci.
– Mempertahankan dan meningkatkan
ketersediaan unsur hara di dalam tanah.

Kerugian Menggunakan Pupuk Organik
Memang tak hanya manfaatnya, pemberian pupuk organik juga dapat merugikan apabila terjadi hal berikut:
* Jika pupuk organik (kompos) yang diberikan masih mentah maka bahan organik akan diserang oleh mikroba sehingga unsur hara tanaman menja-di berkurang karena “dimakan” oleh mikroba-mikroba dari kompos mentah.
* Bahan organik yang berasal dari lim-bah industri atau sampah kota sering kali mengandung mikroba patogen dan logam berat, yang tak hanya ber-pengaruh buruk bagi tanaman, akan tetapi manusia dan hewan pun akan kena imbasnya (dampak negatifnya).

Dampak Positif Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi. Misalnya urea berkadar N 45-46% (setiap 100 kg urea terdapat 45-46 kg hara nitrogen) (Lingga dan Marsono, 2000).

Pupuk anorganik atau pupuk buatan dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara misalnya pupuk N, pupuk P, pupuk K dan sebagainya. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya N + P, P + K, N + K, N + P + K dan sebagainya (Hardjowigeno, 2004).

Secara umum, nutrisi NPK yang siap diserap oleh tanaman pada pupuk anorganik mencapai 64%, jauh lebih tinggi dibandingkan pupuk organik yang hanya menyediakan di bawah 1% dari berat pupuk yang diberikan. Inilah yang menyebabkan mengapa pupuk organik harus diberikan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pupuk anorganik

Dampak Negatif Pupuk Anorganik
Polusi air
Nutrisi pada pupuk anorganik, terutama nitrat, dapat mencemari lingkungan alam dan mengganggu kehidupan manusia jika terbilas oleh air hujan dan mengalir dari lahan pertanian hingga ke perairan setempat dan air tanah. Jumlah pupuk anorganik yang masuk ke perairan cenderung sulit untuk dihitung dan diperkirakan dampaknya secara kuantitatif.

Sindrom bayi biru
Pembilasan pupuk nitrogen dari kawasan pertanian mampu mencemari air tanah. Penggunaan ammonium nitrat anorganik secara umum bersifat membahayakan air tanah karena tanaman lebih mudah menyerap ion amonium dibandingkan ion nitrat untuk mendapatkan nitrogen, sehingga ion nitrat yang berlebih tersebut akan terbilas dan mencemari air tanah. Kadar nitrat di atas 10 miligram per liter (10 ppm) pada air tanah mampu menyebabkan sindrom bayi biru.

Kontaminasi zat pengotor
Setiap pupuk anorganik berbahan dasar mineral dapat mengandung zat pengotor berupa fluorida dan logam berat seperti kadmium dan uranium tergantung dari di mana dan bagaimana bahan mineral ditambang. Bahan pengotor tersebut dapat dihilangkan, namun akan meningkatkan biaya prduksi secara signifikan sehingga tidak dilakukan oleh sebagian besar industri pupuk. Senyawa pengotor ini dapat mempengaruhi kualitas tanah hingga meracuni tanaman.

Ketergantungan terhadap pupuk anorganik
Petani secara tidak sadar menjadi "kecanduan" pupuk anorganik karena penggunaan pupuk anorganik secara jangka panjang mematikan organisme tanah yang bermanfaat sehingga penyediaan nutrisi secara organik tidak akan secepat tanah biasa. Organisme tanah seperti mikoriza, fungi, dan berbagai bakteri mampu menguraikan senyawa organik. Ketidakseimbangan nutrisi tanah akibat pupuk anorganik mematikan sebagian besar organisme tanah dan menyebabkan peningkatan keasaman tanah.

