Friday, 17 February 2017

Budidaya Padi Gogo


Oleh : Baranur W.P., S.T.P.

1. Lahan dan Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah harus disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan diolah. Lahan yang akan diolah tergantung kepada tipe penggunaannya.

Lahan-lahan tersebut dapat dibagi ke dalam 4 macam:

a. Lahan perladangan berpindah (Shifting Cultivation). Hutan atau semak belukar ditebang dan dibakar lalu ditanami. Setelah 2-3 tahun kesuburan tanahnya menurun, lahan tersebut ditinggalkan untuk menghutan kembali. Petani peladang akan berpindah ke tempat lain dengan cara yang sama seperti penggarapan awal. Bila siklus perpindahan dapat berlangsung dengan waktu yang cukup lama (di atas 20 tahun) mungkin tidak apa-apa, tetapi bila siklusnya sempit atau kurang dari 5 tahun, ekosistem akan menjadi kritis bhakan akan menjadi gundul atau menjadi padang alang-alang.

b. Lahan perlandangan berpindah modern (Modern Shifting Cultivation/ MSC), lahan perladangan ini dilakukan pada lahan hutan tanaman industry (HTI) atau tanaman perkebunan yang secara periodik ada peremajaan. Sebelum lahan sitanami tanaman hutan industri atau perkebunan, lahan tersebut dapat ditanami padi gogo atau palawija lainnya.

c. Lahan perladangan sistem tumpang sari (Intercultur) yaitu kelanjutan dari MSC yang lahannya telah ditanamai tanaman hutan industri (seperti: Jati, Rasamala, Mahoni, Akasisa, dll) atau tanaman perkebunan (seperti: Kelapa dalam, Kelapa sawit, Karet, dll) yang dalam proses peremajaan.Sistem tumpangsari dapat dilakukan sampai tanaman hutan industri atau perkebunan berumur 3 sampai 4 tahun atau naungan tanaman pokok samapi menutup 50%.

d. Lahan perladangan tetap (Permanent Cultivation), merupakan lahan ladang yang tetap ditanami padi gogo atau palawija lainnya secara tradisional.

Pengolahan tanah untuk padi gogo tergantung tipe lahan kering yang akan dikelola. Pada areal perladangan tetap dan areal tumpangsari, pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida, alat sederhana sampai mesin pertanian. Pada lahan perladangan berpindah dan perladangan berpindah modern pengolahan tanah hanya dapat dilakukan dengan herbisida dan alat sederhana seperti cangkul.

Pengolahan tanah yang paling baik adalah digarpu saat musim kering (kemarau), sehingga tanah bagian atas dibalik dan akar-akar atau rizome gulma seperti alang-alang diangkat. Selain itu membalik tanah di musim kering akan sangat mengurangi pertumbuhan gulma, bahkan gulma tidak dapat tumbuh sampai 2 bulan setelah tanam. Bila gulma tidak tumbuh sampai 2 bulan setelah tanam, pertanaman padi gogo tidak perlu disiangi karena tanaman sudah menutup.

2. Penggunaan Varietas Unggul dan Benih Bermutu

Benih merupakan bagian yang sangat penting dan paling utama, hal ini disebabkan produksi padi gogo lebih dari 50% ditentukan oleh kualitas benih yang baik. Benih varietas padi gogo yang telah dikeluarkan oleh BB Padi mempunyai potensi untuk meningkatkan produksi. Varietas padi gogo yang dapat dipilih adalah varietas: Batutegi, Situ Bagendit, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8 dan Inpago 9, dll. Potensi hasil varietas tersebut rata-rata bisa mencapai 8,4 ton/ha, sedangkan produksi padi lokal antara2,5 samapi 4 ton/ha.