Hilangnya unsur mikro
Berbagai pupuk anorganik tidak mengandung unsur hara mikro karena dibuat dalam bentuk murni. Unsur hara mikro ini dapat secara bertahap menghilang dari tanah karena diserap oleh tumbuhan. Hilangnya unsur mikro telah dikaitkan dengan studi turunnya kandungan mineral pada buah dan sayur yang dihasilkan suatu usaha tani. Di Australia, defisiensi seng, te,baga, mangan, besi, dan molibdenum menjadi pembatas jumlah hasil pertanian dan peternakan yang dihasilkan pada tahun 1940 sampai 1950an. Sejak kejadian ini, nutrisi hara mikro mulai ditambahkan pada produksi pupuk anorganik.

Berbagai tanah di seluruh dunia yang kekurangan nutrisi seng terkait pula dengan defisiensi seng pada asupan nutrisi manusia yang hidup di sekitarnya.

Pemupukan berlebih
Memar (burn) karena pupuk berlebih
Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi. Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman. Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.

Konsumsi energi tinggi
Di Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya. Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia.
Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%. Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.

Kontribusi terhadap perubahan iklim
Gas rumah kaca (GRK) berupa karbondioksida, metana, dan nitro oksida ketiganya dihasilkan dari industri pupuk, baik disengaja maupun tidak. Metana dan nitro oksida merupakan senyawa gas rumah kaca yang lebih berbahaya dibandingkan gas karbon dioksida, dan dampak keduanya dapat disetarakan dengan karbon dioksida. Diperkirakan setiap kilogram amonium nitrat yang dihasilkan, dua kilogram GRK setara karbon dioksia dilepaskan oleh industri. Selain itu, pupuk nitrogen yang sudah terlarut ke dalam tanah mampu dilepaskan oleh bakteri menjadi nitro oksida melalui proses denitrifikasi. Semakin banyak nitrogen di dalam tanah yang tersedia, laju proses denitrifikasi menjadi lebih cepat sesuai dengan kesetimbangan kimia.

Dampak terhadap mikoriza
Tumbuhan tidak lagi bergantung pada mikoriza dalam pemecahan senyawa organik dan penyerapan nutrisi karena ketersediaan nutrisi lebih banyak didapatkan dari pupuk anorganik. Hubungan simbiosis ini dapat terlepas dan mempengaruhi ekosistem tanah secara keseluruhan.

Eutrofikasi
Pupuk secara umum mengandung senyawa yang mampu mempercepat pertumbuhan tumbuhan. Eutrofikasi adalah gejala peningkatan laju pertumbuhan tumbuhan air. Pupuk yang terbilas aliran air permukaan mampu diserap oleh tumbuhan air dan menyebabkan eutrofikasi. Hal ini membahayakan perairan karena ketika tumbuhan mati, proses dekomposisi oleh bakteri yang terjadi di bawah air mampu menyebabkan hilangnya oksigen dan menyebabkan kebinasaan ikan dan hewan air lainnya. Dan air mampu berubah menjadi keruh dan berwarna kehijauan (atau merah, coklat, kuning, tergantung jenis alga yang mengalami eutrofikasi di perairan).
Sekitar setengah danau di Amerika Serikat kini bersifat eutrofik dan jumlah kawasan mati (dead zone) meningkat hingga ke pinggir pantai.

Peningkatan keasaman tanah (pH tanah)
Pupuk organik dan anorganik yang kaya nitrogen dapat menyebabkan peningkatan keasaman tanah ketika diberikan. Keasaman tanah yang meningkat mampu mengikat beberapa senyawa nutrisi mikro sehingga menjadi tidak tersedia bagi tumbuhan untuk diserap. Pengapuran tanah dapat menurunkan tingkat keasaman tanah.