Sebelum tanam sebaiknya benih diuji daya kecambahnya, dianjurkan daya kecambahnya diatas 90%. Menjelang tanama, benih diperlakukan dengan insektisida (seed treatment) agar terhindar dari hama yang menyerang tanaman muda, seperti lalat bibit dan hama kuuk/lundi atau mentul. Kebutuhan padi gogo sekitar 40-50 kg/ha. Pengaturan populasi diharapkan dapat mencapai sekurangnya 200.000 rumpun/ha. Bila populasi dapat mencapai optimal, tanaman akan cepat menutup dan dapat lebih bersaing dengan pertumbuhan gulma.


Tabel Varietas Unggul Padi Gogo Rakitan Badan Litbang Pertanian
Varietas
Potensi
Hasil
(Ton/ha)
Rata-rata
Hasil
(Ton/ha)
Umur Panen
(hari sejak sebar)
Keunggulan Lainnya
Inpago 4
6,1
4,1
124
Toleran Al (60 ppm), tahan blas daun dan blas leher
Inpago 5
6,2
4,0
118
Agak toleran Al (60 ppm), tahan blas daun dan blas leher, toleran kekeringan
Inpago 6
5,8
3,9
113
Agak toleran Al (60 ppm), tahan blas daun dan blas leher
Inpago 7
(beras merah)
7,4
4,6
111
Tahan terhadap penyakit blas ras 133, dan agak tahan ras 73, 173, dan 033
Inpago 8
8,1
5,2
119
Tahan tehadap penyakit blas ras 73, 173, 33, dan 133. Toleran terhadap kekeringan, agak toleran keracunan Al dan Fe.
Inpago 9
8,4
5,2
109
* Agak tahan tehadap penyakit blas ras 133, moderat ras 33 dan 173.
* Agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipr III.
* Agak tahan terhadap wereng batang  coklat biotipe 1.
* Baik ditanam dilahan subur di Jawa dan lahan PMK di Lampung.
Situ Bagendit
6,0
4,0-5,5
110-120
Agak tahan terhadap blas
Agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipr III



3. Waktu Tanam dan Tanam

Waktu tanam padi gogo sangat ditentukan oleh curah hujan dan distribusi hujan harian. Waktu tanam yang baik ialah bila curah hujan sudah mencapai 200 ml/bulan atau 60 ml per decade dengan 2-3 hari hujan. Penentuan waktu tanam dapat juga didasarkan kepada kedalaman basah tanah, yaitu bila tanah telah basah pada kedalaman 10-20 cm dari permukaan tanah, maka sudah dapat dilakukan tanam padi gogo.

Tanam padi gogo yang aman adalah dengan sistem tugal, karena benih dapat berada pada kedalaman 4-5 cm dan pada kelembabab tanah yang cukup setelah lubang tugalan ditimbun. Tanam tugal dilakukan untuk mengantisipasi curah hujan yang tidak menentu. Pada daerah-daerah yang curah hujannnya dapat diramalkan tetap, maka tanam padi gogo dapat dilakukan dengan sistem larikan. Kedalaman larikan hanya 2-3 cm saja, namun benih yang ditanamkan akan cepat tumbuh karena hujannya tetap dan hari hujan merata.

4. Pemupukan

Waktu pemupukan pertama adalah pada 10-15 hari setelah padi tumbuh (HSTb) dengan menggunakan NPK (15:15:15) sebanyak 200 kg/ha. Waktu pemupukan kedua yaitu pada umur 35-40 HSTb dengan takaran 50-75 kg urea/ha dan pemupukan ketiga pada saat premordia/ pembungaan dengan takaran 50-75 kg urea/ha. Pemupukan urea padi gogo disarankan jangan terlalu tinggi karena akan merangsang serangan penyakit blas, baik blas daun maupun blas leher. Kebutuhan atau dosis pupuk sabgat tergantung dari status kesuburan lahan. Untuk itu sebaiknya penentuan dosis pupuk dilakukan berdasarkan analisis hara tanah. Cara pemupukan pertama dan kedua sebaiknya dilakukan dengan cara larikan, setelah alur larikan berisi pupuk segera ditutup dengan tanah. Sedangkan pemupukan ketiga dengan cara disebar, karena tanaman padi gogo sudah menutup.