Pencemaran udara
Konsentrasi emisi metana dunia di dekat permukaan tanah dan di atmosfer tahun 2005. Perhatikan warna merah pada peta bagian atas menunjukan lokasi dengan emisi metana terbesar

Emisi metana dari lahan pertanian, terutama sawah penanaman padi meningkat dengan bertambahnya penerapan pupuk berbasis amonia. Emisi ini dapat berkontribusi secara signifikan pada perubahan iklim karena metana merupakan gas rumah kaca yang kuat. Selain metana, nitro oksida telah menjadi gas rumah kaca dengan kontribusi pemanasan global ketiga di dunia karena meningkatnya penggunaan pupuk berbasis nitrogen.
Emisi gas metana dari pupuk mencakup:
* kotoran hewan dan urea melepaskan metana, nitro oksida, amonia, dan karbon dioksida pada jumlah yang bervariasi tergantung wujud dan kondisi lingkungna setempat.
* pupuk berbasis asam nitrat atau amonium bikarbonat melepas nitro oksida, amonia, dan karbon dioksida ke atmosfer sejak proses produksi hingga penerapannya ke atmosfer. Amonia merupakan senyawa dengan titik didih yang rendah, sehingga mudah menguap segera setelah diberikan ke lahan pertanian akibat panas matahari.


Wednesday, 8 February 2017

Pengertian dan Sumber Pupuk Organik


Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, contohnya pupuk kandang dan kompos. Pupuk organik sukar ditentukan isinya tergantung dari sumbernya, keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.

Sumber pupuk organik mencakup semua bahan yang dihasilkan dari makhluk hidup dan bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, seperti kotoran hewan, kotoran cacing, kompos, rumput laut, enceng gondok, cangkang siput, cangkang telur, dan tulang hewan yang sudah lunak atau lapuk. Kotoran hewan merupakan limbah yang seringkali menjadi salah satu masalah lingkungan, sehingga penggunaan kotoran hewan sebagai pupuk dapat menjadi salah satu solusi yang menguntungkan secara lingkungan dan pertanian. Tulang hewan sisa penyembelihan hewan bisa dijadikan bubuk tulang yang kaya kandungan unsur hara terutama Kalium.

Manfaat pupuk organik

  • Pupuk organik diketahui mampu meningkatkan produktivitas tanah secara jangka panjang.
  • Pupuk organik diketahui mampu meningkatkan kandungan unsur hara Makro dan Mikro.
  • Pupuk Organik menyediakan nutrisi organik bagi organisme penghuni tanah seperti jamur mikoriza yang membantu tanaman menyerap nutrisi, dan dapat mengurangipenggunaan pupuk kimia. 


Kekurangan  pupuk organik
Pupuk organik merupakan pupuk yang bersifat kompleks karena ketersediaan senyawa yang ada pada pupuk tidak berupa unsur ataupun molekul sederhana yang dapat diserap oleh tanah secara langsung. Kadar nutrisi yang tersedia sangat bervariasi dan tidak dalam bentuk yang tersedia secara langsung bagi tanaman sehingga membutuhkan waktu lama untuk diserap oleh tanaman. Beberapa limbah yang dikomposkan, jika tidak diolah secara tepat, dapat menjadi sarana pertumbuhan patogen yang merugikan tanaman.


Sumber pupuk organik
Kotoran Hewan
Kotoran hewan yang terdekomposisi merupakan sumber pupuk organik. Kotoran Hewan yang digunakan sebagai sumber pupuk organik biasanya yang bersumber dari Hewan Ternak, seperti Sapi, Kambing, Ayam (atau berbagai macam unggas), Kuda dan lain sebagainya. Kotoran hewan yang digunakan sebagai sumber pupuk organik bukan hanya yang berbentuk padat, tetapi kotoran yang berbentuk cair atau urine hewan juga digunakan sebagai sumber pupuk organik.

Unsur hara urea dari kotoran hewan (dan juga manusia) dapat digunakan untuk menjadi sumber pupuk. Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa kotoran ayam dapat menjadikan kondisi tanah lebih baik bagi pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan kotoran hewan lainnya. Tulang dari beberapa hewan di darat maupun hewan di laut misalnya ikan, juga dapat digunakan sebagai pupuk dengan cara diubah menjadi bentuk serbuk.