Waktu pemupukan kedua dan ketiga (pupuk urea susulan pertama dan kedua) supaya efisien, sebaiknya menggunakan ukuran standar dengan alat bagan warna daun (BWD). Bila nilai warna pengukuran di bawah 3, maka pertanaman harus segera dipupuk.

Kendala pemupukan padi gogo, ketika waktu pelaksanaan pemupukan, kondisis tanah harus dalam keadaan lembab atau setelah ada hujan. Bila saat tanaman harus dipupuk, tetapi kondisi lahan dalam keadaan kering, pelaksanaan pemupukan harus ditunda/ditunggu sampai ada hujan atau kondisi lahan lembab.


5. Penyiangan

Penyiangan padi gogo merupakan bagian yang sangat berat bagi petani padi gogo, hal ini disebabkan tumbuhnya rumput/gulma dapat lebih cepat dari padi gogo dan akan bersaing dengan tanaman padi gogo. Oleh karena itu pengendaliaan gulma sebaiknya dimulai pada saat sebelum atau beberapa hari setelah tanam benih.

Pada lahan yang diolah sederhana dengan cangkul atau dengan bahan kimia yang dilakukan padasaat kering, maka pada saat waktu tanam benih atau pada 1-2 hari sebelum tanam benih atau pada 1-2 hari setelah tanam benih, lahan diaplikasi dengan herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar maupun berdaun sempit. Penggunaan herbisida sebaiknya setelah biji gulma berdaun lebar atau berdaun sempit tumbuh atau berkecambah.

Secara umum penyiangan biasanya dilakukan 2 kali selama pertumbuhan padi gogo, penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 HSTb dan yang kedua pada umur 30-35 HSTb. Pelaksanaan penyiangan tidak semata-mata untuk menghilangkan gulma, tetapi juga seperti perlakuan pembumbunan tanaman padi gogo. Pada saat pembumbunan akan memotong akar primer, yang selanjutnya akan memacu pertumbuhan akar sekunder tanaman padi. Sebaiknya penyiangan dilakukan sebelum pelaksanaan pemupukan dasar atau pupuk susulan pertama. Pelaksanaan penyiangan juga disarankan pada kondisi lahan kering agar akar gulma yang terpotong cepat mati, bila dalam kondisi lembab gulma akan sulit mati dan akan cepat tumbuh lagi bila akarnya tertinggal.

Pada lahan yang diolah dengan alat garpu di musim kering untuk membalik tanah, maka gulma dimungkinkan tidak tumbuh sampai 2 bulan setelah tanam. Pada kondisi seperti ini, pertanaman padi gogo tidak perlu disiangi karena pada umur 2 bulan daun padi sudah menutup dan gulma akan kalah bersaing dengan padi gogo yang ditanam
   

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama daun, penggerek batang dan hama buah/gabah padi dapat menggunakan semprotan.Pengendalian hama padi gogo dengan semprotan terkadang sangat sulit, hal ini disebabkan tidak ada air pada saat akan diaplikasi padahal kerusakan oleh hama atau populasi hama sudah mencapai ambang ekonomi. Salah satu usaha adalah dengan menggunakan perlakuan benih (seed treatment), dan pada setiap pemupukan pupuk dicampur dengan insektisida bentuk butiran yang sitemik. Hama-hama yang biasa menyerang padi gogo adalah pemakan dan penghisap tanaman, penggerek batang padi, penggorok daun, dan pembuat furu.