Tumbuhan
Tanaman penutup, legum (misal alfafa) seringkali ditumbuhkan di sela-sela tanaman perkebunan untuk memperkaya tanah dengan nitrogen melalui proses pengikatan nitrogen dari atmosfer dan memperkaya kandungan fosfor melalui mobilisasi nutrisi.
Alga juga dapat digunakan untuk menangkap nitrogen dan fosfor dengan cara menyaring limbah pertanian, yang selanjutnya dikembalikan lagi ke tanah sebagai pupuk.

Enceng gondok yang biasanya dianggap sebagai gulma dan sumber masalah pencemaran lingkungan bisa digunakan sebagai sumber pupuk organik, bahkan sebagai media tanam. Hal ini sudah dipraktekkan di daerah sekitar Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara. Limbah industri kayu seperti serbu gergaji dan kepingan kayu, juga dapat digunakan sebagai pupuk.


Perbandingan pupuk organik dengan pupuk anorganik
Kadar nutrisi, tingkat kelarutan, dan laju pelepasan nutrisi pupuk organik umumnya lebih rendah dibandingkan pupuk anorganik. Secara umum, keberadaan nutrisi pada pupuk organik lebih terlarut melalui molekul tanah, namun juga tidak lebih tersedia dalam wujud yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman.

Berdasarkan studi dari Universitas California, semua pupuk organik diklasifikasikan sebagai pupuk dengan laju pelepasan yang lambat (slow release fertliizer) sehingga tidak menyebabkan memar (burn) atau gosong pada tanaman meski kadar nitrogen pada pupuk organik berlebih. Gejala burn merupakan gejala umum yang ditemukan pada tanaman ketika pemberian pupuk kimia dilakukan secara berlebihan.

Kualitas pupuk organik dari kompos dan sumber lainnya dapat bervariasi dari satu proses produksi ke proses produksi berikutnya.


Tuesday, 7 February 2017

Pengertian Pupuk dan Macam-Macam Pupuk


Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku  atau unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan dan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) membantu kelancaran proses metabolisme.

Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos.

Macam-Macam Pupuk
Dalam praktik sehari-hari, pupuk biasa dikelompok-kelompokkan berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, dan kandungannya.

Pupuk berdasarkan sumber bahan pembuatannya
Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat tiga kelompok besar pupuk:
(1) Pupuk Organik. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, contohnya pupuk kandang dan kompos. Pupuk organik sukar ditentukan isinya tergantung dari sumbernya, keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.
(2) Pupuk Anorganik atau Pupuk Kimia. Pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral.Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi.
(3) Pupuk Hayati. Pupuk hayati adalah sebuah komponen yang mengandung mikroorganisme hidup yang diberikan ke dalam tanah sebagai inokulan untuk membantu
menyediakan unsur hara tertentu bagi tanaman. Menurut Permentan (2009) pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri dari mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah.

Pupuk berdasarkan bentuk fisik
Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk remahan, butiran atau kristal (granul) dan serbuk. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat, pasta dan cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikasikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman. Akan tetapi, secara prakteknya pupuk padat dan pupuk cair bisa diaplikasikan  melalui berbagai macam cara.

Pupuk berdasarkan kandungannya
Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua atau tiga unsur yang diperlukan. Pada pupuk majemuk biasanya terdapat pula unsur hara mikro (pupuk mikro), karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.



Monday, 21 November 2016

Pupuk Hayati - Petrobiofertil


Berdasarkan penelitian Puslitbang Tanah dan Agroklimat pada tahun 2005, 40% dari (luas +7,5 juta hektar) lahan sawah di 17 propinsi sentra produksi pertanian di Indonesia memiliki kandungan fosfat (P) yang tergolong tinggi. Tingginya kandungan P di Indonesia, sebagai akibat dari berlebihannya penggunaan pupuk fosfat an-organik secara berlebihan selama beberapa puluh tahun terakhir.

Semenjak dimulainya Revolusi Hijau, yang mendasarkan diri pada 4 pilar penting;
1. penyediaan air melalui sistem irigasi,
2. pemakaian pupuk kimia secara optimal,
3. penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu,
4. penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas
Sebab hal tersebut mengakibatkan meningkatnya penggunaan pupuk fosfat an-organik. Revolusi Hijau di Indonesia dimulai sejak tahun '70 an dan lebih dikenal sebagai gerakan Bimas (bimbingan masyarakat), merupakan program nasional saat itu untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras.

Seperti diketahui bahwa unsur fosfat (P) adalah unsur esensial kedua setelah N yang berperan penting dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Tetapi apabila lahan sawah telah jenuh fosfat, maka fosfat tidak dapat dimanfaatkan maksimal oleh tanaman, karena fosfat dalam bentuk P- terikat di dalam tanah. Salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat dan mengatasi rendahnya fosfat yang tersedia dalam tanah adalah dengan memanfaatkan kelompok mikroorganisme pelarut fosfat, sehingga dapat diserap oleh tanaman. Dengan demikian pemanfaatan mikroorganisme pelarut fosfat diharapkan dapat mengatasi masalah ketersediaan P pada tanah.

Melihat kenyataan tersebut tersebut, PT Petrokimia Gresik sebagai produsen sarana produksi pertanian yang terlibat langsung dalam pembangunan pertanian di Indonesia, memberikan solusi dengan memproduksi pupuk hayati dengan merek PETRO BIOFERTIL. Pupuk ini berbahan aktif mikroorganisme yang dapat melarutkan P yang terikat dalam tanah menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman, sekaligus menambat N dari udara untuk dimanfaatkan oleh tanaman. Petro Biofertil merupakan pupuk hayati yang mengandung bakteri penambat nitrogen non simbiotik penghasil Zat Pengatur Tumbuh (Azospirillum sp., Azotobacter sp., dan Pseudoinonas sp.), fungsi pelarut fosfat (Aspergillus sp. dan Peilicillium sp.) dan aktinomisetes perombak bahan organik Streptomyces sp. yang diformulasikan dalam bentuk granul berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu kecoklatan. Pupuk hayati Petro Biofertil telah. melalui uji mutu di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dan Succofindo, serta telah mendapatkan ijin edar dari Departemen Pertanian dengan Nomor G 872/HAYATI/DEPTAN-PPVTPP/IV/2011.

Pupuk Hayati Petro Biofertil

Menurut R. Erwin Hendromono, Staf Utama Muda Riset Pupuk dan Produk Hayati PT Petrokimia Gresik, ada 6 manfaat PETRO BIO FERTIL;

  1. meningkatkan efektivitas penggunaan pupuk an-organik,
  2. melepaskan unsur hara P yang terikat dalam tanah sehingga tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman,
  3. meningkatkan ketersediaan N di dalam tanah dengan mengikat N dari udara,
  4. meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air (water holding capacity),
  5. meningkatkan aerasi tanah sehingga merangsang pertumbuhan akar tanaman,
  6. meningkatkan aktivitas dan populasi mikroorganisme tanah.

A. SPESIFIKASI PRODUK

1. Bahan aktif :

  • Azotobacter chroococcum 108 – 1010 cfu/g bk
  • Azospirillum lipoferum 108-1010 cfu/g bk
  • Pseudomonas pseudoalcaligenes 108- 1010 cfu/g bk
  • Penicillium sp. 105 – 107propagul/g bk
  • Aspergillus tubingensis 105- 107 propagul/g bk
  • Streptomyces plicatus 105 - 107 cfu/g bk (bk : berat kering)

2. Bahan pembawa : Bahan organik dan mineral
3. Warna : Abu-abu Kecoklatan
4. Bentuk : Granul berdiameter 1-3 mm
5. Masa simpan : 1 tahun
6. Kadar air : <20
7. pH : 5 - 8
8. Kemasan : Plastik kedap air ukuran 5, 2 Kg
9. Waktu expired : 1 tahun


B. MANFAAT DAN KEUNGGULAN
1. Manfaat

  1. a. Meningkatkan efektivitas penggunaan pupuk anorganik.
  2. b. Melepaskan unsur hara P yang terikat dalam tanah sehingga tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
  3. c. Meningkatkan ketersediaan N dalam tanah dengan mengikat N dari udara.
  4. d. Meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air (water holding capacity).
  5. e. Meningkatkan aerasi tanah sehingga merangsang pertumbuhan akar tanaman.
  6. f. Meningkatkan aktivitas dan populasi mikroorganisme tanah.