Tabel Beberapa jenis hama tanaman yang biasa menyerang/merusak tanaman padi gogo
Cara Makan Hama
Nama Hama
Penghisap
Batang
Wereng Coklat (Nilaparvata lugens)

Daun
Wereng Hijau

Bulir
Walang Sangit (Leptpcorisa sp), Kepik (Nezara sp)                                                
Pemakan
Daun
Belalang Padi (Oxya Chinensis), Belalang nyungcung (Atractomorpha sp), belalang jongrang (Acrida sp), belalang kayu (Valanga nigricornis), belalang kembara (Lucusta migratoria), pelipat daun (Cnaphalocrosis medinalis)

Batang
Anjing tanah = orong-orong = gang (Gryllotalpa afiricana), lalat bibit (Atherigona sp), tikus

Akar
Uret = kuuk (Holotrichia helleri), mementul
Penggerek Batang
Penggerek batang padi putih (Schirpophaga innota), Penggerek batang padi kuning (Schirpophaga incertulas), Penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens), Penggerek batang kepala hitam (Chilo Polychrysus), Penggerek batang bergaris (Chilo Suppressalis)
Penggorok Daun
Hispa
Pembuat Furu
Ganjur (Orseolia oryzae)


Penyakit yang banyak menyerang padi gogo adalah blas (Pyricularia grisea). Penyakit ini dapat dikendalikan dengan menyemprotkan fungisida pada saat anakan maksimum dan 5% berbunga. Fungisida yang dapat dipakai dengan bahan aktif Klorotalonil, Metil Tiofanat,dsb.

7. Panen dan Pasca Panen

Pelaksanaan panen padi gogo adalah sama dengan panen padi sawah. Panen padi gogo varietas unggul baru (VUB padi gogo) dengan cra diarit pada pangkal batang dan merontoknya dengan digiles atau digebot. Hasil panen dijemur dan setelah kering disimpan dalam karung.


Sumber:
Tabloid Mingguan Sinar Tani, Edisi 31 Oktober-08 November 2012, No.3480 Tahun XLIII, Hal.19

Thursday, 16 February 2017

Pengertian dan Jenis OPT serta Batasannya


OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) mempunyai peranan yang sangat penting pada tanaman mengingat bahwa akibat serangan OPT dapat menyebabkan kehilangan hasil yang sangat fatal terutama secara ekonomis. Jadi, OPT adalah organisme yang merusak tanaman dan secara ekonomi merugikan manusia didalam kegiatan pembudidayaan tanaman.

OPT terdiri dari:
* Hama, adalah golongan binatang atau serangga yang mengganggu tanaman
* Penyakit, adalah golongan organisme dan jasad renik yang mengganggu proses fisiologis tanaman
* Gulma, adalah golongan tanaman yang tidak dikehendaki pertumbuhannya

Batasan antara Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan bukan OPT tidak begitu jelas, tergantung manusia yang menilainya. Misalnya petani A dan B sama sama menanam kangkung. Petani A memasarkan kangkungnya ke supermarket, sedangkan petani B memasarkan ke pasar biasa. Suatu saat tanaman kangkung  A dan B dirusak oleh kumbang pemakan daun Epilachna, Supermarket tidak mau menerima kangkung yang daunnya berlubang lubang. Dalam hal demikian petani A menganggap Epilachna sebagai OPT, karena secara ekonomi telah merugikan. Sebaliknya petani B tidak menganggap epilachna sebagai hama, karena secara ekonomi belum merugikan


Pengertian Beras dan Macam Warna Beras


Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut ‘palea’ (bagian yang ditutupi) dan ‘lemma’ (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Beras umumnya tumbuh sebagai tanaman tahunan. Tanaman padi dapat tumbuh hingga setinggi 1 - 1,8 m. Daunnya panjang dan ramping dengan panjang 50 - 120 cm dan lebar 2 - 2,5 cm. Beras yang dapat dimakan berukuran panjang 5 - 12 mm dan tebal 2 - 3 mm. Beras dari padi ketan disebut ketan.

Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari
* aleron; lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit,
* endosperma; tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan
* embrio; yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan. Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

Kandungan Gizi Beras


Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat: amilosa (pati dengan struktur tidak bercabang) dan amilopektin (pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket). Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue-kue, utamanya dari ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan komponen penting bagi jamu beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan air tajin.

Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras. Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.

Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang berwarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2.800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Nio (1992) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiamin nya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg). Kekurangan tiamin bisa mengganggu system saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, kesemutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang.

Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi, asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

Warna Beras

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.

Beras putih, sesuai namanya, berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.
Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.
Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.
Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.
Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.

Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.


Herbisida berdasarkan Bahan Aktif


Penggunaan Herbisida berdasarkan bahan aktif di bagi menjadi berbagai jenis, karena setiap bahan aktif mempunyai fungsi dan cara kerja yang berbeda.

1.   Glufosinate-ammonium
Cara Kerja
* Kerja herbisida glufosinate-ammonium sebenarnya berdasar pada penonaktifan dari sintesa enzim glutamine.
* Sintesa Glutamine menyebabkan reaksi dari ammonia dan glutamic acid untuk membentuk glutamine. Ammonia, sebuah zat yang sangat phytotoxic untuk sel tanaman terbentuk pada waktu proses biokimia tanaman, tepatnya pada saat pengurangan nitrate, metabolisme amino acid dan photo-respiration.
* Adanya fakta bahwa enzim dinonaktifkan oleh glufosinate, ammonia dapat terkumpul dalam sel tanaman dan menyebabkan necrosis pada lapisan tanaman yang akhirnya menyebabkan kematian tanaman.
* Kecepatan aksi tergantung pada kondisi eksternal; seperti kelembapan udara, suhu dan kadar air dalam tanah.
* Pengambilan glufosinate-ammonium oleh tanaman biasanya dilakukan melalui hijau daun dan tumbuhan yang tumbuh dengan aktif.

2.   Glifosat
Herbisida bahan aktif Glifosat merupakan herbisida yang bersifat sistemik bagi gulma sasaran. Diantara keempat jenis bahan aktif tersebut, glifosat merupakan herbisida bahan aktif yang paling banyak dipakai diseluruh dunia. Selain sifatnya sistemik yang membunuh tanaman hingga mati sampai ke akar-akarnya, juga mampu mengendalikan banyak jenis gulma seperti Imperata cylindrica, Eulisine indinca, Axomophus comprsseus (pahitan) , Mimosa invisa (putri malu), Cyperus iria (teki), Echinocloa crussgali (jajagoan) dan lain-lain. glifosat, herbisida terpenting di dunia saat ini  adalah herbisida translokasi, menghambat kerja enzim 5-enolpyruvylshikimate-3-phosphate synthase (EPSPS), enzim yang terlibat dalam sintesa tiga asam amino.

Lim et al. (1999) melaporkan bahwa penggunaan glifosat menyebabkan terjadinya suksesi gulma ke dominansi gulma berdaun lebar. Faiz (1989) melaporkan bahwa penyemprotan campuran glifosat secara berturut pada karet dewasa (TM) untuk general weed control menyebabkan dominansi Borreria alata, senduduk (Melastoma malabathricum), dan alang-alang (Imperata cylindrical). Suksesi gulma terkait-erat dengan bagaimana herbisida tersebut bekerja (mode of action). glifosat ditranslokasi dari bagian dedaunan sampai ke bagian akar dan bagian lainnya merusak sistem keseluruhan di dalam tubuh gulma.

Glifosat memiliki daya bunuh yang tinggi terhadap rerumputan dan sering mengeradikasi gulma rerumputan lunak seperti Paspalum conjugatum dan Ottochloa nodosa sehingga akhirnya tanah menjadi terbuka. Kesempatan seperti ini memberi kesempatan bagi banyak biji-biji gulma berdaun lebar untuk berkecambah dan akhirnya menjadi dominan (Tjitrosoedirjo dan Purba, 2006). Dominansi gulma berdaun lebar sering cenderung lebih merugikan karena lebih sulit dikendalikan. Gulma lunak seperti O. nodosa, P. conjugatum dan A. compressus perlu dipertahankan pada pertanaman kelapa sawit (Teoh, 1984). Gulma rerumputan seperti ini dikategorikan sebagai kelas B yang bermanfaat dan memerlukan kurang pengendalian B (Anon, 1972). Pemakaian glifosat secara terus-menerus sering menyebabkan terjadinya eradikasi (pemusnahan) gulma lunak sedangkan dengan parakuat campuran memperlihatkan kebalikannya (Khairudin & Teoh, 1992).

3. Parakuat
Herbisida ini merupakan herbisida kontak yang umum digunakan untuk purna tumbuh. Herbisida yang berbahan aktif Parakuat ini sangat cocok digunakan oleh mereka untuk yang ingin mengolah lahan secara cepat dan segera. Hal ini karena daya kerja parakuat begitu cepat dimana setelah aplikasi , hasilnya dapat terlihat 1 jam kemudian, sehingga dalam waktu 3 – 4 hari berikutnya lahan bisa ditanami. Adapun contoh herbisida yang berbahan aktif parakuat di Indonesia yaitu Sidaxone 276SL dan Gramoxone. Parakuat merupakan herbisida kontak yang mematikan tumbuhan dengan cara merusak membran sel. Menurut Chung (1995) pemakaian paraquat memiliki keunggulan dalam hal suksesi gulma, fitotoksisitas, dan rainfastness. Parakuat, herbisida kontak, menyebabkan kematian pada bagian atas gulma dengan cepat tanpa merusak bagian sistem perakaran, stolon, atau batang dalam tanah, sehingga dalam beberapa minggu setelah aplikasi gulma tumbuh kembali.

4.   Metil Metsulfuron
Herbisida yang berbahan aktif metil metsulfuron ini merupakan herbisida sistemik dan bersifat selektif untuk tanaman padi. Herbisida ini dapat digunakan untuk mengendalikan gulma pra tumbuh dan awal purna tumbuh. Beberapa gulma yang mapu dikendalikan oleh herbisida ini antara lain: Monocholria vaginalis (eceng gondok), Cyperus diformis (teki), Echinocloa crusgalli (jajagoan), semanggi serta gulma lain yang tergolong pakis-pakisan. Aplikasi anjuran yang disarankan untuk penggunaan herbisida ini adalah 2.5 gram untuk setiap tangki 14 liter.

5. 2,4 – D
2,4 – D termasuk salah satu bahan aktif herbisida yang paling dikenal. Sifat herbisida ini kurang lebih hampir sama dengan metil metsulfuron yaitu sistemik dan selektif. Herbisida ini dapat digunakan untuk mengendalikan gulma purna tumbuh baik yang berdaun lebar maupun teki pada padi sawah. Adapun beberapa jenis gulma yang dapat dikendalikan dengan herbisida 2,4-D ini antara : Monochoria vaginalis (eceng), Spenochlea zeylanica, Cyperus iria (teki), Limnocharis flava (genjer), kankung, keladi dan lain-lain.

6. Methribuzin

7. Triklopir

8. Oksifluorfen

9. Amethrin

10. Diuron

11. Fenoksaprop-p-etil

12. Thiobenkarb

13. dll

Sumber :
http://mustikatani.wordpress.com/pengertian-herbisida/
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/jenis-herbisida-berdasarkan-bahan-aktif.html


Herbisida berdasarkan Cara Kerja


A. Herbisida Kontak
Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung cepat mematikan atau membunuh jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas.

Di dalam jarinngan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang ditranslokasikan. Jika ada, bahan tersebut ditranslokasikan melalui phloem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan gulma dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian, rotasi pengendalian menjadi singkat. Herbisida kontak memerlukan dosis dan air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan gulma dan diperoleh efek pengendalian aktifnya yang lebih baik.

Herbisida kontak juga yang bekerja dengan cara menghasilkan radikal hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh konfigurasi sel. Herbisida kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup yang terkena larutan, jadi bagian tanaman dibawah tanah seperti akar atau akar rimpang tidak terpengaruhi. proses kerja pada herbisida ini pun sangat cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis.

Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan. Kelemahannya, gulma akan tumbuh kembali secara cepat sekitar 2 minggu kemudian dan bila herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses kerjanya tidak berpengaruh pada gulma. Contoh Bahan Akif herbisida kontak adalah paraquat diklorida.