2. Keunggulan
a. Mekanisme pelepasan hara dirancang mulai aktif jika terjadi kontak antara mikroba bahan aktif dengan tanah.
b. Petro Biofertil berbentuk granul sehingga mudah dalam aplikasi.
c. Petro Biofertil bersifat aman dan ramah lingkungan.
d. Mengandung mikroba :
> Penambat N dan penghasil Zat Pengatur Tumbuh yang mengikat N bebas di udara sehingga dapat digunakan oleh tanaman.
> Pelarut P yang berkemampuan menghasilkan enzim fosfatase, asam-asam organik, dan polisakarida ekstra sel. Senyawa-senyawa tersebut akan membebaskan unsur P dalam tanah dari senyawa-senyawa pengikatnya (misalnya aluminium) sehingga P tersedia bagi tanaman meningkat.
> Perombak bahan organik yang mampu mendekomposisi selulosa sehingga menyediakan unsur - unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.
e. Bahan pembawa berupa mineral liat, mineral ameliorant, dan bahan organik akan meningkatkan tingkat kelembaban, aerasi, ketersediaan nutrisi tanah. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan aktivitas dan populasi mikroba, serta perakaran tumbuh dengan balk sehingga penyerapan hara lebih optimal.
f. Produk dikemas dalam kantong kedap air sehingga mutu terjamin.
g. Sesuai untuk semua jenis tanaman.

C. MEKANISME KERJA PETRO BIOFERTIL
1. Bakteri- Azospirillum lipoferum, azotobacter chroococcum, dan. Pseudomonas pseudoalcaligenes mengikat N bebas di dalam udara dan mengubahnya menjadi amonia, selanjutnya amonia diubah oleh mikroba nitrifikasi menjadi nitrat yang siap diserap oleh tanaman. Selain itu juga menghasilkan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang meningkatkan pertumbuhan tanaman.
2. Fungi Aspergillus tubingensis dan Penicillium sp. Berkemampuan menghasilkan enzim fosfatase, asam-asam organik dan polisakarida ekstra sel. Senyawa-senyawa tersebut akan membebaskan unsur P dalam tanah dari senyawa-senyawa pengikatnya (antara lain kalsium fosfat), sehingga P tersedia bagi tanaman meningkat.
3. Actinomisetes Streptomyces plicatus mampu mendekomposisi selulosa sehingga menyediakan unsur-unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.
4. Bahan pembawa berupa mineral liat, mineral amelioran, dan bahan organik, yang akan meningkatkan tingkat kelembaban, aerasi, ketersediaan nutrisi tanah. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan aktivitas dan populasi mikroba, dan perakaran tumbuh dengan baik sehingga penyerapan hara lebih optimal.

Bakteri penambat nitrogen menangkap nitrogen bebas di udara melalui produksi enzim reduktase urea. Bakteri ini dapat bersimbiosis dengan akar tanaman Dengan adanya simbiosis ini, kebutuhan nitrogen tanaman dapat dipenuhi sebagian atau sedikit memerlukan tambahan pupuk nitrogen. Mikroba pelarut fosfat yang menghasilkan enzim fosfatase, asam-asam organik dan polisakarida ekstra sel. Senyawa-senyawa tersebut akan membebaskan unsur fosfat dari senyawa-senyawa pengikatnya, sehingga fosfat yang tersedia bagi tanaman meningkat.