B. Herbisida Sistemik
Herbisida sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan ke seluruh tubuh atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai keperakaran atau sebaliknya. Cara kerja herbisida ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman pengganggu tanaman budidaya (gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara menganggu proses fisiologi jaringan tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke perakarannya.

Keistimewaannya, dapat mematikan tunas–tunas yang ada dalam tanah, sehingga menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya hampir sama merata ke seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian, proses pertumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama (panjang). Penggunaan herbisida sistemik ini secara keseluruhan dapat menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya aplikasi. Herbisida sistemik dapat digunakan pada semua jenis alat semprot, termasuk sistem ULV (Micron Herbi), karena penyebaran bahan aktif ke seluruh gulma memrlukan sedikit pelarut.

Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik, yaitu:
> Gulma harus dalam masa pertumbuhan aktif
> Cuaca cerah waktu menyemprot.
> Tidak menyemprot menjelang hujan.
> Keringkan areal yang akan disemprot.
> Gunakan air bersih sebagai bahan pelarut.
> Boleh dicampur dengan herbisida dengan bahan aktif 2,4 D amina atau Metsulfuron.

Pemakaian suatu jenis herbisida secara terus menerus akan membentuk gulma yang resisten sehingga akan sulit mengendalikannya. Guna mengantisipasi kelemahan tersebut diatas adalah dengan mencampurkan dua herbisida (Akobundu, 1987). Pencampuran dua jenis herbisida telah dilakukan sejak lama dengan tujuan untuk memperluas spektrum pengendalian gulma, mengurangi resistensi gulma terhadap salah satu herbisida sehingga mencegah vegetasi gulma yang mengarah ke homogen.

Contoh Bahan Akif herbisida Sistemik adalah IPA Glifosat, 2,4 D Amina, Amethrin, Diuron, Metil Metsulfuron, Methribuzin, Klomazon, Triklopir, dll.

Herbisida klomazon merupakan herbisida sistemik, diberikan pre emergence pada permukaan tanah. Herbisida ini akan diserap oleh akar tanaman dan ditranslokasikan ke atas dan tinggal di daun. Herbisida ini memberikan efek penghambat pembentukan karotenoid, sehingga menyebabkan pemutihan kloroplas. Herbisida klomazon dapat digunakan untuk mengendalikan gulma golongan teki dan gulma daun lebar, sedangkan metribuzin dapat digunakan untuk mengendalikan gulma golongan rumput dan daun lebar. Cara kerja herbisida mertibuzin adalah mengganggu aktivitas fotosintesis.

Pencampuran dua jenis herbisida membuat makin bertambahnya efektifitas dan ekonomis dalam metode pengendalian gulma. Pencampuran kedua jenis herbisida ini akan memperlihatkan hubungan satu bahan dengan bahan yang lain yang dinamakan dengan interaksi. Ketika dua atau lebih bahan kimia terakumulasi di dalam tanaman, mereka melakukan interaksi dan respon ditunjukkan keluar menghasilkan reaksi yang berbeda ketika bahan kimia tersebut diberikan sendiri-sendiri. Interaksi ini bisa bersifat sinergi, adidtiv atau antagonis.

Sumber:
http://baranur-agriscience.blogspot.com/2013/05/jenis-herbisida-berdasarkan-cara-kerja.html


Pengertian Pestisida


Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman.

Dalam peraturan pemerintah No. 7 Tahun 1973 disebutkan pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

  • Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian;
  • Memberantas gulma;
  • Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan;
  • Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk; 
  • Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan;
  • Memberantas atau mencegah hama air;
  • Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga;
  • Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air. 

Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas.

Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama (walaupun secara prakteknya memang untuk membunuh/membasmi/memberantas serangga/hama), namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali.

Dalam  pengendalian hama tanaman secara terpadu, pestisida adalah sebagai alternatif terakhir. Namun pada kenyataannya di lapangan, masih banyak petani yang menggunakannya kurang sesuai anjuran yang tertera dalam tiap kemasan pestisida. Oleh karena itu, baik pemerintah maupun swasta harus terus menerus memberi penyuluhan tentang bagaimana penggunaan pestisida secara aman dan benar.  Aman terhadap diri dan lingkungannya serta cukup ekonomis, benar dalam arti 6 tepat (6T) (tepat jenis pestisida, tepat cara aplikasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat takaran) plus tepat harga.

Writed by : baranur


Wednesday, 15 February 2017

6 (enam) Te dalam Aplikasi Pestisida


Pestisida merupakan alternatif terakhir dalam sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pestisida baru digunakan jika tingkat serangan organisme pengganggu tanaman sudah melebihi ambang ekonomi, atau populasinya telah mencapai ambang pengendalian. Saat ini, pestisida yang beredar di pasaran sangat banyak bahkan satu jenis bahan aktif bisa lebih dari 3 merek dagang. Oleh karena itu, penggunaan pestisida sebaiknya memperhatikan 6 Te (tepat), yaitu : tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara atau tepat aplikasi dan tepat harga.

1. Tepat Jenis.
Pestisida adalah semua bahan yang berpotensi membunuh organisme pengganggu. Jenis pestisida yang digunakan dipengaruhi jenis organisme pengganggu tanaman (OPT).  Jenis pestisida berdasarkan fungsi penanganan OPT antara lain Insektisida, Fungisida, dan Herbisida.
Contohnya untuk mengendalikan penggerek batang padi jenis pestisida yang digunakan adalah insektisida, yaitu pestisida yang digunakan untuk membunuh/membasmi serangga.

Jadi, Tepat Jenis maksudnya gunakan jenis pestisida yang tepat berdasarkan jenis OPT yang ditangani. Insektisida untuk OPT Hama, Fungisida untuk OPT Penyakit, dan Herbisida untuk Gulma.

2. Tepat Sasaran
OPT setiap jenis budidaya tanaman berbeda-beda. Salah satunya Hama yang mempunyai beberapa jenis organisme seperti Nematoda, Acarina (tungau), Serangga (Hexapoda), dll.
Contohnya untuk mengendalikan penggerek batang padi digunakan insektisida yang bersifat sistemik dan translaminer. Bahan aktif insektisida yang mempunyai sifat seperti yang dibutuhkan antara lain Dimehipo, Imidakloprid, Karbofuran dan Fipronil.

 Jadi, Tepat Sasaran maksudnya gunakan jenis pestisida salah satunya insektisida sesuai dengan Organisme Hama yang menjadi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terhadap budidaya tanaman yang di tanam.

3. Tepat Waktu
Penggunaan Pestisida yang tepat waktu agar efektif dalam mengendalikan  OPT. Bila aplikasi pestisida dilakukannnya dengan cara semprot maka sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena pada saat itu mulut daun (stomata) sedang membuka, sehingga bahan aktif mudah masuk ke dalam jaringan tanaman.

4. Tepat Dosis
Dosis adalah takaran, jumlah atau banyaknya pestisida yang digunakan pada suatu lahan.

5. Tepat Cara/ Aplikasi
Aplikasi yang tepat cukup menentukan efektifitas dan efikasi penggunaan pestisida. Ini biasanya berkaitan dengan formulasi pestisida dan alat yang digunakan.

6. Tepat Harga
Jumlah pestisida yang beredar di pasaran saat ini sangat banyak. Untuk memutuskan pestisida yang akan digunakan tidak hanya berdasarkan cara kerja dan bahan aktifnya saja, namun juga perlu mempertimbangkan harganya. Jangan terjebak harga mahal dan merk terkenal.


Budidaya Tanaman Mentimun

Mentimun (Cucumis sativus L.) adalah sayuran paling mudah diolah. Tidak perlu dimasak atau ditumis, cukup dicuci atau dikupas, dimakan ment...