D. DOSIS DAN CARAAPLIKASI
1. Takaran per hektar 50 kg untuk tanaman padi dan Hortikultura, diaplikasikan 2 (dua) kali sebagai pupuk dasar dan pupuk susulan (3-4 minggu) setelah tanam.
2. Tidak dianjurkan untuk dicampur dengan pestisida atau waktunya berdekatan dengan aplikasi pestisida terutama pestisida berbentuk butir an (granul).

E. HASIL UJI APLIKASI
Waktu penelitian : Juni 2011
Tempat penelitian : Rumah Kaca Kebun Percobaan PT Petrokimia Gresik

Perlakuan :
A : Tanpa Pemupukan
B : Dosis pemupukan rekomendasi
C : 200 kg/ha Urea + 300 kg/ha Phonska + 500 kg/ha Petroganik + 100 kg/ha Petro Biofertil 3 (tiga) mikroba
D : 200 kg/ha Urea + 300 kg/ha Phonska + 500 kg/ha Petroganik + 50 kg/ha Petro Biofertil 6 (enam) mikroba

Perlakuan D menunjukkan volume akar yang besar dan serabut akar yang lebih banyak dibandingkan perlakuan A, B, maupun C.

"Selain itu, pupuk hayati ini juga mempunyai banyak keunggulan diantaranya adalah mengandung mikroba penambat N yang mengikat N bebas di udara sehingga dapat digunakan oleh tanaman menghasilkan hormon pertumbuhan dengan adanya mikroba penghasil zpt, mikroba pelarut P yang berkemampuan menghasilkan enzim fosfatase, asam asam organik, dan polisakarida ekstra sel. Senyawa-senyawa tersebut akan membebaskan unsur P dalam tanah dari senyawa-senyawa pengikatnya (misalnya aluminium fosfat) sehingga P tersedia bagi tanaman meningkat dan mikroba perombak bahan organik yang mampu mendekomposisi selulosa sehingga menyediakan unsure-unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman," jelas Erwin. "Yang tidak kalah penting, PETRO BIOFERTIL bersifat aman dan ramah lingkungan, produknya dikemas dalam kantong kedap air sehingga mutu terjamin dan sesuai untuk semua jenis tanaman," imbuhnya.

Cara Pemupukan Tanaman


Metode pemupukan tanaman adalah cara yang ditempuh untuk mengembangkan produktivitas tanaman dengan cara memberikan nutrisi yang seimbang. Nutrisi tanaman atau biasa dikenal dengan nama pupuk tanaman memang tidak bisa dianggap remeh, karena jika tanaman tidak pernah diberi pupuk, maka hasil akhir dari budidaya yang telah kita lakukan akan jauh dari apa yang diharapkan. Tetapi jika tanaman tersebut diberi pupuk sesuai dengan dosis yang ditentukan, otomatis hasil akhir adalah tanaman akan menghasilkan panen yang baik dan berkualitas.

Berbicara masalah prosedur atau metode pemupukan tanaman, ada beberapa metode pemupukan pada tanaman yang bisa kita lakukan. Dengan mengenal bagaimana metode pemupukan tanaman yang benar, diharapkan hasil panen dari tanaman yang sudah kita budidayakan akan memuaskan

Agar dalam budidaya tanaman dapat diperoleh tambahan hasil panen, diperlukan pemupukan. Proses pemupukan sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman. Cara pemberian pupuk pada tanaman umumnya dilakukan melalui akar dan daun. Cara pemupukan tanaman dapat dilakukan melalui media tanah dan melalui daun. Pemupukan melalui daun dapat dilakukan dengan penyemprotan.

Pemupukan Melalui Akar Tanaman
Pemupukan melalui Akar merupakan kegiatan pemberian segala macam pupuk kepada tanaman melalui akar. Tujuannya yakni mengisi tanah dengan hara yang dibutuhkan oleh tanaman, supaya tanaman yang ditanam di atasnya tumbuh subur dan memberikan hasil yang memuaskan serta berguna bagi pertumbuhan tanaman. Cara pemupukan tanaman yang dilakukan melalui akar dapat dilakukan dengan beberapa cara :

a. Broad Casting ( Disebar )
Memupuk melalui akar bisa kita lakukan dengan menyebar pupuk pada tanah atau disekitar area tanah akan ditanami pada saat melakukan pembajakan atau penggemburan tanah. Cara ini cukup bagus karena sebelum bibit ditanam, unsur hara pada tanah akan melimpah dan hasilnya tanaman akan sehat dan subur.

Pemupukan dilakukan dengan cara disebarkan merata pada tanah-tanah di sekitar pertanaman atau pada waktu pembajakan/penggaruan terakhir, sehari sebelum tanam, kemudian diinjak-injak agar pupuk masuk ke dalam tanah. Cara pemupukan ini biasanya digunakan untuk memupuk tanaman padi, kacang-kacangan dan lain-lain yang mempunyai jarak tanam rapat. Kerugian cara ini ialah merangsang pertumbuhan rumput pengganggu/gulma dan kemungkinan pengikatan unsur hara tertentu oleh tanah lebih tinggi.

b. Membuat lubang disekitar tanaman
Metode pemupukan tanaman selanjutnya adalah dengan membuat lubang disekitar akar tanaman. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pupuk meresap pada akar tanaman.

Pemupukan melalui akar juga dapat ditempatkan di antara larikan/ barisan. Pupuk ditaburkan di antara larikan tanaman dan kemudian ditutup kembali dengan tanah. Untuk tanaman tahunan ditaburkan melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus daun terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah. Pupuk dibenamkan ke dalam lubang di samping batang sejauh kurang lebih 10 cm dan ditutup dengan tanah. Untuk tanaman tahunan pupuk dibenamkan ke dalam lubang pupuk yang melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus dan terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah

Pemupukan Dengan Cara Disemprotkan Ke Daun
Pupuk yang dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi sangat rendah, kemudian disemprotkan langsung kepada daun dengan alat penyemprot biasa (Hand Sprayer). Pada hamparan yang luas dapat digunakan pesawat terbang. Namun yang perlu diingat adalah dosis pemupukan tidak boleh berlebihan, selain itu jika daun tanaman masih muda dan akan tumbuh tunas, tidak boleh dilakukan spraying ini. Setelah daun muda atau tunas muda menjadi ranting yang kokoh, maka spraying boleh dilakukan.

Penyemprotan diarahkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah karena jumlah mulut daun (stomata) lebih banyak dibagian bawah dari pada dibagian atas daun. Larutan pupuk disemprotkan dengan alat semprot (sprayer).

Larutan pupuk yang keluar dari nozzle dalam bentuk percikan kabut. Arah semprotan sesuai dengan arah angin. Bagian daun yang menghadap ke bawah. Penyemprotan larutan pupuk daun dilakukan tidak terlalu dekat.

Pupuk hendaknya disemprotkan ketika matahari tidak sedang terikteriknya. Paling ideal dilakukan sore hari (sekitar pukul 15.30 – 17.30) atau pagi hari (sekitar pukul 07.00-09.00), keadaan dimana matahari belum begitu menyengat. Kalau dipaksakan juga menyemprot ketika panas, pupuk daun itu banyak menguap daripada diserap oleh daun.

Penyemprotan pupuk daun jangan dilaksanakan menjelang musim hujan. Resikonya pupuk daun akan habis tercuci oleh air hujan dan lagipula pada saat seperti itu stomata sedang menutup.

Pemberian pupuk daun bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian pestisida kalau dianggap perlu, atau bersamaan dengan zat perangsang tumbuh (ZPT).

Budidaya Tanaman Mentimun

Mentimun (Cucumis sativus L.) adalah sayuran paling mudah diolah. Tidak perlu dimasak atau ditumis, cukup dicuci atau dikupas, dimakan ment...